Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

gravatar

Abigail dan Brittany Hensel




Abigail dan Brittany Hensel dari Minnesota mungkin adalah kembar siam paling menakjubkan di dunia. Mereka memiliki 1 usus, 1 alat kelamin, 1 hati, namun memiliki 3 ginjal, 2 lambung, 2 jantung, dan 4 paru-paru. Ketika lahir, dokter meragukan mereka akan selamat. Namun nyatanya mereka baru saja merayakan ulang tahun mereka ke-18, akan segera kuliah, dan telah mendapatkan SIM!


Sumber: http://xenophilius.wordpress.com/2008/04/10/peers-into-the-lives-of-two-headed-twins/

gravatar

President soekarno main sepeda free Style




 
Bung Karno dalam biografinya hanya menyinggung sedikit masa-masa sekolah di HBS Surabaya. Masa-masa ia berjalan kaki, sementara para murid Belanda sudah ber-haha-hihi dengan sepeda angin. Ia lantas berusaha memperketat pengeluaran sehingga bisa menyisihkan sedikit uang bulanan untuk ditabung.

Prinsip sedikit demi sedikit lama-lama membukit itu berbuah sepeda juga. Judulnya, “Bung Karno Akhirnya Punya Sepeda”. Tapi judul itu tidak bertahan lama. Dalam satu kesempatan, Anwar Cokroaminoto, putra H.O.S. Cokroaminoto yang masih berusia tujuh tahun, iseng-iseng mengeluarkan sepeda Bung Karno, dan menaikinya. Tentu saja tanpa seizin Bung Karno.
Guubbbraaaaakkk…. Anwar tidak bisa mengendalikan laju sepeda, dan menubruk tembok. Sepeda ringsek seketika. Demi melihat suara tubrukan, Bung Karno menghambur keluar. Matanya terbelalak, jantung berdegup kencang, si pitam naik ke ubun-ubun. Ia lihat Anwar berdiri ketakutan, dan tentu saja kesakitan. Sukarno mendelik dan menyepak bokongnya. Anwar pun menangis meraung-raung. Hati Sukarno sendiri menangis melihat sepeda kesayangan yang ia beli dengan susah payah, kini ringsek sudah.

Beberapa tahun kemudian, ketika Sukarno sudah menjadi tokoh pergerakan, mengetuai organisasi, mendapat honorarium… ia berkisah, kembali membeli sepeda. Tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk si Anwar. Mungkin ia merasa bersalah karena dulu telah menyepak bokong Anwar karena marah.
Pendek kata, Sukarno adalah pengendara sepeda yang baik. Dalam beberapa kunjungan ke luar negeri, ia bahkan menjajal sepeda-sepeda onthel kebanggaan negara itu. 


Salah satu foto bahkan menunjukkan freestyle onthel ala Bung Karno. Ia bisa menghentikan sepeda, tanpa menjejakkan kaki ke bumi, badan membungkuk dan memegang roda depan. 


Foto yang lain menunjukkan, zaman dahulu pun, freestyle sudah ada. Bedanya, kalau dulu menggunakan sepeda onthel, sekarang memakai sepeda BMX.




NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

21 Juli 1970 ; sang fajar itu pergi



Allah, kalimat terakhir Soekarno sebelum meninggal
Reporter : Ramadhian FadillahJumat, 21 Juni 2013 05:03:00


Hari ini, tepat 43 tahun lalu, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno, meninggal dunia. Haul Soekarno selalu disambut dengan doa dan tahlilan para Soekarnois. Tahun ini, ribuan warga Blitar menggelar tumpeng sepanjang 2 km di Istana Gebang. Tempat itu merupakan rumah masa kecil Soekarno.

Sayangnya kematian Soekarno tak seindah jasanya memerdekakan negeri ini.

Soekarno meninggal dalam ruang perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas dan rematik mengalahkan tubuhnya. Semangatnya sudah hilang bertahun-tahun lalu lalu saat Jenderal Soeharto menahannya di Wisma Yasoo. 

Soekarno diasingkan dari rakyat yang dicintainya. Bahkan keluarga sendiri dipersulit jika mau menjenguk. Dengan cepat kesehatannya menurun. Soekarno menjadi linglung dan suka bicara sendiri. 

Pengamanan terhadap Soekarno diperketat. Alat sadap dipasang di setiap sudut rumah. Rupanya singa tua sakit-sakitan dalam sangkar berlapis ini masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto.

Puncaknya, Soekarno dilarikan dari Wisma Yasoo tanggal 16 Juni 1970 dalam kondisi sekarat. Dia ditempatkan dalam sebuah kamar dengan penjagaan berlapis di lorong-lorong Rumah Sakit. Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Kondisi Soekarno terus memburuk. Pukul 20.30 WIB, Sabtu 20 Juni 1970, kesadaran Soekarno menurun. Minggu dini hari, Soekarno tak sadar dan koma.

Dokter Mahar Mardjono sadar ini mungkin detik-detik terakhir hidup Putra Sang Fajar itu. Dia kemudian menghubungi anak-anak Soekarno. Meminta mereka segera datang.

Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB, anak-anak Soekarno sudah berkumpul di RSPAD. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati menunggu dengan tegang kabar ayah mereka.

Pukul 07.00 WIB, Dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno menyerbu masuk ke ruang perawatan. Mereka memberondong Mahar dengan pertanyaan. Namun Mahar tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.

Pukul tujuh lewat sedikit, suster mencabut selang makanan dan alat bantu pernapasan. Anak-anak Soekarno mengucapkan takbir. 

Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Soekarno mencoba mengikutinya. Namun kalimat itu tak selesai.

"Allaaaah..." bisik Soekarno pelan seiring nafasnya yang terakhir.

Tangis pecah. Pukul 07.07 WIB, seorang manusia bernama Soekarno kembali pada penciptanya. Berakhirlah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. 

Tapi kematian juga yang membebaskannya dari status tahanan rumah Orde Baru. Soekarno merdeka dari para pengawal, tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para interogrator. Soekarno telah bebas.

*****

Hari ini memperingati Haul Soekarno ke-43, tim merdeka.com mencoba menurunkan tulisan berseri tentang akhir hidup Soekarno. 

Redaksi mengirimkan wartawan kami Imam Mubarok ke Blitar untuk melakukan reportase langsung di Makam Bung Karno. 

Di Bogor, Ilham Kusmayadi menelusuri jejak Soekarno di Batutulis. Semantara Ahmad Baiquni mengunjungi Museum Satria Mandala, yang dulu dikenal dengan Wisma Yasoo.

Lalu ada Ramadhian Fadillah, Iqbal Fadil, Muhammad Taufik, Mardani, dan Hery Winarno yang berkutat dengan buku-buku dan mewawancarai nara sumber untuk melengkapi rangkaian kisah ini. Harapan kami, tulisan ini memperkaya pengetahuan pembaca tentang sosok Soekarno dan sejarah negeri ini yang jarang dikupas.

Selamat membaca.



-----------------------------------

Catatan medis hari-hari terakhir Soekarno
Reporter : Iqbal FadilJumat, 21 Juni 2013 05:30:00


Soekarno mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 07.07 WIB, Minggu 21 Juni 1970 setelah menderita komplikasi penyakit yang cukup parah. Hari-hari terakhir Soekarno dihabiskannya dalam kesendirian, diasingkan oleh bangsanya sendiri.

Setelah Soeharto dilantik menjadi presiden pada bulan Maret 1967, Soekarno menetap di paviliun Istana Bogor ditemani istri keempatnya, Hartini. Setiap hari, Hartini dengan sabar dan penuh kasih sayang melayani Soekarno selama sepekan penuh. Kondisi Soekarno saat itu masih cukup sehat, dan dia seringkali mengunjungi anak-anak dari istrinya Fatmawati yang masih tinggal di Istana Negara. Ketika sore menjelang, Soekarno kembali ke Bogor. Sementara Fatmawati sudah mengungsi ke rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Status Soekarno saat itu sudah ditetapkan sebagai tahanan politik oleh Soeharto terkait peristiwa G30 S/PKI. Karena khawatir dengan Soekarno yang masih 'berkeliaran', Soeharto kemudian memperketat pengawasan. Belakangan Soekarno tidak dibebaskan masuk wilayah Jakarta dan harus mendapat izin dari Pangdam Siliwangi dan Pangdam Jaya untuk melintas.

Keadaan berubah drastis, saat Soeharto memerintahkan seluruh anak Soekarno keluar dari Istana Negara. Saat itu, sekitar awal Agustus 1967, Guntur, Megawati, Rachmawati, Fatmawati, dan Guruh diberi waktu 2x24 jam untuk pindah. Mereka kemudian mengungsi ke sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah ibunya di Jl Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Soekarno pun mendapat perlakuan yang sama. Pada bulan Desember 1967, dia diminta keluar dari paviliun Istana Bogor. Bersama Hartini kemudian Soekarno pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis Bogor.

Saat Soekarno tidak lagi menjadi presiden, tim dokter kepresidenan yang diketuai Prof Siwabessy dengan anggota dr Soeharto, dr Tang Sin Hin, dan Kapten CPM dr Soerojo yang paham rekam medis Soekarno dibubarkan pada Juli 1967. Sejak itulah, penanganan penyakit Soekarno jauh dari memadai.

Seperti dikutip dari buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno' yang ditulis Peter Kasenda, penyakit utama Soekarno hingga dia menutup mata adalah hipertensi atau darah tinggi yang dipengaruhi ginjalnya yang sudah tidak berfungsi maksimal. Ginjal kiri Soekarno sudah tidak berfungsi sama sekali, sedangkan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.

Selain itu, ada penyempitan pembuluh darah jantung, pembesaran otot jantung, dan gejala gagal jantung. Komplikasi penyakit inilah yang menyebabkan tubuh Soekarno terus membengkak. Namun Soekarno menolak upaya transplantasi ginjal. Soekarno pun kerap mengeluhkan dadanya yang sakit jika batuk-batuk. Saat di-rontgen, ditemukan tulang rusuk yang retak. Demikian juga paru-paru Soekarno yang mengalami bronchi basah disertai keluhan sesak napas. Belum lagi bibit katarak di matanya yang membuat penglihatannya berkurang.

Dengan kondisi yang cukup parah itu, Soekarno tidak mendapat penanganan yang tepat. Ditambah kawasan Bogor yang hawanya terlalu dingin, membuat penderitaannya bertambah parah, terutama penyakit rematiknya. Apalagi, satu-satunya dokter yang merawat Soekarno saat itu, dokter Soerojo bukanlah dokter spesialis. Sang dokter seringkali enggan datang saat Soekarno membutuhkan pertolongan dan obat-obatan. Tak pernah ada langkah konkret dari Presiden Soeharto untuk memenuhi permintaan alat kesehatan seperti alat cuci darah yang sangat dibutuhkan. 

Di awal tahun 1968, penyakit Soekarno bertambah. Giginya mengalami ngilu yang luar biasa saat minum air dingin dan sering berdarah. Namun upaya untuk berobat ke Jakarta ditolak oleh Pangdam Jaya dan Soekarno hanya diizinkan berobat di Bogor saja. Penyakit itu ditambah lagi dengan radang sendi di bagian tangan dan pinggulnya. Secara psikis, Soekarno mengalami depresi berat, sulit tidur dan pelupa.

Kondisi yang terus memburuk itulah yang membuat Hartini sedih. Atas permintaan Soekarno, Hartini mengirimkan surat kepada Presiden Soeharto. Hartini memohon agar suaminya diizinkan pindah ke Jakarta agar mendapat perawatan yang lebih layak dan menghindari udara Bogor yang dingin. Surat itu dilampirkan keterangan medis Soekarno berikut rekomendasi dari menteri kesehatan dan tim dokter kepresidenan.

Berbulan-bulan surat itu tidak mendapat tanggapan. Hingga akhirnya, Hartini berupaya kembali mengirimkan surat yang kedua kali. Namun kali ini, Hartini meminta Rachmawati untuk mengantarkan surat itu langsung kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana.

"Mula-mula aku diterima Ibu Tien di lantai bawah. Kemudian langsung diajak naik ke atas dan ditemui oleh Pak Harto. Aku menyampaikan maaf dan menyerahkan surat Bapak serta sekaligus menceritakan bagaimana keadaan Bapak yang sesungguhnya. Hanya satu yang kumohon ketika itu, agar Bapak diizinkan kembali ke Jakarta. Entahlah kekuatan apa yang mendorongku untuk memberanikan diri berjumpa dengan Bapak Soeharto. Betapa aku merasa plong. Pak Harto berjanji akan berusaha mengatur kepindahan Bapak," tulis Rachmawati dalam buku 'Bapakku-Ibuku'.

Setelah itu, Soekarno akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jl Gatot Subroto pada sekitar Februari tahun 1969. Di Wisma Yaso, kondisi Soekarno tidak semakin membaik. Ketika tubuhnya yang semakin renta digerogoti penyakit, Soekarno secara terus menerus diinterogasi oleh perwira Kopkamtib untuk mengorek keterlibatannya dalam Gerakan 30 September. Soekarno malah balik memarahi petugas yang memeriksanya ketika ditanya apakah dia terpedaya oleh PKI.

"Berkali-kali saya tanyai Bung Karno soal hubungannya dengan Aidit dan tokoh-tokoh PKI lainnya. Bung Karno selalu marah besar kalau dia dianggap telah diperalat PKI atau dia berada di belakang rencana kup yang gagal itu. Bung Karno selalu berkata bahwa sesungguhnya ia ingin menyatukan berbagai perbedaan di bawah panji nasionalisme-agama-komunis."

Demikian pengakuan Mayjen Kartoyo, salah satu perwira dari Polisi Militer yang menginterogasi Soekarno. Interogasi terhadap Soekarno baru berakhir di awal tahun 1970 ketika Soekarno mengeluhkan hal itu kepada ketua tim dokter kepresidenan Mahar Mardjono.

Selama di Wisma Yaso, Soekarno pernah diizinkan untuk menghadiri pernikahan putrinya Rachmawati yang disunting seorang dokter bernama Martomo Pariatman Marzuki atau yang sering dipanggil Tommy. Soekarno juga pernah diizinkan berkunjung ke Bogor untuk menemui Hartini.

Selama di Wisma Yaso dari tahun 1969 sampai mengembuskan napas terakhir tahun 1970, sejumlah perawat yang secara bergantian merawat Soekarno sempat membuat catatan medis bulanan. Di tahun terakhir hidupnya, tensi darah Soekarno selalu tinggi. Paling rendah 170/90 dan puncaknya mencapai 360/200 saat Soekarno meninggal di RS Pusat Angkatan Darat.

Setiap sarapan, Soekarno selalu menenggak sejumlah obat wajib seperti duvalidan (pencegah kontradiksi ginjal), methadone (pengurang rasa sakit), hingga valium (obat tidur). Kondisinya terus melemah hingga tidak dapat bangkit dari tempat tidur, mandi dan buang air dilakukan di tempat tidur.

Jika memperhatikan catatan medis yang dibuat para perawat, terungkap jika perawatan yang diberikan terhadap Soekarno tidak maksimal. Perawatan di hari-hari terakhir Soekarno diserahkan sepenuhnya kepada dr Soerojo, yang jelas-jelas bukan dokter spesialis, melainkan dokter hewan! Demikian pula dengan jenis obat yang diberikan tidak tepat sasaran. Selain beberapa jenis obat rutin itu, Soekarno hanya diberi suntikan vitamin B1 dan B12. 

Salah satu obat yang memberikan dampak buruk adalah valium yang membuat Soekarno tidurnya tidak terkontrol, tapi setelah bangun badannya terasa lemah dan kepalanya pusing. Akibatnya, kondisi tubuhnya makin buruk dan perawat hanya memberikan obat pengurang rasa sakit, novalgin.

Saat kondisinya semakin parah, Soekarno tetap menolak dibawa ke RSPAD, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dan bujukan dari Hartini membuat Soekarno luluh. Menjalani perawatan selama beberapa hari di RSPAD, Soekarno mengembuskan napas terakhir. Sang Proklamator, Bapak Bangsa, dan Pemimpin Besar Revolusi meninggal dalam kondisi menyedihkan.


------------------------------

Saat lautan manusia antarkan Soekarno ke liang lahat
Reporter : Mohamad Taufik



Presiden Pertama RI, Soekarno, meninggal dalam keadaan menderita, stres dan tubuh yang rusak akibat digerogoti penyakit. Bung Karno--demikian rakyat Republik ini memanggil tokoh yang juga dijuluki sang proklamator, itu. Dia dimakamkan di Blitar, Jawa Timur dengan iringan doa dan tangis rakyat Indonesia.

Minggu siang, 21 Juni 1970, kabar meninggalnya Bung Karno tersiar melalui berita-berita. Seluruh kegiatan sejenak terhenti, disusul dengan kasak-kusuk pembicaraan di kantor, di rumah, di toko, di pasar, dan di manapun manusia Indonesia berada. Topik pembicaraan sama, Soekarno mangkat.

Bambang Widjanarko pernah menulis kisah wafatnya Soekarno dalam buku berjudul: "Sewindu Dekat Bung Karno", yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 1988. Dia merupakan bekas ajudan Bung Karno selama delapan tahun, mulai 1960 hingga 1967.

Bambang mengisahkan, seperti tahun-tahun sebelumnya, sebenarnya malam itu telah disiapkan sebagai malam gembira bagi warga Jakarta, yang akrab dikenal sebagai malam muda-mudi semalam suntuk. Tujuanya untuk menyambut hari ulang tahun Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni.

Namun karena ada berita Bung Karno wafat, maka dengan bijaksana Gubernur DKI Jakarta membatalkan malam gembira tersebut. Gubernur malah mengajak warga Jakarta bersama-sama seluruh rakyat Indonesia menundukkan kepala turut berbelasungkawa atas meninggalnya seorang pemimpin bangsa.

Sebagai perwira marinir, Widjanarko seketika itu pula langsung menuju Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan bersama ratusan ribu rakyat yang datang sepontan. "Melalui antrean setapak demi setapak saya bergerak maju mendekati jenazah yang terbaring di ruang tengah."

Tidak terdengar tawa, kata dia. Bahkan hampir tidak ada orang bicara. Mereka hanya berbisik, dan sedu-sedan tangis beriringan menyayat hati. Di tengah lautan manusia itu Bambang berada, menyaksikan sejarah kematian seorang tokoh besar dalam hidupnya.

Bambang selanjutnya turut menghantar jenazah Bung Karno ke Blitar. Sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut, hari berikutnya dia turut membawa jenazah Bung Karno ke Blitar pukul 10.00 WIB. Iring-iringan mobil jenazah lebih dulu menuju Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma.

Sepanjang jalan ke bandara itu, ribuan rakyat berjejal memberi penghormatan terakhir kepada sang presiden. Sebuah pesawat Hercules AURI membawa seluruh rombongan dari Halim menuju Malang, Jawa Timur.

Di sana, kata Bambang, konvoi kendaraan bermotor telah siap menunggu kedatangan jenazah. "Dari lapangan terbang Malang menuju Blitar, saya saksikan lagi betapa ribuan rakyat berjejal sepanjang jalan. Ibu-ibu dan gadis-gadis menjerit, menangis, atau diam dengan air mata terus meleleh di pipi," kata Bambang.

Hal ini membuktikan upaya Orde Baru untuk menghapus semua kenangan rakyat terhadap Soekarno tak sepenuhnya berhasil. Dari tahun 1967 Soekarno dilarang tampil di depan umum dan dipenjara dalam tahanan rumah. Soekarno dilarang bertemu wartawan atau berbicara selain pada keluarga. Sosoknya terus dikaitkan dengan PKI dan pembunuhan tujuh jenderal. Tapi rakyat rupanya masih mencintai Soekarno.

Bambang melihat hal itu. Dia berkata pada putri Soekarno, Rachmawati.

"Lihatlah Rachma, rakyat masih mencintai Bung Karno. Mereka juga merasa kehilangan. Jasa Bapak bagi Nusa dan Bangsa tidak akan terlupakan selamanya."

Rachmawati mengangguk.

Tiba di Blitar hari telah senja. Di sana ratusan ribu rakyat telah menunggu di tempat pemakaman. Bukan makam pahlawan, tetapi makam umum biasa di tengah Kota Blitar. Upacara pemakaman dengan cepat dilaksanakan, dipimpin Jenderal Panggabean sebagai Inspektur Upacara mewakili Pemerintah RI.

Setelah upacara selesai, ketika seluruh karangan bunga diletakkan dan seluruh pejabat pulang, ribuan manusia ternyata masih tetap tinggal di makam. Dengan tertib mereka maju berkelompok, meletakkan karangan bunga. Malam semakin gelap, tapi peziarah tak surut.

"Sampai lewat tengah malam, makam belum juga sunyi. Di samping makam, para peziarah terus berdoa dari sore hari, datang pula rombongan baru yang tidak menghiraukan jarak dan waktu."

Itulah kisah pejalanan akhir Soekarno ke liang lahat. Lautan manusia tumpah menyambut dia. Bahkan hingga kini, makam sang Proklamator RI itu masih ramai. Makam itu ditandai batu nisan dengan pesan: DI SINI DIMAKAMKAN Bung Karno, PROKLAMATOR KEMERDEKAAN, dan PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA.


------------------------------

Tangisan istri-istri Soekarno melepas kepergian sang arjuna
Reporter : MardaniJumat, 21 Juni 2013 06:34:00


Setelah lama menderita akibat penyakit yang dideritanya, Soekarno akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tepat pukul 07.07 WIB, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Berita duka itu disambut isak tangis oleh para istri dan anak-anak Bung Karno.

Hartini, istri ke-4 Bung Karno, baru sampai di RSPAD sekitar pukul 08.30 WIB. Begitu melihat suami yang sangat dicintainya itu telah tak bernapas lagi, Hartini langsung jatuh pingsan.

Setelah beberapa saat siuman, Hartini kembali meluapkan kesedihan dan rasa kehilangannya. Dengan penuh kesedihan, Hartini menciumi jasad suaminya yang sudah tak bernyawa itu.

Selang setengah jam kemudian, Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto) istri ke-5 Bung Karno tiba di RSPAD. Kesedihan dan isak tangis tak terbendung dari dirinya. Dewi yang datang dengan buah cintanya bersama Bung Karno, Karina (Kartika) menangis sedih sembari menciumi jasad Bung Karno.

Meski kabar duka wafatnya Bung Karno baru diterima Inggit Ganarsih, istri kedua Bung Karno, pukul 15.00 WIB, hal itu tak menghalanginya untuk langsung bergegas meninggalkan Bandung menuju Jakarta.

Meski sempat kecewa karena Bung Karno menikahi wanita lain, hal itu tak menjadi penghalang Inggit menemui mantan suami yang begitu dicintainya itu. Setibanya di RSPAD, Inggit menangis sedih karena pria yang dicintainya itu telah mendahuluinya.

"Ngkus, guing Ngkus mendahului, Ngit mendoakan," kata Inggit dengan suara terputus-putus, seperti dikutip dari buku 'Hari-Hari Terakhir Sukarno' Karya Peter Kasenda, terbitan Komunitas Bambu.

Senada dengan Inggit, mantan istri Bung Karno, Haryatie merasa hancur hatinya saat melihat pria yang dulu memberinya kasih sayang kini diam dingin dengan wajah tertutup kafan. Suasana hati Haryatie seakan ingin memberontak, menjerit dan menangis saat itu.

Namun hal itu tidak dilakukannya. Dalam hati Haryatie berbisik kepada Soekarno. Dia meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dibuatnya.

Sementara itu, Yurike Sanger, istri ke-7 Bung Karno, menangis histeris saat melihat putra sang fajar telah membujur kaku. Saat itu, jenazah Bung Karno sudah disemayamkan di Wisma Yaso.

Dalam buku 'Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA' karya Kadjat Adra'i, terbitan Komunitas Bambu, diceritakan, Yurike meratapi kepergian Bung Karno. Dia meratapi wajah Bung Karno yang tersenyum damai di balik kerudung kelambu putih itu.

"Kata orang aku tak sekadar meratap, tetapi histeris. Aku tidak peduli. Berkali-kali kupanggil namanya hingga suaraku tak terdengar lagi," kata Yurike.

Berbeda dengan istri-istri Soekarno yang lain, Fatmawati, istri ke tiga Bung Karno, memilih tak datang melihat jenazah suaminya. Kalimat 'Innalillahi Wainnaillaihi raji'un' sontak keluar dari mulutnya saat mendengar kabar wafatnya Bung Karno.

Fatmawati menangis di rumahnya yang terletak di Jalan Sriwijaya 26 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rasa cemburu kepada Hartini sepertinya masih membekas di hatinya.

Meski demikian, Fatmawati saat itu meminta kepada pemerintah agar jenazah Bung Karno disemayamkan di kediamannya. Namun, dia harus kecewa berat karena Presiden Soeharto menolak dan memilih Wisma Yaso sebagai tempat mensemayamkan Bung Karno.

Saat itu, batin Fatmawati benar-benar terguncang. Dia merasa amat terpukul karena permintaannya ditolak Presiden Soeharto. Ketika jutaan rakyat terpaku kelu dengan duka mendalam atas kepergian sang pemimpin besar revolusi, Fatmawati justru termangu sunyi di rumahnya.


--------------------------------


Soeharto tolak wasiat terakhir Bung Karno soal makam
Reporter : Laurencius SimanjuntakJumat, 21 Juni 2013 09:44:38


Sang Proklamator Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 atau tepat 43 tahun lalu. Dia dimakamkan dekat makam ibunya di Blitar, Jawa Timur.

Lokasi pemakaman di Blitar ini merupakan keputusan pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Padahal, sewaktu hidup, Bung Karno pernah mengatakan ingin dimakamkan di daerah Priangan alias Jawa Barat.

Dalam 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' (Cindy Adams, 1965), Bung Karno mengatakan tidak ingin dikubur dalam kemewahan.

"Saya ingin sekali beristirahat di bawah pohon yang rindang, dikelilingi pemandangan yang indah, di sebelah sungai dengan air yang bening. Saya ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan. Hanya keindahan dari negara yang saya cintai dan kesederhanaan sebagaimana saya hadir. Saya berharap rumah terakhir saya dingin, pegunungan, daerah Priangan yang subur di mana saya bertemu pertama kali dengan petani Marhaen," kata Bung Karno.

Belakangan, Bung Karno mengungkapkan tempat yang memenuhi kriteria itu adalah sebuah tempat dekat vila miliknya di Batu Tulis, Bogor. Vila itu dibangun Bung Karno di akhir masa jabatan kepresidennya.

Namun, wasiat itu tidak diindahkan oleh Soeharto, yang memutuskan memakamkan sang proklamator dengan acara kenegaraan. Pemimpin otoriter itu memilih Blitar.

Soeharto beralasan keinginan keluarga Bung Karno perihal lokasi pemakaman berbeda-beda. "Andaikata kita serahkan kepada keluarga besar yang ditinggalkannya, maka saya melihatnya bakal repot," ujar Soeharto dalam 'Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' (Dwipayana dan Ramadhan, 1989).

Maka, kata Soeharto, "Saya memutuskan dengan satu pegangan yang saya jadikan titik tolak, yakni bahwa Bung Karno sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya. Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau akan berpergian ke tempat jauh, ke mana pun, beliau sungkem dahulu, meminta doa restu kepada ibunya. Setelah itu barulah beliau berangkat."

Atas dasar kedekatan dengan ibu itu, Soeharto akhirnya memakamkan Bung Karno di Blitar, tak sesuai dengan wasiatnya. Soeharto juga memugar makam Bung Karno, hal yang tidak sesuai dengan kesederhanaan yang diinginkan pemimpin revolusi itu.

Sejumlah sejarawan berpendapat, keputusan sepihak Soeharto soal pemakaman itu karena dia merasa terlalu berbahaya jika makam Bung Karno terlalu dekat dengan Jakarta. Stabilitas pusat negara akan terganggu. Rupanya Orde Baru masih takut dengan kharisma pemimpin besar revolusi ini, bahkan setelah dia mati.

Meski dimakamkan di Blitar, tempat peristirahatan terakhir Bung Karno itu masih didatangi banyak orang hingga kini. Setelah 43 tahun Putra Sang Fajar kembali ke haribaan Sang Khalik.


-------------------------

Menengok Wisma Yasoo, tempat Soeharto menahan Soekarno
Reporter : BaiquniJumat, 21 Juni 2013 08:21:00


Bangunan yang terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 14 Jakarta, itu masih kokoh berdiri. Bangunan ini kini digunakan sebagai Museum Satria Mandala milik TNI. Mulai dari halaman depan hingga bagian belakang dan dalam gedung penuh berisi benda-benda berbau militer. 

Masuk ke dalam ruang utama, dua bilah pintu dengan tinggi mencapai 2 meter dan lebar masing-masing sekitar 1,25 meter menyambut setiap orang. Tak sembarangan, pintu itu terbuat dari kayu jadi yang dipenuhi ukiran baik di bagian luar maupun dalam.

Usai melewati pintu utama, sebuah replika teks proklamasi yang memenuhi hampir dua pertiga dinding dengan tinggi sekitar 3 meter langsung menyambut mata. Namun demikian, tak banyak benda yang identik dengan Soekarno maupun Dewi terpampang di situ. 

Jika dapat disebut komplek rumah, maka Wisma Yasoo terbagi menjadi beberapa gedung yang tersambung menjadi satu kesatuan. Komplek itu dapat disusuri searah jarum jam, mulai dari pintu utama, kita harus menghadap ke kiri, kemudian lanjut berjalan hingga ujung.

Sesampai di ujung gedung utama, orang diharuskan berbelok ke kanan dan menemukan ruangan yang luas dengan berbagai pajangan bintang jasa. Mungkin akan sedikit bingung jika berada di ruang itu, karena tidak ada akses sama sekali untuk berpindah ke ruangan lain. 

Tetapi, jika teliti, di sana terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ruang di bawah yang kini berfungsi sebagai ruang penyimpanan senjata. Saat di dalam pun, hanya ada satu akses, yakni sebuah pintu yang akan menghubungkan dengan halaman belakang gedung utama.

Pada halaman belakang itu, suasana nyaman sangat terasa. Di sana terdapat sebuah kolam ikan berukuran besar, yang dinaungi pohon-pohon rimbun. Tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu luang dengan bersantai. 

Di luar gedung utama, terdapat sebuah gedung dua lantai yang kini berfungsi sebagai ruang diorama. Tetapi, kondisi lantai 1 gedung itu tidak dapat dijamah lantaran rusak akibat banjir besar sekitar tahun 2007 yang melanda Jakarta.

Hampir tak ada jejak Soekarno di sana. Padahal dulu, bangunan ini bernama Wisma Yasoo. Soekarno membangun wisma ini untuk sang istri kelima Naoko Nemoto, yang kemudian diberi nama Ratna Sari Dewi.

"Ini dulu rumahnya Soekarno waktu masih jadi presiden," ujar salah satu karyawan Museum, Dedi Kurniadi (35) saat berbincang dengan merdeka.com di sela aktivitasnya merawat rumput di Wisma Yasoo, Rabu (19/6).

Wisma Yasoo memang dibangun oleh Soekarno untuk beristirahat melepas lelas usai menjalankan tugas sebagai kepala negara. Di rumah itu, Soekarno memadu kasih dengan Dewi, hingga istrinya itu mengandung seorang anak yang dikenal dengan nama Kartika Sari Dewi.

Namun, bayangan kesenangan yang dulu diidamkan Soekarno akhirnya hilang seketika, saat rezim pemerintahan dipegang oleh Soeharto.Situasi semakin buruk sehingga Soekarno akhirnya meminta Dewi melahirkan ke luar negeri. Dia takut terjadi apa-apa pada keluarganya.

Wisma itu pun akhirnya kosong. Soeharto memanfaatkannya untuk menahan Soekarno di tempat itu. Mengasingkannya dari dunia luar. Alat sadap dipasang hampir di setiap sudut Wisma. Penjaga menempel Soekarno dengan ketat. 

Soekarno juga tidak ditempatkan di gedung utama. Dia harus mendekam di sebuah ruangan pengap di berukuran 10x15 meter. Gedung itu diberi nama Makita Loka, yang kini berfungsi sebagai ruang Kepala Museum.

"Ditahannya di ruang Kepala Museum. Di sana ada kamar mandinya," kata Dedi.

Ruang itu hanya bisa diakses melalui halaman belakang komplek rumah. Tidak ada jendela maupun saluran udara di ruangan itu. Hanya terdapat satu pintu sebagai jalur akses keluar masuk ruangan. 

Di ruang inilah Soekarno menjalani hidup sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan. Rezim Soeharto pun tidak memberikan celah bagi Soekarno untuk sekedar mendapat informasi perkembangan ibu kota bahkan Indonesia. 

Kondisi itu membuat Soekarno tertekan dan semakin melemahkan kesehatannya yang mengidap komplikasi penyakit salah satunya ginjal. Penyakit itu kian parah sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Tetapi, langkah itu tidak memberikan hasil hingga akhirnya Soekarno menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 21 Juni 1970.

Jenazah Soekarno sempat disemayamkan di Wisma Yasoo sebelum dimakamkan. Saat tiba di rumah itu, setelah jenazah dimuliasara, banyak orang datang untuk melepas kepergian Soekarno untuk terakhir kalinya.

Hanya ada satu kata yang mampu mewakili kisah Soekarno, 'ironis'. Soekarno membangun rumah itu untuk bersenang-senang, tetapi dia justru mendapat kisah tragis.


---------------------

Melongok makam impian Bung Karno yang tak pernah terwujud
Reporter : Ilham KusmayadiJumat, 21 Juni 2013 09:27:32


Bangunan itu memang tampak misterius. Rumah dikelilingi tembok bercat putih setinggi 1,5 meter, dengan pagar besi renggang-renggang. Dari luar, rumah ditutupi rindang daun bunga dan rupa-rupa tumbuhan lain, termasuk aneka pepohonan. Itulah rumah peristirahatan Presiden Soekarno, Istana Batu Tulis.

Lokasi Istana Batu Tulis memang strategis, mudah dijangkau dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat. Istana ini berjarak sekitar 2 kilometer dari Istana Bogor. Nama lain istana tempat peristirahatan Presiden Soekarno ini adalah Hing Puri Bima Sakti, terletak di Jalan Batu Tulis, Kelurahan Batu Tulis, Bogor Selatan.

Konon, Soekarno sang proklamator, sebelum meninggal menghendaki Istana Batu Tulis dijadikan makam ketika dia mangkat. Namun entah apa alasan pemerintahan Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres RI Nomor 44 Tahun 1970 yang memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Bung Karno.

Orang Bogor, terutama yang tinggal di sekitar Istana Batu Tulis, hanya tahu dulu bangunan itu sempat dijadikan sebagai rumah peristirahatan Bung Karno, seperti istana lain di Indonesia. Misalnya Istana Bogor, Istana Cipanas, Cianjur maupun Istana Merdeka Jakarta.

"Seumur hidup saya, sebagai warga asli Bogor yang tinggal di sekitar Istana Batu Tuli, saya baru pertama kali masuk ke dalam, itupun hanya melihat-lihat di halaman yang masih jauh dengan bangunan-bangunan," kata Mang Eman, 56, warga Kelurahan Batu Tulis, yang berjualan pisang ditepi pagar Istana Batu Tulis, Kamis (20/6) pagi.

Istana Batu Tulis kini sudah menjadi milik keluarga Soekarno. Menurut Eman, sudah tidak ada lagi saksi mata dari warga kampung yang bisa menceritakan detail ihwal aktivitas Soekarno di istana itu. Hanya orang-orang tua yang bisa bercerita, tapi semuanya sudah meninggal.

Dia sendiri penasaran dengan istana itu. Suatu hari Eman pernah hendak menyelinap masuk ke rumah. Namun apes, belum sampai masuk, dia sudah ditegur penjaga istana.

Sulaeman, 61, warga lain menyesalkan sikap tertutup penjaga keamanan istana. Padahal sebenarnya warga ingin sekali mengetahui area bangunan yang mungkin menjadi petilasan Bung Karno. "Saya saja asli sini lebih sering mengunjungi makam Bung Karno di Blitar. Sudah hampir 16 kali saya ke Blitar. Tapi kalau ke Istana Batu Tulis cuma sekali, itupun tidak ke dalam," katanya.

Ketatnya penjagaan di area Batu Tulis ditunjukan petugas keamanan saat merdeka.com meminta izin mengetahui suasana di dalam. "Harus ada izin dulu dari Bu Mega," kata salah satu penjaga istana.

Istana Batu Tulis ini letaknya persis berseberangan dengan lokasi situs Batu Tulis yang sempat heboh karena Menteri Agama era Presiden Andurrahman Wahid alias Gus Dur, pernah secara diam-diam menggali tanah di area prasasti itu untuk mencari harta karun terpendam.

Sulaeman melanjutkan, banyak cerita aneh dituturkan orang-orang tua zaman dulu soal kondisi istana. Konon, di dalam istana terdapat hutan kecil atau perkebunan yang dipenuhi pepohonan buah-buahan, mulai dari buah kemang, pala, gandaria, kecapi dan pepohonan lainnya sejenis pohon sengon.

Didalam area Istana Batu Tulis juga terdapat kolam ikan seluas 10 x 5 meter. Di tepi kolam itu terdapat patung wanita tanpa busana. Tak jauh dari kolam juga terdapat patung dua rusa tutul. "Di dalam kolam itu, kata orang tua saya sempat ada ular besar, bahkan pada malam hari sering terdengar suara binatang seperti buaya bermain air," katanya.

Tak hanya itu, tak sedikit warga sekitar Batu Tulis mempercayai Bung Karno masih hidup. "Kejadiannya sekitar 7 tahun lalu, aspal di depan pintu masuk utama istana amblas berbentuk telapak kaki, saya dan warga sekitar kaget dan menilai ini adalah kaki Bung Karno, tapi percaya nggak percaya kang," kata mang Eman.

Ia juga mempertanyakan ketatnya penjagaan dan tertutupnya pagar Istana. Ada kesan istana menyimpan misteri barang berharga atau harta karun. "Kata orang tua dulu, harta karun atau barang berharga yang ada di dalam Istana Batu Tulis bisa membeli Kota Bogor," terangnya.

Maka dari itu, menurut dia wajar bila istana ditutup. Sebab di sana diduga banyak barang berharga milik Bung Karno yang jumlahnya tak ternilai.

Sementara itu, juru kunci Prasasti Batu Tulis Ibu Maemunah, 75, mengaku tidak mengetahui persis sejarah istana yang tak jauh dari kediamannya itu. "Wah saya kurang tahu, yang tahu mungkin orang-orang tua dulu," ujarnya saat ditemui di situs dan prasasti Batu Tulis.

Sementara itu berdasarkan literatur sejarah Bogor, asal muasal pembangunan istana ini ternyata lebih dekat kaitannya dengan meletusnya Gunung Salak. Letusan itu mendorong Belanda mengirim Van Riebeeck peneliti gunung atau vulkanologi untuk melakukan penelitian dampak letusan.

Gunung Salak meletus malam hari tanggal 4-5 Januari 1699. Gunung itu meletus diiringi gempa bumi dahsyat. Sebuah catatan tahun 1702 menggambarkan dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane di belakang bekas keraton raja-raja yang disebut Pakuan, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka tanpa pepohonan sama sekali.

Sedemikian dahsyatnya letusan Gunung Salak, sehingga aliran Ciliwung dekat muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter akibat tertutup lumpur letusan Gunung. Tidak ada berita mengenai nasib penduduk sepanjang aliran Ciliwung waktu itu. 

Namun demikian, pada 1701 penduduk Kampung Baru diceritakan masih dapat mengantar Ram & Coops ahli vulkanologi Belanda itu. Ini berarti letusan Gunung Salak tidak sampai memusnahkan penduduk Bogor. Sayang Abraham van Riebeeck tidak membuat catatan apa-apa mengenai akibat letusan itu. 

Tetapi, untuk menunjukkan bahwa kehidupan penduduk masih ada di Bogor, Van Riebeeck mendirikan Istana Batu Tulis. Pendirian itu sekaligus sebagai tanda bahwa Gunung Salak tidak menakutkan lagi. Istana yang dibangun tahun 1704 oleh Van Riebeeck selanjutnya menjadi pondok peristirahatan Soekarno, Istana Batu Tulis.


sumber : Merdeka



NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Lo Kheng Hong - Warren Buffet Indonesia






Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo
Kheng Hong bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?

Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi
(capital gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen.
Tapi, jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan
penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau
beradrenalin tinggi.

Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati,
kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang
menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.

Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai
bursa, baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan
tipe investor yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham
atau setiap saat mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di
lantai bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak
melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook,
iPad, atau perangkat paling mutakhir sejenisnya.

Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka
panjang ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah
sebabnya, kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren
Buffett Indonesia’.

“Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti
saham apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu
apa yang mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin
menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada
wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta pewarta foto
Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan
bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat
uangnya besar,” ujar Kheng Hong.

Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil
lolos dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk
keuntungan hingga 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh.
Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya
tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya
meningkat 150.000% sampai saat ini,” tuturnya.

Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali
tidak tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain,
seperti emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang
Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan,
termasuk perusahaan sekuritas.

“Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi
krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja,
tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya
karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan
dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.

Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar
dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami
bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara dengan
pria yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat
menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.


Kenapa Anda tertarik bermain saham?
Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan
yang besar dan tidak capek seperti di sektor riil.

Apa enaknya menjadi investor saham?
Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di
dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak
percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi
miskin karena bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.

Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga
waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.

Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham,
padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan
seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka
tidak punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
Memiliki perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak
uang.

Sejak kapan Anda bermain saham?
Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan
dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai
kecil. Saat tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian
saya jadi pegawai tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh
untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah.
Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja
di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala
cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham.

Anda saat ini punya saham apa saja?
Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder
Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham
saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah
5%. Saya tipe investor jangka panjang.

Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya
besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005
seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya
jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Cara Anda memilih saham?
Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance
(GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu.
Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini
menyangkut harta saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu.
Lihat manajemen, apakah pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai
pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga saya sebagai
sleeping partner dirugikan.

Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti
kelapa sawit dan pakan ayam.

Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah
dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang
lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan
atau tidak.

Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?
Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada
yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang
untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing
secara berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan
seterusnya. Ini perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat
kinerjanya lima tahun ke belakang. Lihat masa lalunya.

Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
ternyata turun?
Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan
mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut
growing, tandanya itu super company.

Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?
Harga. Saya lihat dari price to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang
saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang
harganya Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp
70.000 bisa lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita
lihat kemampuan emitennya dalam membukukan keuntungan.

Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?
Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan
yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.

Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?
Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,
buy on weakness. Dan, harus be greedy when others are fearful dan
sebaliknya, be fearful when others greedy.

Bukankah itu sulit diterapkan?
Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang
yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah
membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha,
ha...

Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara
menjadi kaya di pasar saham.

Berarti, kuncinya ada di mental?
Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran
penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University,
saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$
40.000, keluar dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar
seharga US$ 40.000, kita bisa menjadi orang pintar.

Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum
tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang
sudah menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia
menjadi pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang
dibeli turun dan yang dijual justru naik.

Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang
kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa
seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu
per satu.

Jadi, Anda tipe investor fundamental?
Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya
yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham
yang ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus.
Terkadang, ada yang terjebak.

Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?
Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui.
Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali.
Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?

Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?
Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market
mengalami booming, semua masuk. Saat market buang-buang saham, mereka
ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan
ikuti langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat
untung besar saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali.
Bahkan, orang sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun,
dia juga mengalami kerugian.

Anda berinvestasi pada instrument selain saham?
Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana
tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan
segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga
saya masih bisa beli saham lagi.

Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?
Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham
suatu emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp
2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk
jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan,
saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk
jangka panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya
signifikan, lebih baik saya lepas.

Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda
mengalami kerugian juga?
Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh,
tapi tetap be greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis
1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang
itu saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi.
Dan, itu terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.

Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?
Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut
turun. Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan
menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham saya, karena saya
yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih
tinggi dari sebelumnya.

Apa filosofi hidup Anda?
Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil
tidur. Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya
tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara
dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu saya delapan
jam untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan
mengerjakan apa yang saya sukai.


Sumber



NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Wangsa Aidit - Mengenang yang Telah Beranjak Jauh



Malam itu Sobron betul-betul merasa sepi.
Sekaligus malu. Juga terhina. Jauh-jauh datang dari Paris, ia sama sekali tak beroleh sambutan. Genangan rasa kangen akan kampung halaman dan kerabat lindap dengan cara yang aneh sekaligus menyesakkan.
Itulah kali pertama Sobron menginjakkan kembali tanah Belitung. Ia datang dengan Laura, cucunya yang baru berusia 10 tahun. Malam itu Laura dibawa beberapa kerabat Sobron. 
Akan dibawa keliling. Begitu katanya.


Sobron betul-betul merana. Malam itu ia sendirian di Hotel Melati. Tak tahu hendak kemana ia. Tak ada tujuan. Tak ada satu pun kerabatnya yang menawarinya menginap.
Kerabat-kerabat Sobron hanya datang ke hotel. Itu pun tak lama. Setelah dirasa cukup,mereka pergi satu per satu.

1996 memang tahun yang masih belum ramah bagi orang-orang seperti Sobron.
Sebenarnya ia sedikit bisa memaklumi polah kerabat-kerabatnya itu. Mereka punya alasan yang masuk akal. Sobron sendiri memang tak berniat menyusahkan kerabatnya.
Ia datang hanya ingin menuntaskan rasa kangen yang sudah menjompak di ubun-ubun.
Barangkali, rasa sentimentil telah menyeret Sobron pada situasi emosi yang bergelora, sekaligus juga rapuh.
Sobron akhirnya memilih menelusuri garis pantai. Suasana sungguh sepi. Jarang sekali Sobron berpapasan dengan orang lain. Tak pelak suasana hati Sobron kian terbawa sendu. Lama-lama, Sobron mensyukuri keadaan itu. Dengan sepinya Tanjungpandan, Sobron merasa ia bisa bebas menghabiskan malam, menuntaskan rasa kangen,
merayapi bertumpuk kenangan lama, tanpa harus diimbuhi tetek bengek hiruk-pikuk orang lain.
Sobron melangkah terus. Ia ingat ketika dulu sering berkumpul dengan kawan-kawan lamanya tiap kali ia pakansi atau liburan. Liburan biasanya diisi Sobron dengan pelbagai kegiatan. Sekali waktu ia pernah mengadakan beberapa pementasan drama.
Dua tahun berturut-turut dipentaskan naskahnya Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira serta Bunga Rumah Makan. Sobron cum suis pernah pula mementaskan naskah Dosa Tak Berampun, saduran dari naskah Ayahku Pulang, sebuah drama Jepang yang disadur oleh Usmar Ismail. Semua pertunjukan itu sangat disukai penduduk Tanjungpandan.
Setiap kali pementasan usai, Sobron dan kawan-kawannya masih disibukkan oleh aktivitas mengemasi segala macam perangkat pementasan. Tak jarang semua baru kelar ketika jarum jam telah menunjukkan angka 24.00. Sekujur badan tentu saja terasa lelah. Dalam kondisi begitu, biasanya mereka pergi menuju pantai Tanjung Pendam. 


Di sana mereka melolosi semua pakaian yang melekat di badan. Bugil. Telanjang.
Berenang dan bermain ombak di bawah temaram sinar bulan purnama.
Sobron memercepat langkahnya. Ia ingin seegera mungkin mereguk kenangan ketika bersama kawan-kawannya telanjang bulat menantang ombak. Tapi di manakah tempat itu?

Setengah mati Sobron mencarinya. Tapi tak juga ia temukan. Tak ada lagi pantai yang landai. Pasir yang dulu menghampar putih bak permadani dari sutera terlah berganti oleh pasir berwarna hitam yang diseraki bertimbun-timbun sampah plastik. 
Pepohonan nyiur yang dulu pernah dinaikinya sembari bermain- main kini sudah tak ada lagi, berganti menjadi semak dan alang-alang yang sangat tak teratur.

Ah…
Sobron mengedarkan pandang. Sobron berharap-harap cemas.
rumah-rumah itu ternyata masih berdiri. Legalah Sobron. Ia pandangi lekat-lekat deretan rumah-rumah itu. 
Tapi Sobron lagi-lagi menangguk kecewa. Rumah-rumah yang dulu rapi, indah dan terawat itu kini telah menjadi berderet bangunan tua yang usang, tak terawat dan reot.
Sobron menghela nafas. Ada yang hilang bersama butir-butir air matanya yang jatuh bergulir pelan-pelan. 
Sobron tak tahu apa yang sebenarnya telah hilang….



NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Wangsa Aidit - Kisah Sepotong Nama




Persoalan nama bisa menjadi persoalan tak penting bagi Shakespeare. What Is an a name? Apakah arti sebuah nama? Tapi cobalah tanyakan apa arti sebuah nama kepada semua anggota keluarga D.N. Aidit. Bersiaplah menerima jawaban yang berbanding terbalik dengan cemooh Shakespeare yang termasyhur itu.
Bagi adik, anak, cucu, keponakan dan semua kerabat D.N. Aidit, nama bisa menjadi persoalan hidup mati. Kata Aidit yang melekat di belakang namanya menjadi password yang telah membawa mereka pada sebuah jalan hidup yang sungguh berliku, pedih, dan sangat… sangat… tidak menyenangkan.
Aidit. Selembar nama itu menjadi bala bagi siapapun yang mengenakannya. Tak pandang bulu. Apakah anak kecil atau orang tua yang sudah renta. Bahkan orang-orang yang tak ada nama Aidit di identitasnya tetap akan menanggung bala jika diketahui bersangkut, langsung atau tidak, dengan siapa pun yang memiliki nama Aidit. Bala itu macam-macam bentuknya: dari mulai ditangkap, dipenjara, diasingkan ke pulau yang jauh, diawasi, dan diekskomunikasi dari kerabatnya yang lain.
Itu bala yang dihumbalangkan secara langsung oleh penguasa. Sejumlah bala yang tak kalah memedihkan juga datang bertubi-tubi dari masyarakat biasa, para tetangga, teman, bahkan kerabat. Para pemilik nama Aidit dijauhi. Tak berkawan. Dicaci maki anggota setan sebagai keluarga menjadi pengalaman sehari-hari.

Tak banyak yang bisa diperbuat. Diam adalah pilihan yang paling masuk akal. Sesekali salah satu pemilik nama Aidit itu melawan. Berkelahi dengan para pengejeknya. Wajah yang melebam dan babak belur adalah hadiah yang ditangguk dari aksi perlawanan dan perkelahian itu boleh percaya boleh tidak, sudah lama sekali, jauh sebelum pageblug 1965, persoalan nama memang sudah menjadi bahan pembicaraan di keluarga Aidit.
Kita bisa memulainya dari nama Dipa Nusantara Aidit: nama yang paling masyhur dari serentetan nama Aidit yang lain. Kita tahu, nama asli Aidit adalah Ahmad Aidit. Itulah sebabnya semua adik dan kerabat Aidit memanggilnya Bang Amat. Ada dua versi tentang muasal nama Dipa Nusantara
Aidit. Versi pertama menyebutkan bahwa ketika Aidit berada di Batavia dan terlibat dalam aktivitas politik di Menteng 31, Aidit mengirim surat kepada ayahnya, Abdullah.
Surat itu berisi permohonan agar Abdullah mengijinkan Aidit berganti nama. Abdullah mengabulkan. Maka bergantilah nama Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit.
Perubahan nama itu kemudian oleh Aidit sendiri disahkan di hadapan notaris.
Pada masa itu, perubahan nama bukanlah barang aneh. Beberapa pemuda aktivis melakukannya. Mungkin untuk menandai perbatasan antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru. Mengganti nama lama dengan nama baru diharapkan bisa menjompakkan semangat memerjuangkan nilai-nilai baru tersebut. Salah satu nama yang juga mengubah nama adalah Hanafi. Salah satu pentolan Menteng 31 ini juga mengganti nama depannya dengan inisial A.M. yang merupakan kependekan dari kata Anak Marhaen. Jadilah Anak Marhaen Hanafi.


Nama Dipa Nusantara sendiri dipakai Aidit untuk menghormati jasa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Aidit berharap, penggunaan nama Dipa itu bisa memantik inspirasi dan semangatnya untuk mem bebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme. Persis seperti yang pernah pula diupayakan Diponegoro.
Tetapi tak sedikit yang sinis menanggapi perubahan nama Aidit. Salah satu argumen kelompok ini adalah: Aidit menghapus nama Ahmad menjadi Dipa Nusantara sepenuhnya alasan politis. Mosok pemimpin PKI namanya Ahmad? Versi pertama inilah yang hingga kini paling santer terdengar. Salah seorang yang mengedarkan versi ini adalah adik kandung Aidit sendiri, Sobron Aidit. Sejumlah
literatur tentang Aidit yang paling kredibel sekalipun, seperti esai Leclerc atau bukunya Peter Edman, meyakini versi inilah yang paling bisa dipercaya.

Versi lain yang nyaris tak muncul ke permukaan dikemukakan oleh Asahan Sulaiman Adit, bungsu dari tujuh bersaudara Aidit. Versi ini bisa dijumpai dalam buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (Yogyakarta: Era Publisher, 2005) yang merupakan sebuah reportoar karya dua penulis muda Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah. (Buku itulah yang paling banyak menyumbangkan informasi bagi penulisan esai ini, khususnya untuk bagian-bagian tentang kehidupan keluarga Aidit di luar Sobron dan D.N. Aidit sendiri).
Kata Asahan, Ahmad Aidit telah berubah menjadi Dipa Nusantara Aidit sejak ia dilahirkan. Sumber yang digunakan Asahan adalah sebuah akte kelahiran Aidit sendiri.
Akte itu bertarikh 1923, tahun kelahiran Aidit, dan ditandatangani langsung oleh Abdullah Aidit langsung. Asahan ingat betul, akte yang berhiaskan lukisan indah itu masih menggunakan bahasa Melayu agak kuno. Di akte itulah tertulis: Anak dari Abdullah Aidit yang lahir pada 1923 yang saya beri nama Ahmad Aidit, bila dia telah menginjak usia dewasa akan menggunakan nama Dipa Nusantara Aidit.
Jadi jelas, tegas Asahan, nama Dipa Nusantara bukanlah ciptaan abangnya ketika ia sudah di Batavia, melainkan nama yang memang diciptakan oleh ayahnya langsung.
Asahan, si bungsu yang mahir menggesek biola ini, juga punya sebuah refleksi yang lucu tentang persoalan nama di keluarganya. Begitu menyadari bahwa nama Dipa Nusantara adalah ciptaan ayahnya, Asahan langsung berpikir: Kenapa ayahnya tak menamai anaknya yang lain dengan nama segagah Dipa Nusantara? Asahan bertanya-tanya, kenapa namanya tidak ditambah menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa saat masih kecil? mengapa ketika dewasa namanya tidak berganti menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa Aidit yang disingkat SDK Aidit. Sedangkan Sobron umpamanya menjadi Sobron Penata Persada Aidit dan disingkat SPP Aidit. Lalu Murad, misalnya, berubah menjadi Murad Zamrud Jawa Dwipa Aidit atau MZJD Aidit.
Sedangkan Basri menjadi Basri menjadi Basri Sengsara Sepanjang Masa Aidit dan
disingkat BSSM Aidit.
Basri adalah abang Asahan yang sepanjang hidupnya selalu dirundung sengsara hidup sehingga menurut Asahan dia itu tak berhak menggunakan nama yang jaya berbinar-binar.
Asahan sendiri akhirnya memang melakukan perubahan nama. Asahan adalah nama hasil perubahan itu. Aslinya ia bernama Sulaiman. Setelah hidup menggelandang di Eropa, Asahan berpikir untuk mengganti nama. Maka diperolehlah nama Asahan.
Lengkapnya Asahan Alham. Alham  sendiri merupakan akronim dari kalimat alhamdulillah. Nama Aidit dibuang jauh-jauh untuk selama-lamanya.
Murad, adik Aidit yang lain, pernah pula menghapuskan nama Aidit. Ketika ia baru saja dibebaskan dari Pulau Buru pada 1978, Murad langsung menyaksikan sejumlah kenyataan pahit yang jelas-jelas diskriminatif. Mereka selalu siap di-litsus (akronim dari penelitian khusus , sebuah metode screening yang dipraktikkan orde Baru). 
Mereka yang tak lulus litsus hampir dipastikan tidak akan pernah bisa memiliki KTP. 
Mereka juga tak mungkin bisa menjadi pegawai negeri sipil maupun tentara. Mereka dijegal.
Ketika Murad masih tinggal di Cikole, Bandung, Murad nekat tetap memasang nama Aidit. 
Tetapi ketika sedang berwirausaha di bilangan Depok dengan memelihara ternak, atas desakan sejumlah kawan-kawan dekatnya, Murad akhirnya menyembunyikan identitas Aidit-nya. Alasannya cukup bisa diterima Murad: dengan tetap menggunakan nama Aidit ada kesan kalau Murad sedang menantang. Melenyapkan identitas Aidit itu dilakukan Murad hingga waktu yang cukup panjang. Ketika Murad menikah untuk yang keduakalinya hingga dianugerahi seorang anak, Murad juga menyembunyikan identitas Aidit-nya kepada istri kedua dan anaknya itu. Enam menantu Murad yang menikahi enam anak Murad dari istri pertama bahkan baru-baru ini saja mengetahui rahasia nama Aidit di belakang nama Murad. Beberapa tahun kemudian, setelah Murad berketetapan mennyandang kem bali nama Aidit, Murad baru menceritakan semuanya.

Menyembunyikan nama Aidit memang menjadi pilihan yang paling banyak diambil keluarga Aidit. Selain Asahan dan Murad, Ilham Aidit juga melakukan hal yang serupa.
Dalam rentang waktu yang cukup lama, ia hanya menggunakan nama Ilham. Ilham pernah pula menambahkan nama Alam Putera di belakang namanya. Alam Putera adalah nama samaran yang sering digunakan ayahnya ketika sering menulis di media massa pada masa mudanya.
Ilham juga memilih tak menerakan nama Aidit di belakang dua puterinya. Ilham tak mau ejekan dan cacian yang biasa dia terima dulu juga dialami anak-anaknya. Ilham juga cukup lama menyembunyikan nama Aidit kepada dua puterinya itu. Baru dua tahun yang lalu Ilham menceritakan kepada dua anaknya itu ihwal siapa nama kakeknya.
Kendati beberapa guru anak-anaknya di sekolah telah mengetahui rahasia ini, namun untungnya dua putri Ilham tak mengalam i pengalaman pahit dirinya dulu.

Kakak kandung Ilham, Iwan Aidit, yang kini masih bermukim di Kanada, juga melakukan hal yang diambil Ilham kepada anak- anaknya. Iwan menghapuskan nama Aidit dari belakang namanya. Iwan kini menyandang nama Iwan Hignasto Legowo.
Tak cuma adik, anak dan cucu Aidit yang punya kisah tentang arti sebuah nama bagi hidup mereka. Moyang dari wangsa Aidit sendiri, Abdullah Aidit, punya kisah yang menarik tentang nama Aidit yang tersam pir didirinya itu. Bedanya, kisah yang menimpa Abdullah bukan kisah sedih, melainkan cerita ringan yang, menurut hemat saya, masih relevan dikisahkan di sini semata untuk menegaskan bahwa keluarga Aidit memang punya persoalan yang khas dengan sebuah nama, sekaligus juga untuk meluruskan silap paham yang banyak beredar ihwal identitas dan kiprah Abdullah Aidit.

Ketika pada tahun 1950 Abdullah menjadi anggota parlemen mewakili daerah Belitung, Abdullah ketika itu sama sekali belum memiliki rumah sendiri. Akhirnya oleh sekretariat parlemen Abdullah diinapkan di hotel. Uniknya, setelah diatur sedemikian rupa, Abdullah harus menginap di hotel Centraal di jalan Citadel. Bukan hotelnya yang jadi masalah. Yang jadi pokok perkara adalah dengan siapa Abdullah menginap? Ternyata, bernama…Abdullah Aidit harus menginap dengan anggota parlemen Abdullah Aidid!

Ini kebetulan yang langka. Keduanya punya nama persis. Yang membedakan hanya satu huruf, yaitu huruf paling belakang nama masing-maing: Aidit dan Aidid. Jika Abdullah Aidit merupakan anggota parlemen non-fraksi, sedangkan Abdullah Aidid adalah anggota fraksi Masyumi. Barangkali, kebetulan inilah yang menyebabkan beredarnya salah kaprah ihwal jati diri Abdullah Aidit yang pernah santer dikabarkan sebagai anggota Masyumi.

sumber : kitab merah




NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!


gravatar

Wangsa Aidit - Raksasa Berkaki Lempung




Aidit lahir di kampung Pagaralang, Tanjungpandan, pulau Belitung, dengan nama lengkap Ahmad Aidit. Informasi yang didapat dari biografi Aidit di majalah bulanan PKI berbahasa Inggris, Review of Indonesia vol 7, dan dari memoir Sobron, adik kandung Aidit, diketahui Aidit lahir pada 30 Juli 1923. Tetapi informasi ini sukar dikonfirmasi akurasinya. Itulah sebabnya Jacques Leclerc, dalam esai panjangnya di majalah Prisma edisi Juli 1982, lebih memilih jalan aman dengan menulis: Aidit lahir di awal tahun duapuluhan.
Nama Aidit diambil dari nama belakang ayahnya, Abdullah Aidit. Abdullah adalah seorang bekas kuli pelabuhan yang kemudian diangkat menjadi mantri kehutanan, pegawai menengah pada Jawatan Kehutanan pemerintah Hindia Belanda. Ia dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ketaatannya itu tercermin pada dua hal: 
(1) ia menamai semua anaknya dengan nama yang ke-Arab-arab-an dan 
(2) keterlibatannya secara aktif sebagai pendiri Perguruan Nurul Islam, sebuah organisasi kemasyarakatan Islam yang kecenderungannya dekat dengan Muhammadiyah.

Jabatan Abdullah plus ketaatannya sebagai seorang muslim berikut aktivitas sosialnya yang kencang membikin Abdullah punya posisi sosial yang terpandang di Tanjungpandan, ibu kota Belitung. Itu pulalah yang membawa Abdullah mampir di parlemen (baik pada masa DPR-RIS atau DPRS-RI) sebagai utusan daerah Belitung sekaligus mewakili angkatan ‘45.
Karirnya di parlemen berhenti ketika Abdullah memutuskan untuk mengundurkan diri pada 16 Juni 1954.
Aidit adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Adiknya yang pertama bernama Rosiah. Dialah perempuan satu-satunya dari tujuh bersaudara. Rosiah sudah lama meninggal. Ia meninggal di Mekkah ketika sedang menunaikan ibadah haji. Dua anak lelaki lainnya sudah meninggal sewaktu mereka masih kecil. Jadi, hanya lima lelaki anak Abdullah yang sempat merasakan umur panjang. Berturut-berturut setelah Aidit mereka adalah Ahmad, Basri, Murad, Sobron dan, terakhir, Asahan Sulaiman.
Aidit dididik langsung kedua orangtuanya. Seperti teman-teman sebayanya yang lain, Aidit juga belajar mengaji. Seturut pengakuan Sobron, Aidit khatam mengaji sebanyak tiga kali. 
Ini bukan angka sepele. Dibutuhkan ketekunan yang tak main-main. Pertama kali Aidit khatam, sebuah pesta syukuran pun diadakan. Semua tetangga tak lupa dikirimi makanan dan penganan. Ia diarak keliling kampung. Meriah.
Aidit punya banyak kelebihan. Secara fisik ia tak terlampau kekar. Di banding adik- adiknya, Aidit yang terkecil dan tependek badannya. Tapi itu semua ditutupi dengan kebiasaannya berlatih tinju. Seorang anak yang terbiasa mengejeknya pernah merasakan bogem mentah Aidit. Hingga kini, Murad, salah seorang adiknya, masih menyimpan sejumlah potret Aidit yang sedang berlatih tinju. Lengkap dengan atributnya.

Sebagai anak, Aidit tahu betul apa artinya menjadi anak sulung. Ayahnya memang bukan orang miskin. Tapi untuk disebut kaya jelas jauh panggang dari api. Itulah pasal yang membikin Aidit kerap memutar otak bagaimana caranya agar bisa membantu keuangan orang tuanya, minimal tidak merepotkan mereka. Pilihannya adalah berjualan, berjualan apa saja. Dari mulai kerupuk hingga buah nanas yang telah dikerat-kerat. Setiap ada pertandingan sepakbola di kampungnya Aidit dipastikan ada dilapangan. Bukan untuk menonton. Tapi untuk berjualan.
Aidit dikenal juga sebagai anak yang pintar. Semua tahu ia adalah kutu buku. 
Jika menemani ayahnya berjaga di tepi hutan, Aidit memilih berdiam di sebuah rumah jaga.
Di sanalah ia bersemayam. Tenggelam dengan bacaan-bacaan kelas berat. Literatur- literatur Marxis seringkali dibacanya di sana.
Asahan, adik Aidit yang terkecil, punya kesaksian ihwal minat belajar abangnya yang luar biasa. Ketika pada 1952 pakansi ke rumahnya di Belitung, Asahan menemukan

Segumpal tumpukan kertas tebal yang diikat. Ikatan karton seberat dua kilogram itu dibukanya. Isinya beragam diploma, macam-macam piagam yang diperoleh Aidit dari kursus-kursus yang ditempuhnya hingga tamat dari berbagai ragam ilmu pengetahuan.
Dalam ingatan Asahan, dalam ikatan kertas itu terdapat piagam kursus bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Ilmu Hitung Dagang, Mengetik Cepat hingga Stenografi.
Di Tanjungpandan Aidit menyelesaikan sekolah di HIS dan Sekolah Dagang Menengah Pertama. Karena di Belitung sama sekali belum ada sekolah lanjutan, Aidit memohon kepada ayahnya untuk diijinkan bersekolah ke Batavia. Permohonan dikabulkan. 

Pada 1936, Aidit berangkat ke Batavia dengan ditemani salah seorang pamannya, A.Rachman.
Di Batavia, Aidit langsung tertarik dengan dunia pergerakan. 1939 Aidit bergabung dengan Gerindo, sebuah organisasai kepemudaan berhaluan kiri pimpinan Amir Syarifuddin. Selama pendudukan Jepang, Aidit terlibat dalam sejumlah aktivitas berbahaya dengan bekerja pada organisasi perlawanan bawah tanah. Pada periode itulah ia berkenalan dengan pemuda-pemuda radikal lainnya macam Chairul Saleh, Wikana, A.M. Hanafi. Markas mereka ada di sebuah gedung yang beralamat di Menteng 31. Dengan segera, tempat itu menjadi salah satu pusat perlawanan para
pemuda radikal yang paling massif di Batavia. Sejumlah kursus-kursus politik diadakan.
Mentornya adalah pentolan-pentolan pergerakan. Dari mulai Soekarno, Hatta hingga Syahrir.
Di awal-awal kemerdekaan, Aidit tertangkap oleh tentara Jepang. Bersama sejumlah tahanan politik lainnya, Aidit dibuang ke pulau Onrust yang merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu. Lewat negosiasi yang alot, Aidit bersama tananan lainnnya akhirnya dibebaskan.
Aidit menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada kongres PKI ke-IV, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI. Dalam  sidang-sidang KNIP, Aidit dipilih sebagai ketua Fraksi Komunis. Menjelang Madiun Affair 1948, Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan Propaganda (Agitprop). 

Di bawah bimbingan Alimin, Aidit bahu membahu bersama Lukman menerbitkan Bintang Mer ah,
berkala terbitan PKI yang punya arti strategis.
Aidit sempat pula singgah beberapa lama di Yogyakarta. Di sana ia bisa leluasa menjumpai kedua orangtuanya yang beberapa tahun sebelumnya memang telah menetap di Yogyakarta. Selama di Yogya, Abdullah, ayah Aidit, terlibat dalam sejumlah front pertempuran dengan tentara pendudukan Belanda. Aidit sendiri sibuk dengan kegiatannya di masrkas kelompok sayap kiri di bilangan Gondolayu, Yogyakarta. 
Disanalah para pemuda radikal memusatkann aktivitasnya.
Salah satu sumber informasi ihwal kegiatan Aidit di Gondolayu bisa dilihat dalam salah satu paragraf dalam memoir penyair Sitor Situmorang berjudul Sitor Situmorang, Seorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba. Di sana, Sitor mengisahkan betapa nama Aidit demikian menonjol dalam kegiatan-kegiatan pemuda radikal di Gondolayu.
Pada waktu terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat persitiwa Madiun Affair 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI 9 terbunuh. Aidit bersama Lukman, Nyoto dan Sudisman berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit melarikan diri ke Vietnam Utara. Kabar yang dihembuskan PKI menyebutkan, Aidit sempat terlibat dalam peperangan gerilya di Vietnam dan membantu perjuangan Ho Chi Minh di sana.

Pada pertengahan 1950 Aidit kembali ke Indonesia. Pada saat itu PKI sedang menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca Madiun Affair. Tak berselang lama ia terpilih menjadi Sekretariat Jenderal CC PKI. Bersama kawan-kawan seangkataannya, Aidit berhasil menyingkirkan generasi tua PKI yang dianggap terlalu lembek, elitis dan pragmatis. Angkatan tua macam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Ketika PKI mengadakan kongresnya pada 1954,
PKI betul-betul jatuh ke tangan kader dari generasi muda. Pada kongres itulah, Aidit terpilih menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKI. Ia terus menduduki jabatan tertinggi partai itu hingga saat kehancuran PKI pada 1965 terjadi. Aidit adalah Sekjen PKI yang termuda. Sekaligus juga yang terakhir.

Pengaruh dan jasa Aidit terpampang selebar-lebarnya. Di tangan Aidit, PKI menjelma menjadi sebuah partai yang disegani. PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Russia dan Cina. Itu artinya, di tangan Aidit, PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis.
Melebihi tokoh-tokoh partai lainnya, Aidit muncul sebagai seseorang yang paling bertanggungjawab dalam mengarahkan penerapan ideologi Marxisme-Leninisme dalam konteks kehidupan di Indonesia. Ia juga bertanggungjawab sepenuhnya atas pelbagai tindakan yang ditempuh PKI dalam rangka mengarahkan partai untuk mengambil cara-cara yang dipandang relevan untuk diambil, tentu saja dengan memerhitungkan ragam rintangan yang melintang.
Ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang tak dimiliki oleh tokoh-tokoh penting lain, misalnya Tan Malaka yang terpaksa harus menghabiskan banyak waktu dalam pelarian di luar negeri atau juga Musso yang lama tinggal di Sovyet. Kenyataan betapa Aidit di masa-masa akhir penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan awal-awal revolusi tetap berada di Indonesia, persisnya di Jawa, membikin ia punya pembacaan dan pengetahuan yang cukup memadai terhadap situasi dan kondisi tanah air. Aidit juga berhasil membangun sebuah jaringan kerja yang solid dan sistematis dengan sejumlah kolega, sesuatu yang tentu saja kurang dimiliki oleh Musso dan Tan Malaka.
Tetapi tak sedikit orang yang menilai Aidit punya sejumlah cacat dalam menakhodai PKI. 

Sebuah kritik bersifat antropologis datang dari Peter Edman, penulis buku Communism A La Aidit: The Indonesian Communist Party Under D.N. Aidit 1950-1965.
Kritik Edman berporos pada kegagalan Aidit untuk memahami kebudayaan Jawa.
Statusnya sebagai orang yang dilahirkan di Sumatera bukan hanya menghalang-halangi Aidit untuk menerima cara-cara Soekarno yang merupakan seorang Jawa, melainkan juga menyebabkan dirinya gagal memahami persoalan-persoalan politik, sosial dan budaya yang dihadapi PKI di tanah Jawa, tempat di mana partai yang dipimpinnya memiliki massa terbesar sekaligus juga tempat di mana gagasan-gagasan dirinya diujicobakan.
Kegagalannya untuk mempraksiskan secara sempurna ide landreform dimulai ketika Aidit gagal memahami kenapa muncul respon yang beragam atas kampanye landreform yang diusungnya. Reaksi berlebihan dan tidak cerdas dari kader-kader PKI terhadap aksi perlawanan orang-orang Jawa (yang dikomandoi oleh para tuan tanah dan para kyai pemilik kpesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur), sebut Peter Edman,…memberikan gambaran betapa atau naifnya para pemimpin partai dalam memeluk keyakinan bahwa kesadaran kelas sudah cukup memadai untuk menyatukan
tanah para petani agar bersama- sama melakukan perlawanan terhadap para tuan.
Aidit juga dituding bertanggungjawab atas terjerumusnya PKI ke dalam avonturisme politik yang berbahaya. Dukungan Aidit terhadap kudeta yang dilakukan Kolonel Untung pada pengujung September 1965 jelas-jelas menjadi blunder  yang membikin PKI mengalami kehancuran untuk selama-lamanya. Padahal jelas, partai belum siap melakukan sebuah pertarungan bersenjata. Lain hal jika, misalnya, ide Angkatan ke-V yang berisi tuntutan agar para buruh-tani dipersenjatai telah terealisir.

Di kalangan internal PKI sendiri ada suara yang menyalahkan Aidit sebagai orang yang lemah
hati . Inti dakwaan ini terletak pada ketidakberanian Aidit untuk menyerukan kepada segenap kader dan simpatisan partai untuk melakukan perlawanan total terhadap siapapun yang hendak menghancurkan partai. Aidit dituding sebagai pemimpin salon. Kenyataan bahwa Aidit adalah seorang kutu buku dan pecinta musik-musik klasik yang lembut dijadikan salah satu dasar  untuk membenarkan dakwaan ini.
Semua kekurangan-kekurangan itulah yang menjadi sebab kenapa Jacques Leclerc pernah menyindir betapa PKI di bawah kepemimpinan Aidit memang berhasil menjadi raksasa lempung !
raksasa, tetapi yang berkaki lempung

(bersambung "Kisah sepotong nama")
sumber : Kitab merah





NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!