Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

gravatar

NN






Sekawan  awan  nasab  di  atas  laut. 
Menyaring  warna  langit  pecah.
Menadah  cakrawala  yang  darah. 
Matahari  diserap  persujudan  barat.
Burung-burung  rafa'  mengepak  sayap.
Senyap,  lenyap,  dikurung lengkung langit. 
Aku  masbuq---bertahajud.
Di jantung-tunas penyaksian.
Lantas  hujan  itu,  serupa  batu  berjatuhan  meremukan  wujudku. 
Sebab wujudku  adalah  deritaku. 
Malam  membungkamku,  di  semua  yang melidah indah: menyebut namamu.

Angan melintang pandang, disebut mulut, meniti hati: tak hilang datang.
Beban diam menerkam.
Kau tak pernah lenyap dalam ketidakhadiranmu.
Aku  hanya  tahan[an]  dalam  perang  ini. 
Rantai  dijebloskan  di  ungkapan tentangmu. 
Bulan  berenang  saat  angin  membelah  seluruh  celah  tubuh.
Keliar  pandang  nyisa  kelakar digelar  candikala. 
Kemana  mata  kalah tak menemukanmu,  aku  menyanggah:  melangkah  ke  segala  arah. 
mata.
Angin.


'Muhammad Tri Muda'i 


NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

'Aku Tulis Pamplet Ini' (I Write This Pamphlet)



Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah.
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng - iya - an.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar pikiran.


I write this pamphlet
because the institutions of public opinion
are covered in cobwebs.
People talk in whispers,
and self-expression is suppressed
ending up as mere acquiescence.

I see no reason
why we should sit here in enforced stupor.
I would like us to engage in a fair exchange of views.

'Rendra






NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!


gravatar

Sajak Mata-Mata' (Poem of Spies)



Ada suara bising di bawah tanah.
Ada suara gaduh di atas tanah,
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya,
ada tentara marah-marah.


Mata Rakyat sudah dicabut.
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata pemerintah juga diancam bencana.
Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
Terasing di belakang meja kekuasaan.
Mata pemerintah yang sejati
Sudah diganti mata-mata.



There are whispers underground
There are noisy voices above ground
There are confused words going from one house to another
There is indistinct weeping out in the rice fields.
And look, right behind me,
There are angry soldiers too.

The people's eyes have been torn out.
They grope around among rumours and intrigues.
The government's eyes are also threatened with disaster.
The eyes of government wear dark glasses,
Isolated behind the desks of power.
The true eyes of government
Have all been replaced by spies.


''Rendra






NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

CETUSAN KALBU MENGUNGKAP FAKTA



INILAH jeritan hati seorang Narapidana politik Muslim, korban kezaliman rezim Soeharto,
semasa Beny Moerdani  menjadi Pangab dan Try Sutrisno  sebagai Kasad. Ditulis pada 1986 di
L.P. Permisan Nusakambangan, setelah Sang Napol divonis 13 tahun penjara karena dituduh
bercita-cita mendirikan Negara Islam, dan mempublikasikan pikiran-pikiran “subversi” tersebut
melalui Tabloid Ar-Risalah yang dipimpinnya.


Pernahkan anda rasakan
bagaimana tersenyum di tengah derita?
Kusaksikan sendiri siksa di atas siksa
ditimpakan atas diri mujahid-mujahid muda, pembela risalah-Nya
Ketika kayu pemukul dan pentungan besi
Dihamtamkan pada tubuh-tubuh lunglai
Ketika kuku jemari dicabuti, kumis dan jenggot dibakar
dan tubuh dililit kawat bermuatan listrik
lalu kata-kata kotor menghina, terlontar dari mulut beracun para durjana
Sembari menyemburkan pertanyaan-pertanyaan menjebak,
di sekitar dakwah dan ide mendirikan negara Islam
Guna harapkan sepotong kata sesal dari lisan tak berdaya
Hanya takbir dan do’a pengawal tubuh berselimut luka
Seulas senyum pun tersungging
mengiringi kemenangan iman menghadapi siksa
Fakta dan pengalaman di balik penjara,
menjadi bukti kebenaran berita al-Qur’an
“Bila mereka dapat menangkapmu


Mereka akan menyakitimu dengan tangannya
Dan mencacimu dengan mulutnya”
Tapi manusiawikah menyerang ketakberdayaan dengan
keganasan binatang?
September 1984: Peristiwa Tanjung Periok terjadi
Manusia ditembak bagai binatang buruan
Awal 1989: Tragedi Lampung Berdarah
Laki-laki dibunuh dituduh pembangkang
Bayi, anak-anak dan ibu mereka jadi sasaran kemarahan
Dipanggang hidup-hidup, di dalam rumah yang sengaja dibakar
Limapuluh orang ibu-ibu, 80 orang anak-anak pria dan wanita
Akhirnya jadi korban pembantaian yang biadab
Menyusul pembunuhan muslim Aceh 1990
Jasad manusia bergelimpangan di jalanan
Di negeri ini malapetaka laksana gelombang
datang susul menyusul menimpa ummat Islam
Rezim orde Baru berdiri di atas tengkorak generasi muslim
kaki tangan mereka berlumur darah orang tak berdosa
Membunuh mereka demo stabilitas Nasional?
Ataukah tumbal bagi langgengnya kekuasaan?
Di tengah situasi dimana kezaliman diperagakan jumawa
Adakah mata titikkan airnya tangisi ummat ini
Masih adakah telinga dengarkan ratap mereka
Agaknya peduli pun orang khawatir
Menjadi syetan bisu pilihan yang aman
Tapi para durjana punya jawabnya  yang bikin luka hati kian menganga
“Peristiwa itu ibarat virus kecil
Yang berusaha guncangkan tubuh yang sesat
Tak usah dipermasalahkan lagi, mereka yang mati hanya kecil saja
Ummat Islam berjuta-juta jumlahnya, harus dapat membedakan
Mana ajaran yang benar dan mana ajaran berkedok agama”
Bagai dajjal si buta sebelah, menghasut ummat tanpa rasa salah
Manakala para durjana perlihatkan jati dirinya
Lewat keganasan dan logika tentara
Iman dan akal fikiran faham soalnya
Tetapi jika mereka yang mengaku beriman dan tokoh agama
Ikut melecehkan perjuangan mujahid dakwah
Dan menganggap enteng pengorbanan mereka,
lalu melontarkan kutukan keji, menjadi agen kezaliman lewat fatwa
“Pemerintah telah bertindak benar, membasmi pengacau negara “
Kemudian menjadi alasan bertindak bagi Fir’aun
Duhai, dimanakah persaudaraan iman dan harga diri mukmin
Bukankah, berjuang menegakkan syari’at Allah
Kewajiban ummat Islam seluruhnya
Bukankah tumpahkan darah tanpa haq adalah dosa?
Menyetujui kejahatan demikian, apakah juga bukan dosa?
OHO...agaknya syetan telah belokkan hati nan jernih
Ketahuilah, Fir’aun terkenal lantaran zalim
Bal’am dilaknat sebab khianat pada agama
Lalu dengan apakah Anda dikenal dan diperkenalkan?
Terhadap petakan dan rintihan yang diderita saudara seagama
Anda malah mengelak tanggung jawab
Padahal hancurnya nasib ummat adalah taruhannya
Na’udzubillahi min dzalik




NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Belum saatnya aku pergi.

untuk temanku "cokil"



Berapa banyak lagi penderitaan dalam dunia ini.
Berapa banyak lagi manusia mati di tengah jalan.
Berapa banyak lagi dendam dan marah menggerogoti hati manusia.
Berapa banyak lagi segala hal harus terus diulang.
 

Lama sekali dunia ini berakhir, sangat lama!!
Aku rindu ayahku...,
Aku rindu ibuku...,
Aku rindu kakak dan adikku
Aku rindu mereka, mereka semua yang sudah mati...
 

Kalau aku mau, ku kan tinggali segera dunia ini
Kalau aku egois, ku kan tinggali orang-orang yang mencintaiku
Kalau aku tidak peduli, kulupakan saja mereka yang berjuang untuk kehidupanku hingga hari ini
Tetapi siapakah aku?...,
Siapa kau?....,
Siapa kamu?....
Siapa kita?....yang berani mengakhiri hidupnya sendiri.
 

Aku ingat..,
Ku ingat Tuhanku, Dia yang menjadikanku dan Dia perduli akan hidupku
Terpujilah Tuhan yang penuh belas kasihan
Sumber segala penghiburan...yang menghibur didalam segala penderitaanku
Sehingga aku sanggup menghibur mereka.
Mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan
Dengan penghiburan yang aku terima dari Tuhanku.

Belum saatnya aku pergi.




NOTE: You are welcome to share my poem with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

WAKTU







Menurut tabiatnya manusia adalah sama.
Manusia ingin mempertahankan diri.
Dalam kebebasannya, dalam keinginannya dan dalam menguasai orang lain. 

Keinginan itu disebabkan oleh naluri manusia yang cenderung untuk mempertahankan dirinya sendiri.
Saat itu hanya ada hukum alam, bebas berbuat dan bebas untuk memiliki. 


Akibatnya yang terjadi mereka bertengkar...., 
mereka berkelahi...., 
mereka saling membunuh dan terjadilah perang total.
Semua orang memerangi semua orang. Hidup menjadi buruk, kasar dan singkat.
Karena didalam perang total kebajikan pokok adalah kekuatan dan kecucarangan.






"Dithelen
NOTE: You are welcome to share my poem with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

 

gravatar

PARA DEWAN dan PARTAI KONDANG juga PEMIMPIN SEJATI

(Saduran Para Filsuf kondang)




Kau telah melayani rakyat serta tahyul-tahyul rakyat- bukan kebenaran!.
Kau semua para 'Dewan kondang'! dan tepatnya karena inilah mereka menghormatimu.
Karena ini pula mereka mentolerir ketidakpercayaan(keserakahan) mu,
karena itu adalah dagelan dan jalan pintas bagi rakyat.

Maka sang juragan (pemerintah) menyenangkan para budaknya (Parlemen) bahkan terhibur oleh kepongahan mereka.
Tetapi ia yang dibenci rakyat adalah bagai "serigala" (militer) ke anjing-anjing(yudikatif) ;
ia adalah sang spirit bebas, musuhnya sengketa-sengketa,
tidak memuja apa-apa, tinggal di hutan-hutan.
Memburu ia dari sarangnya....

Rakyat selalu menamakan ini "HAK" ;
Tetapi mereka selalu menyediakan "anjing-anjing bergigi tertajam" (Yudikatif) baginya.
Karena dimana ada rakyat, disitu ada kebenaran!
terkutuklah, terkutuklah ia yang "mencari-cari"(memperkaya diri) !,
Hal ini selalu demikian sedari mulanya.

Kau mencari bukti akan kesahihan rasa hormat rakyat ;
ini yang kau namakan "kemauan pada kebenaran"(undang-undang), kau para dewan kondang.
Dan hatimu selalu berkata pada dirimu sendiri;
"Dari rakyat kami datang; dari mereka pula suara Tuhan itu datang pada kami."
Banyak penguasa yang mau rukun dengan rakyat,
telah mengikat diri di depan kudanya- seekor keledai kecil, si 'dewan kondang'!.


(CHAPTER 2)



Dan sekarang kau para ‘Partai kondang’,
aku minta kau untuk menanggalkan kulit singa dari badanmu itu.
Kulit binatang pemangsa, kulit bertutul dan rambut gembelnya sang yudikatif, sang legislatif, sang eksekutif !....

Ah, bagiku untuk bisa mempercayai "kesejatian" mereka, harus musti pada awalnya menghancurkan kemauan mereka untuk mencari-cari kepada dalil pengabdian.
kesejatian ; ini adalah yang kalian namakan ia yang pergi ke padang-padang pasir sunyi dan mematahkan hati pengabdiannya.
Di pasir kuning dan terbakar oleh sinar surya, mungkin ia menatap dengan tajam dan kehausan di pulau-pulau yang kaya dengan mata air, dimana segala kehidupan beristirahat di bawah bayang-bayang pepohonan.
Tetapi dahaganya tidak membujuk ia untuk menjadi serupa dengan mahluk-mahluk senang;
Karena dimana ada oasis-oasis disana ada berhala-berhala.


Lapar, berangasan, sendirian, tanpa Tuhan : seperti itulah partai kondang itu ingin untuk menjadi.
bebas dari kebahagiaan-kebahagiaan pelayan-pelayan, bebas dari tuhan-tuhan dan pemujaan, tidak takut dan di takuti, megah dan sendirian ; begitulah kemamuan pemimpin sejati dalam partai kondang.



Para pemimpin sejati, para partai kondang selalu hidup dipadang pasir,
sebagai juragan-juragan padang pasir...
Tetapi dikota-kota, hidup makmur para dewan kondang ; para binatang penghela beban.
Karena mereka selalu menarik, bagai keledai-keledai pedati rakyat.


Jadi, haruskah aku murka kepada mereka akan hal ini?...
Ah sudahlah, mereka tetap saja para pelayan dan para binatang dalam kekang.
Bahkan jika pun mereka berkilauan dengan pakaian emas,
Mereka tetap saja para binatang dalam kekang.


'Dithelen
NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!


gravatar

Manusia & Tuhan : Malaikat & Setan




Kau berkata padaku "hidup adalah berat untuk dijalani".
Tetapi mengapa engkau memiliki keangkuhan dipagi hari dan menarik diri dimalam hari (Hedonisme).
Hidup adalah berat untuk dijalani: tetapi jangan berpura-pura menjadi suci (Malaikat).
Kita semua adalah keledai sehat dan keledai-keledai pengangkut beban!.

Apa persamaan antara kita dengan bunga mawar, bergetar oleh setetes embun yang jatuh keatasnya?
kita mencintai hidup, bukan karena kita terbiasa akan hidup, melainkan kita terbiasa akan cinta. Selalu ada kegilaan dalam cinta.
Tetapi selalu ada beberapa cara tertentu dalam kegilaan.
Dan begitupun diriku, yang menghargai hidup ini; kupu-kupu dan gelembung-gelembung busa tampaknya banyak menikmati kebahagiaan.

Aku hanya percaya kepada Tuhan yang bisa menari.
Dan ketika aku memperhatikan setanku (kedagingan), aku mendapatkan ia begitu serius, teliti, mahadalam, khusyuk. ia adalah si spirit Grafitasi- melaluinya segala apapun jatuh hancur.

Bukan dengan amarah seseorang itu membunuh, tetapi dengan gelak tawa.
Mari, kita bunuh si spirit Grafitasi!!
Sekarang aku sudah belajar berjalan, sejak itu aku bisa berlari.
Aku sudah belajar terbang, sejak itu aku tidak butuh dorongan untuk bergerak.
Sekarang aku ringan, sekarang aku terbang, sekarang aku melihat hidupku di bawah diriku, sekarang Tuhan menari didalam diriku.


'Dit helen
NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!


gravatar

Menyadari..




kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.


Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya,
melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh,
entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang,
bukan karena orang itu berhenti mencintai kita,
melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

kadangkala,
orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memberi jarak, dan bila suatu saat pergi,
kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari

‘Dit
18feb 2010


NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!


gravatar

“Dialah orang yang selama ini kutunggu"




Carilah seorang pria yang memanggil mu cantik, bukan hot / sexy
Yang menelepon kembali ketika kamu menutup telpon
Yang mau tiduran di bawah bintang dan mendengar detak jantungmu
Atau mau tetap terbangun untuk melihatmu tidur.

Tunggulah seorang laki-laki yang mencium dahimu
Yang mau memamerkan dirimu pada dunia ketika kamu sedang keringetan
Yang menggenggam tanganmu di depan teman-temannya
Yang menganggap kamu tetap cantik tanpa riasan.

Seseorang yang selalu mengingatkan kamu, betapa besar kepeduliannya padamu
dan betapa beruntungnya dia memilikimu..
Seseorang yang berkata pada temannya:
“dialah orangnya yang selama ini kutunggu”

‘Dit
06 april 2010

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

"BUKAN MALAM INI"




Sang terang bulan menjadi saksi
Gelap malam perlahan berubah menjadi merah darah
Tubuh menahan derita dan napas hampir lepas dari raga
Hidup diujung tanduk hanya kasih Pencipta menanti sangat

Suara tolong terdengar sayup
Manusia iba mencoba sebisanya
Sebab rasa takut dan bingung berharap ada mukjizat
Tetapi tetap nyawa ditangan sang pencipta

Kembali terang bulan tetap mengawasi
Hingga pertolongan datang dan membawa diri
Air mata dan harapan berlomba dalam emosi
Aku selamat di gelap malam ini.
Hari ini awal dari hari yang lalu.

'Dit
(inmemorial citayem 30 juni 2009)

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!


gravatar

CIKEUSIK



3 tubuh manusia mati dingin mengeras kaku.
Roh telah pergi napaspun berhenti.
Tiada harga diri sudah direnggut agama ilusi.

Balok menghantam seperti tiada lelah.
Fanatisme bodoh menjadi tuhan atas utopia.
Para penegak hukum bagai patung buatan tangan manusia.
Takut dan terdiam seperti buta, bisu dan tidak mendengar.

Syair senandung pujian untuk kebesaran sang tuhan.
Lantunan ideologi pagan bersahut-sahutan.
Kaki berderap keras teratur melangkah maju.
Dendam dan amarah telah bersatu padu.

Allah ta'alla !!
Allah ta’alla!!
Allah ta’alla!!

Tubuh siapakah ini?? Tidak bernilai, tidak berharga.
para istri rindu sedih menanti suami.
Sang anak berkata "Ayah dimana Ibu?"
Semua sahabat pun lari mencari selamat.
Untuk menghindari diri dari desa kecil yang tak bertuhan.



'Dit
6 feb 2012
(inmemoriam cikeusik)

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

NN

Pernah kutemukan sayu matamu di wajah gadis gembala dari pulau ribuan kuda.
Pernah kutemukan senyum malumu pada wajah bocah sepuluh tahunan yang berdiri di emperan surau menanti hujan reda.
Pernah kutemukan wajah lembutmu pada seorang ibu yang nyaris putus asa dengan hidupnya.
Pernah kutemukan tanda hidupmu pada luka parut di kening seorang pelacur bekas hajaran pelanggannya.
Pernah kutemukan lentik jemarimu pada tangan seorang waria yang meremas bokongku.

Di pematang sawah desaku penjepit rambutmu tercecer di situ.
Di tepi telaga kulihat kerudung birumu tertinggal di situ.
Di jalan raya kupungut gincumu yang terjatuh.
Kau pandai sekali menyembunyikan diri dalam setiap wajah.
Saat aku putus asa, kau datang tiba-tiba.
Tetapi saat hatiku mulai gembira, kau segera menghilang bagai setan tanpa belas kasihan.
Cinta dan kebencianku padamu tak mengurangi sesuatu pun dari keagunganmu.
Dan kini aku melewati jalan ini lagi dengan air mata yang kembali tertelan kelopaknya.

'posting Sholahuddien Gho

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

Wanita muda terluka menunggu



Disaat aku merekah engkau mendekat kepadaku...
mendekapku..membelaiku....

mencari sensasional didalam kehidupan mudaku dan menikmatinya
aroma yang keluar dariku sungguh wangi, menarik semua kaummu dan juga dirimu..
akupun suka dipuji, dirayu dan disayang
aku menerimamu sebab karena aku memujamu..
janganlah lepaskan ikatan ini....jadikanlah aku candu dalam masa mudamu..

Tetapi ...
Mengapa engkau telah pergi...
Mengapa engkau tinggalkan aku sendiri....
Mengapa engkau hinggap dibunga yang lain..
dan lalu kembali menikmati sensasional wangi bunga baru itu
engkau jahat..dan aku sedih!!....tetapi aku tetap setia hingga hari ini kepadamu...
disetiap meja makan dan kerjamu aku selalu memperhatikanmu.
dengan tatapan menunggu....menanti...mengharap....
kapan kau akan datang kembali kedalam sensasionalku lagi...
jangan lihatlah aku...
jangan mengharapkanku..

'Dithelen

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

Tentang Paulus Tarsus dan sikapnya

Patahkan setiap siasat dunia
Rubuhkan setiap hal yang dibangun oleh keangkuhan
Tawanlah segala pikiran duniawi
Dan siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan.



Lihatlah yang nyata didepan mata
Kata orang…, firmanNya tegas dan keras
SifatNya lemah lembut dan ramah
Itu kata orang….

Jangan paksa Dia untuk menunjukkan kemarahanNya dari dekat
sebab Ia bertindak keras terhadap orang yang dikasihiNya
“Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan”

'dithelen

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

Tuhan adalah seorang pemulung





seorang pemulung mengambil barang-barang yang tidak berguna.
mengumpulkannya....,
membersihkannya....,
sehingga menjadi berguna.

Bapa saya juga memungut saya dari jalanan
lalu membawa pulang saya kerumahnya.
saya diasuhnya...,
saya disekolahkannya...,
saya dididiknya..., agar menjadi berguna.
Jika Bapa tidak mengambil saya,
entah akan menjadi apakah nasib saya sekarang dijalan.

Begitu juga Tuhan menjadi seperti seorang “pemulung”
mengambil yang tidak berguna menjadi berguna.

'Dithelen

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

Permen Kaca

permen kaca
terlihat transparan
merah muda.....
biru....
hijau....
oranye....
banyak warnanya

permen kaca
tidak termakan
tidak terlihat

terlihat permen kaca berkilau kilau....
rasanya pasti baru dan langka..
apakah benar??
aku ingin merasakannya.
mungkin esok hari aku bisa mencobanya.
mungkin...


















'Dithelen

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

Dalam kamar sang Dewi



saat saat yang paling bahagia didalam kehidupan hati sang Dewi
ketika dewi melalui pergantian cintanya yang singkat
wajah wajah yang berganti masuk kedalam ruangannya pribadi
sebatas kasur tipis tertutup kain putih agar terlihat baik
disisipkan ember plastik terisi air untuk pengampunan dosa

berpura pura tertidur ketika cinta memasuki ruangannya
mencoba hati untuk menjadi tenang tetapi kikuk dan takut
seperti awal dimana masa depannya hilang dirampas paksa

menabrak dan menindih menjadi sesuatu yang baru tampak
menciumi bau napas minuman keras yang membuatnya sesak
tetapi tetap untuk mengampuninya agar 10 menit dapat berlalu
karena cinta telah kembali dan dewi tidak harus tidur sendirian hari ini.

kehidupan sang dewi akan tetap berlangsung untuk esok hari
tanpa harus menjadi beban untuk sang pencipta yang mengenalnya sejak bayi.

'Dithelen

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

DIALOG 3 BAJA



“Ada apa kau berhenti?, disaat saat yang belum pasti”
“Cepatlah bergerak, agar hal buruk tak terjadi hari ini”

“Tutup mulutmu…tidak pantas kau berbicara kepadaku.
Sebab aku slalu didahulukan dan aku berbeda dengan kau
Aku tau, kau tak akan bisa melewatiku
Sebab akulah yang paling kuat
Akulah yang paling tercepat
Ikuti saja aku ini”.


“Aku slalu menurutimu, hai yang tercepat
Aku akan berjalan dibelakangmu, hai yang terkuat
Karena akulah silemah…
Karena akulah siburuk…
Karena akulah sijorok…
Tetapi aku dicintai karena aku murah
Akupun juga dicari karena aku tiada harga diri
Sebab akulah 585.”

“Hei…, mengapa kalian berdua berdiam diri disana?
Minggir….., aku siceroboh ingin lewat”.

“585….585.., jangan berdiam diri disitu
Aku 583 ada dibelakangmu, cepatlah jalan aku ingin lewat
Ada apa dengan kalian berdua
Kuhajar saja biar mereka tahu rasa.

'Dithelen
(Poltangan Tragedy-2000)

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!

gravatar

2 jiwa, 1 kehidupan



Disaat kamu ingin melepaskan seseorang..ingatlah pada saat pertama kali kamu ingin mendapatkannya.

Disaat kamu ingin menduakannya…ingatlah jika dia selalu setia kepadamu.
Disaat kamu ingin membohonginya…ingatlah dia selalu jujur padamu.
Disaat kamu mulai bosan dengannya…ingatlah selalu saat-saat terindah bersamanya.
Disaat kamu mulai tidak mencintainya…ingatlah pada saat pertama kali kamu jatuh cinta padanya.
.........
.........


Yang indah hanya sementara...
Yang abadi hanya kenangan...
Yang ikhlas hanya dari hati....
Yang tulus hanya dari sanubari....
........
Tidak mudah mencari yang seimbang..
Tidak mudah mencari yang hilang..
Tidak mudah mengejar impian..,
Tidak mudah juga mempertahankan yang ada.
........
namun..
Belajarlah tersenyum...
Belajarlah mengampuni....
Belajarlah untuk mengasihi....
Belajarlah untuk menerima....
Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan..
Tak ada dendam yang tak bisa terhapus…

'Dithelen
21 Januari 2011

NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!