Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

gravatar

Skotoma General Nguyen Ngoc Loan




Foto itu berjudul General Nguyen Ngoc Loan Executing a Viet Cong Prisoner in Saigon diambil oleh seorang reporter perang profesional dari associated press yang bernama Eddie Adams pada tanggal 1 februari tahun 1968 saat itu yang bersangkutan tengah berada di suatu jalanan di kota Saigon bersama kameramen televisi NBC Vo Suu guna meliput peristiwa pemberontakan Tet, sebuah serangan bersenjata yang dilancarkan oleh penguasa Komunis Vietnam terhadap para pemberontak di wilayah selatan yang didukung oleh Amerika dan sekutunya.

Di suatu jalan raya yang ramai, Adams melihat kepala satuan polisi wilayah selatan Nguyen Ngoc Loan hendak menembakkan pistol-nya ke kepala seorang anggota tentara Vietcong yang tertangkap dan terikat tak berdaya. Tanpa membuang waktu Adams segera membidikkan kameranya. Konon bunyi klik pada kameranya bertepatan saat peluru melubangi kepala si Vietcong yang kemudian diketahui bernama Nguyen Van Lém.

Eddie  kembali ke Amerika. Foto peristiwa pembunuhan berdarah dingin tersebut segera dicetak dan menjadi headline dalam berbagai surat kabar dunia disaat yang sama foto itu juga langsung menimbulkan reaksi keras public, terutama dari kalangan  aktivist anti perang dan Hak Asasi Manusia.

Senat amerika bahkan mendesak agar pemerintah segera menarik dukungan mereka terhadap kaum pemberontak Vietnam. Sementara Nguyen Ngoc Loan dilabeli sebagai penjahat perang oleh masyarakat dunia hingga akhir hayatnya.
Berkat foto kontroversial itu, Eddie Adams sempat menyabet Pulitzer Prize di tahun 1969 dan lima ratusan penghargaan bergengsi untuk Jurnalisme fotografi dan tentu saja menjadi kaya raya lewat lisensi yang dihasilkan lewat pemuatan dan cetak ulang foto itu di tahun-tahun berikutnya.

Sementara obyek dalam foto itu Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan justru mengalami nasib yang nahas. Meski pemerintah Vietnam dan wartawan-wartawan perang yang netral dikemudian hari terus saja berusaha memulihkan nama baiknya.

HISTORICAL
Konon sebelum peristiwa penembakan itu terjadi,  kota Saigon diserang dan dikuasai oleh tentara komunis Vietnam, mereka dibawah pimpinan Nguyen Van Lém dia adalah komandan dari kelompok pembantai viet cong membunuh para polisi anak buah dari Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan beserta keluarganya. Mereka juga mengumpulkan sanak keluarga sang Jenderal termasuk para putra -putri baptisnya ke dalam sebuah gedung dan membakar mereka hingga tewas. Belum lagi mereka menembaki turis-turis asing secara acak dan merusak pusat-pusat layanan masyarakat seperti gedung perkantoran dan rumah sakit.


Setelah mempertahankan kota dengan sengit demi melindungi warga sipil,pasukan kepolisian dibawah pimpinan Nguyen Ngoc Loan akhirnya berhasil menangkap Nguyen Van Lém. eksekusi dijalanan terpaksa dilakukan secara spontan demi mengakhiri sepak terjang kaum komunis dan menghentikan huru-hara.Sama sekali tidak ada motif balas dendam dari Brigadir Jenderal saat beliau melakukan eksekusi ini. Sekalipun jika mengingat pembantaian keji yang telah menimpa anak buah dan keluarganya. Adalah wajar jika dendam itu ada dalam diri Nguyen Ngoc Loan.

Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan ternyata merupakan seorang pahlawan perang, sebagai pilot beliau tercatat pernah memimpin operasi udara di wilayah  Bo Duc pada tahun 1967. Disamping itu beliau juga dikenal sebagai seorang nasionalist sejati meski ia bukan dari kalangan komunis. Sewaktu memimpin satuan polisi ia pernah menolak penahanan seorang komunis Vietcong oleh satuan keamanan Amerika di Saigon dan memaki mereka “sebagai tamu yang tidak memiliki kekuasaan hukum.”



Beberapa hari setelah foto dirilis, seorang aktivist menyerang Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan dengan senapan mesin. seorang wartawan Australia bernama Pat Burgess menolong sang Jenderal yang terluka dan membawanya ke Rumah sakit. meski nyawanya berhasil diselamatkan namun sang jenderal harus mengalami amputasi pada kedua kakinya. demi alasan keamanan dan keselamatan keluarganya di masa depan,  Nguyen Ngoc Loan mundur dari dinas kemiliteran dan memutuskan pensiun di Amerika Serikat.
Berkat Bantuan pemerintah Amerika dan sahabat-sahabatnya , ia berhasil mendirikan usaha kedai Pizza di Washington DC, Burke, Virginia. Namun usaha ini terpaksa ditutup beberapa waktu kemudian, setelah media massa membocorkan Identitasnya yang kemudian membuat sang jenderal kembali menerima ancaman-ancaman dan aksi-vandalisme dari aktivist anti perang dan Hak Asasi Kemanusiaan.


Eddie Adams sempat menemui Nguyen Ngoc Loan di kedainya pada suatu ketika dan dia melihat sendiri betapa anak-anak muda amerika mencoret-coret kedai Pizza itu dengan pesan-pesan ancaman dan kata-kata kotor. ia sama sekali tak menduga bahwa selembar fotonya bisa menimbulkan sifat kebencian nasional terhadap diri sang Jenderal.

Pada suatu kesempatan, saat tampil di depan Publik Eddie Adams menyampaikan permintaan maaf pada Nguyen Ngoc Loan dan keluarganya. Atas semua penderitaaan yang mereka alami sebagai akibat dari foto hasil bidikannya. menurutnya foto itu telah mendorong publik menghakimi reputasi sang Jenderal secara jahat dan sepihak dan bagai senapan mesin foto itu juga turut menghabisi karir sang Jenderal. meski tanpa tehnik manipulasi sebuah foto belum tentu mengambarkan suatu kebenaran.

Nguyen Ngoc Loan meninggal pada tanggal 14 juli 1998 karena penyakit kanker yang menjangkitinya semenjak hijrah ke Amerika Serikat. Eddie Adams hadir pada upacara pemakaman beliau dalam pidatonya ia mengajak masyarakat Amerika Serikat untuk turut berbelasungkawa. karena menurutnya dalam peristiwa tahun 1968 Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan telah melindungi warganegara Amerika serikat yang ada disana dan juga ikut serta melindungi kepentingan pemerintah mereka di Vietnam. 






Menurut Sir Leigh Teabing KBE dan Prof Robert Landon, Skotoma adalah keadaan dimana mata kita menolak untuk melihat detail dari gambar yang sering kita lihat dan kemudian menjustifikasi sesuatu atas dasar pengetahuan yang memang telah ada dalam pikiran kita.
Ketika melihat foto diatas, menurut anda siapa Villain diantara dua orang Vietnam itu. Apakah jenderal yang memegang pistol atau tawanan yang tertembak?

Adalah wajar, jika begitu melihat tampilan visual diatas kita lantas  berasumsi bahwa sang jenderal sebagai pihak antagonist-nya. bagaimana-pun dia lah yang sedang membawa pistol dan sasaran tembaknya adalah seorang tawanan yang terikat dan tampak tak berdaya. benarkah demikian? atau itu hanya semacam Skotoma?



NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Wangsa Aidit - Mengenang yang Telah Beranjak Jauh



Malam itu Sobron betul-betul merasa sepi.
Sekaligus malu. Juga terhina. Jauh-jauh datang dari Paris, ia sama sekali tak beroleh sambutan. Genangan rasa kangen akan kampung halaman dan kerabat lindap dengan cara yang aneh sekaligus menyesakkan.
Itulah kali pertama Sobron menginjakkan kembali tanah Belitung. Ia datang dengan Laura, cucunya yang baru berusia 10 tahun. Malam itu Laura dibawa beberapa kerabat Sobron. 
Akan dibawa keliling. Begitu katanya.


Sobron betul-betul merana. Malam itu ia sendirian di Hotel Melati. Tak tahu hendak kemana ia. Tak ada tujuan. Tak ada satu pun kerabatnya yang menawarinya menginap.
Kerabat-kerabat Sobron hanya datang ke hotel. Itu pun tak lama. Setelah dirasa cukup,mereka pergi satu per satu.

1996 memang tahun yang masih belum ramah bagi orang-orang seperti Sobron.
Sebenarnya ia sedikit bisa memaklumi polah kerabat-kerabatnya itu. Mereka punya alasan yang masuk akal. Sobron sendiri memang tak berniat menyusahkan kerabatnya.
Ia datang hanya ingin menuntaskan rasa kangen yang sudah menjompak di ubun-ubun.
Barangkali, rasa sentimentil telah menyeret Sobron pada situasi emosi yang bergelora, sekaligus juga rapuh.
Sobron akhirnya memilih menelusuri garis pantai. Suasana sungguh sepi. Jarang sekali Sobron berpapasan dengan orang lain. Tak pelak suasana hati Sobron kian terbawa sendu. Lama-lama, Sobron mensyukuri keadaan itu. Dengan sepinya Tanjungpandan, Sobron merasa ia bisa bebas menghabiskan malam, menuntaskan rasa kangen,
merayapi bertumpuk kenangan lama, tanpa harus diimbuhi tetek bengek hiruk-pikuk orang lain.
Sobron melangkah terus. Ia ingat ketika dulu sering berkumpul dengan kawan-kawan lamanya tiap kali ia pakansi atau liburan. Liburan biasanya diisi Sobron dengan pelbagai kegiatan. Sekali waktu ia pernah mengadakan beberapa pementasan drama.
Dua tahun berturut-turut dipentaskan naskahnya Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira serta Bunga Rumah Makan. Sobron cum suis pernah pula mementaskan naskah Dosa Tak Berampun, saduran dari naskah Ayahku Pulang, sebuah drama Jepang yang disadur oleh Usmar Ismail. Semua pertunjukan itu sangat disukai penduduk Tanjungpandan.
Setiap kali pementasan usai, Sobron dan kawan-kawannya masih disibukkan oleh aktivitas mengemasi segala macam perangkat pementasan. Tak jarang semua baru kelar ketika jarum jam telah menunjukkan angka 24.00. Sekujur badan tentu saja terasa lelah. Dalam kondisi begitu, biasanya mereka pergi menuju pantai Tanjung Pendam. 


Di sana mereka melolosi semua pakaian yang melekat di badan. Bugil. Telanjang.
Berenang dan bermain ombak di bawah temaram sinar bulan purnama.
Sobron memercepat langkahnya. Ia ingin seegera mungkin mereguk kenangan ketika bersama kawan-kawannya telanjang bulat menantang ombak. Tapi di manakah tempat itu?

Setengah mati Sobron mencarinya. Tapi tak juga ia temukan. Tak ada lagi pantai yang landai. Pasir yang dulu menghampar putih bak permadani dari sutera terlah berganti oleh pasir berwarna hitam yang diseraki bertimbun-timbun sampah plastik. 
Pepohonan nyiur yang dulu pernah dinaikinya sembari bermain- main kini sudah tak ada lagi, berganti menjadi semak dan alang-alang yang sangat tak teratur.

Ah…
Sobron mengedarkan pandang. Sobron berharap-harap cemas.
rumah-rumah itu ternyata masih berdiri. Legalah Sobron. Ia pandangi lekat-lekat deretan rumah-rumah itu. 
Tapi Sobron lagi-lagi menangguk kecewa. Rumah-rumah yang dulu rapi, indah dan terawat itu kini telah menjadi berderet bangunan tua yang usang, tak terawat dan reot.
Sobron menghela nafas. Ada yang hilang bersama butir-butir air matanya yang jatuh bergulir pelan-pelan. 
Sobron tak tahu apa yang sebenarnya telah hilang….



NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Wangsa Aidit - Kisah Sepotong Nama




Persoalan nama bisa menjadi persoalan tak penting bagi Shakespeare. What Is an a name? Apakah arti sebuah nama? Tapi cobalah tanyakan apa arti sebuah nama kepada semua anggota keluarga D.N. Aidit. Bersiaplah menerima jawaban yang berbanding terbalik dengan cemooh Shakespeare yang termasyhur itu.
Bagi adik, anak, cucu, keponakan dan semua kerabat D.N. Aidit, nama bisa menjadi persoalan hidup mati. Kata Aidit yang melekat di belakang namanya menjadi password yang telah membawa mereka pada sebuah jalan hidup yang sungguh berliku, pedih, dan sangat… sangat… tidak menyenangkan.
Aidit. Selembar nama itu menjadi bala bagi siapapun yang mengenakannya. Tak pandang bulu. Apakah anak kecil atau orang tua yang sudah renta. Bahkan orang-orang yang tak ada nama Aidit di identitasnya tetap akan menanggung bala jika diketahui bersangkut, langsung atau tidak, dengan siapa pun yang memiliki nama Aidit. Bala itu macam-macam bentuknya: dari mulai ditangkap, dipenjara, diasingkan ke pulau yang jauh, diawasi, dan diekskomunikasi dari kerabatnya yang lain.
Itu bala yang dihumbalangkan secara langsung oleh penguasa. Sejumlah bala yang tak kalah memedihkan juga datang bertubi-tubi dari masyarakat biasa, para tetangga, teman, bahkan kerabat. Para pemilik nama Aidit dijauhi. Tak berkawan. Dicaci maki anggota setan sebagai keluarga menjadi pengalaman sehari-hari.

Tak banyak yang bisa diperbuat. Diam adalah pilihan yang paling masuk akal. Sesekali salah satu pemilik nama Aidit itu melawan. Berkelahi dengan para pengejeknya. Wajah yang melebam dan babak belur adalah hadiah yang ditangguk dari aksi perlawanan dan perkelahian itu boleh percaya boleh tidak, sudah lama sekali, jauh sebelum pageblug 1965, persoalan nama memang sudah menjadi bahan pembicaraan di keluarga Aidit.
Kita bisa memulainya dari nama Dipa Nusantara Aidit: nama yang paling masyhur dari serentetan nama Aidit yang lain. Kita tahu, nama asli Aidit adalah Ahmad Aidit. Itulah sebabnya semua adik dan kerabat Aidit memanggilnya Bang Amat. Ada dua versi tentang muasal nama Dipa Nusantara
Aidit. Versi pertama menyebutkan bahwa ketika Aidit berada di Batavia dan terlibat dalam aktivitas politik di Menteng 31, Aidit mengirim surat kepada ayahnya, Abdullah.
Surat itu berisi permohonan agar Abdullah mengijinkan Aidit berganti nama. Abdullah mengabulkan. Maka bergantilah nama Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit.
Perubahan nama itu kemudian oleh Aidit sendiri disahkan di hadapan notaris.
Pada masa itu, perubahan nama bukanlah barang aneh. Beberapa pemuda aktivis melakukannya. Mungkin untuk menandai perbatasan antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru. Mengganti nama lama dengan nama baru diharapkan bisa menjompakkan semangat memerjuangkan nilai-nilai baru tersebut. Salah satu nama yang juga mengubah nama adalah Hanafi. Salah satu pentolan Menteng 31 ini juga mengganti nama depannya dengan inisial A.M. yang merupakan kependekan dari kata Anak Marhaen. Jadilah Anak Marhaen Hanafi.


Nama Dipa Nusantara sendiri dipakai Aidit untuk menghormati jasa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Aidit berharap, penggunaan nama Dipa itu bisa memantik inspirasi dan semangatnya untuk mem bebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme. Persis seperti yang pernah pula diupayakan Diponegoro.
Tetapi tak sedikit yang sinis menanggapi perubahan nama Aidit. Salah satu argumen kelompok ini adalah: Aidit menghapus nama Ahmad menjadi Dipa Nusantara sepenuhnya alasan politis. Mosok pemimpin PKI namanya Ahmad? Versi pertama inilah yang hingga kini paling santer terdengar. Salah seorang yang mengedarkan versi ini adalah adik kandung Aidit sendiri, Sobron Aidit. Sejumlah
literatur tentang Aidit yang paling kredibel sekalipun, seperti esai Leclerc atau bukunya Peter Edman, meyakini versi inilah yang paling bisa dipercaya.

Versi lain yang nyaris tak muncul ke permukaan dikemukakan oleh Asahan Sulaiman Adit, bungsu dari tujuh bersaudara Aidit. Versi ini bisa dijumpai dalam buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (Yogyakarta: Era Publisher, 2005) yang merupakan sebuah reportoar karya dua penulis muda Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah. (Buku itulah yang paling banyak menyumbangkan informasi bagi penulisan esai ini, khususnya untuk bagian-bagian tentang kehidupan keluarga Aidit di luar Sobron dan D.N. Aidit sendiri).
Kata Asahan, Ahmad Aidit telah berubah menjadi Dipa Nusantara Aidit sejak ia dilahirkan. Sumber yang digunakan Asahan adalah sebuah akte kelahiran Aidit sendiri.
Akte itu bertarikh 1923, tahun kelahiran Aidit, dan ditandatangani langsung oleh Abdullah Aidit langsung. Asahan ingat betul, akte yang berhiaskan lukisan indah itu masih menggunakan bahasa Melayu agak kuno. Di akte itulah tertulis: Anak dari Abdullah Aidit yang lahir pada 1923 yang saya beri nama Ahmad Aidit, bila dia telah menginjak usia dewasa akan menggunakan nama Dipa Nusantara Aidit.
Jadi jelas, tegas Asahan, nama Dipa Nusantara bukanlah ciptaan abangnya ketika ia sudah di Batavia, melainkan nama yang memang diciptakan oleh ayahnya langsung.
Asahan, si bungsu yang mahir menggesek biola ini, juga punya sebuah refleksi yang lucu tentang persoalan nama di keluarganya. Begitu menyadari bahwa nama Dipa Nusantara adalah ciptaan ayahnya, Asahan langsung berpikir: Kenapa ayahnya tak menamai anaknya yang lain dengan nama segagah Dipa Nusantara? Asahan bertanya-tanya, kenapa namanya tidak ditambah menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa saat masih kecil? mengapa ketika dewasa namanya tidak berganti menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa Aidit yang disingkat SDK Aidit. Sedangkan Sobron umpamanya menjadi Sobron Penata Persada Aidit dan disingkat SPP Aidit. Lalu Murad, misalnya, berubah menjadi Murad Zamrud Jawa Dwipa Aidit atau MZJD Aidit.
Sedangkan Basri menjadi Basri menjadi Basri Sengsara Sepanjang Masa Aidit dan
disingkat BSSM Aidit.
Basri adalah abang Asahan yang sepanjang hidupnya selalu dirundung sengsara hidup sehingga menurut Asahan dia itu tak berhak menggunakan nama yang jaya berbinar-binar.
Asahan sendiri akhirnya memang melakukan perubahan nama. Asahan adalah nama hasil perubahan itu. Aslinya ia bernama Sulaiman. Setelah hidup menggelandang di Eropa, Asahan berpikir untuk mengganti nama. Maka diperolehlah nama Asahan.
Lengkapnya Asahan Alham. Alham  sendiri merupakan akronim dari kalimat alhamdulillah. Nama Aidit dibuang jauh-jauh untuk selama-lamanya.
Murad, adik Aidit yang lain, pernah pula menghapuskan nama Aidit. Ketika ia baru saja dibebaskan dari Pulau Buru pada 1978, Murad langsung menyaksikan sejumlah kenyataan pahit yang jelas-jelas diskriminatif. Mereka selalu siap di-litsus (akronim dari penelitian khusus , sebuah metode screening yang dipraktikkan orde Baru). 
Mereka yang tak lulus litsus hampir dipastikan tidak akan pernah bisa memiliki KTP. 
Mereka juga tak mungkin bisa menjadi pegawai negeri sipil maupun tentara. Mereka dijegal.
Ketika Murad masih tinggal di Cikole, Bandung, Murad nekat tetap memasang nama Aidit. 
Tetapi ketika sedang berwirausaha di bilangan Depok dengan memelihara ternak, atas desakan sejumlah kawan-kawan dekatnya, Murad akhirnya menyembunyikan identitas Aidit-nya. Alasannya cukup bisa diterima Murad: dengan tetap menggunakan nama Aidit ada kesan kalau Murad sedang menantang. Melenyapkan identitas Aidit itu dilakukan Murad hingga waktu yang cukup panjang. Ketika Murad menikah untuk yang keduakalinya hingga dianugerahi seorang anak, Murad juga menyembunyikan identitas Aidit-nya kepada istri kedua dan anaknya itu. Enam menantu Murad yang menikahi enam anak Murad dari istri pertama bahkan baru-baru ini saja mengetahui rahasia nama Aidit di belakang nama Murad. Beberapa tahun kemudian, setelah Murad berketetapan mennyandang kem bali nama Aidit, Murad baru menceritakan semuanya.

Menyembunyikan nama Aidit memang menjadi pilihan yang paling banyak diambil keluarga Aidit. Selain Asahan dan Murad, Ilham Aidit juga melakukan hal yang serupa.
Dalam rentang waktu yang cukup lama, ia hanya menggunakan nama Ilham. Ilham pernah pula menambahkan nama Alam Putera di belakang namanya. Alam Putera adalah nama samaran yang sering digunakan ayahnya ketika sering menulis di media massa pada masa mudanya.
Ilham juga memilih tak menerakan nama Aidit di belakang dua puterinya. Ilham tak mau ejekan dan cacian yang biasa dia terima dulu juga dialami anak-anaknya. Ilham juga cukup lama menyembunyikan nama Aidit kepada dua puterinya itu. Baru dua tahun yang lalu Ilham menceritakan kepada dua anaknya itu ihwal siapa nama kakeknya.
Kendati beberapa guru anak-anaknya di sekolah telah mengetahui rahasia ini, namun untungnya dua putri Ilham tak mengalam i pengalaman pahit dirinya dulu.

Kakak kandung Ilham, Iwan Aidit, yang kini masih bermukim di Kanada, juga melakukan hal yang diambil Ilham kepada anak- anaknya. Iwan menghapuskan nama Aidit dari belakang namanya. Iwan kini menyandang nama Iwan Hignasto Legowo.
Tak cuma adik, anak dan cucu Aidit yang punya kisah tentang arti sebuah nama bagi hidup mereka. Moyang dari wangsa Aidit sendiri, Abdullah Aidit, punya kisah yang menarik tentang nama Aidit yang tersam pir didirinya itu. Bedanya, kisah yang menimpa Abdullah bukan kisah sedih, melainkan cerita ringan yang, menurut hemat saya, masih relevan dikisahkan di sini semata untuk menegaskan bahwa keluarga Aidit memang punya persoalan yang khas dengan sebuah nama, sekaligus juga untuk meluruskan silap paham yang banyak beredar ihwal identitas dan kiprah Abdullah Aidit.

Ketika pada tahun 1950 Abdullah menjadi anggota parlemen mewakili daerah Belitung, Abdullah ketika itu sama sekali belum memiliki rumah sendiri. Akhirnya oleh sekretariat parlemen Abdullah diinapkan di hotel. Uniknya, setelah diatur sedemikian rupa, Abdullah harus menginap di hotel Centraal di jalan Citadel. Bukan hotelnya yang jadi masalah. Yang jadi pokok perkara adalah dengan siapa Abdullah menginap? Ternyata, bernama…Abdullah Aidit harus menginap dengan anggota parlemen Abdullah Aidid!

Ini kebetulan yang langka. Keduanya punya nama persis. Yang membedakan hanya satu huruf, yaitu huruf paling belakang nama masing-maing: Aidit dan Aidid. Jika Abdullah Aidit merupakan anggota parlemen non-fraksi, sedangkan Abdullah Aidid adalah anggota fraksi Masyumi. Barangkali, kebetulan inilah yang menyebabkan beredarnya salah kaprah ihwal jati diri Abdullah Aidit yang pernah santer dikabarkan sebagai anggota Masyumi.

sumber : kitab merah




NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!


gravatar

Wangsa Aidit - Raksasa Berkaki Lempung




Aidit lahir di kampung Pagaralang, Tanjungpandan, pulau Belitung, dengan nama lengkap Ahmad Aidit. Informasi yang didapat dari biografi Aidit di majalah bulanan PKI berbahasa Inggris, Review of Indonesia vol 7, dan dari memoir Sobron, adik kandung Aidit, diketahui Aidit lahir pada 30 Juli 1923. Tetapi informasi ini sukar dikonfirmasi akurasinya. Itulah sebabnya Jacques Leclerc, dalam esai panjangnya di majalah Prisma edisi Juli 1982, lebih memilih jalan aman dengan menulis: Aidit lahir di awal tahun duapuluhan.
Nama Aidit diambil dari nama belakang ayahnya, Abdullah Aidit. Abdullah adalah seorang bekas kuli pelabuhan yang kemudian diangkat menjadi mantri kehutanan, pegawai menengah pada Jawatan Kehutanan pemerintah Hindia Belanda. Ia dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ketaatannya itu tercermin pada dua hal: 
(1) ia menamai semua anaknya dengan nama yang ke-Arab-arab-an dan 
(2) keterlibatannya secara aktif sebagai pendiri Perguruan Nurul Islam, sebuah organisasi kemasyarakatan Islam yang kecenderungannya dekat dengan Muhammadiyah.

Jabatan Abdullah plus ketaatannya sebagai seorang muslim berikut aktivitas sosialnya yang kencang membikin Abdullah punya posisi sosial yang terpandang di Tanjungpandan, ibu kota Belitung. Itu pulalah yang membawa Abdullah mampir di parlemen (baik pada masa DPR-RIS atau DPRS-RI) sebagai utusan daerah Belitung sekaligus mewakili angkatan ‘45.
Karirnya di parlemen berhenti ketika Abdullah memutuskan untuk mengundurkan diri pada 16 Juni 1954.
Aidit adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Adiknya yang pertama bernama Rosiah. Dialah perempuan satu-satunya dari tujuh bersaudara. Rosiah sudah lama meninggal. Ia meninggal di Mekkah ketika sedang menunaikan ibadah haji. Dua anak lelaki lainnya sudah meninggal sewaktu mereka masih kecil. Jadi, hanya lima lelaki anak Abdullah yang sempat merasakan umur panjang. Berturut-berturut setelah Aidit mereka adalah Ahmad, Basri, Murad, Sobron dan, terakhir, Asahan Sulaiman.
Aidit dididik langsung kedua orangtuanya. Seperti teman-teman sebayanya yang lain, Aidit juga belajar mengaji. Seturut pengakuan Sobron, Aidit khatam mengaji sebanyak tiga kali. 
Ini bukan angka sepele. Dibutuhkan ketekunan yang tak main-main. Pertama kali Aidit khatam, sebuah pesta syukuran pun diadakan. Semua tetangga tak lupa dikirimi makanan dan penganan. Ia diarak keliling kampung. Meriah.
Aidit punya banyak kelebihan. Secara fisik ia tak terlampau kekar. Di banding adik- adiknya, Aidit yang terkecil dan tependek badannya. Tapi itu semua ditutupi dengan kebiasaannya berlatih tinju. Seorang anak yang terbiasa mengejeknya pernah merasakan bogem mentah Aidit. Hingga kini, Murad, salah seorang adiknya, masih menyimpan sejumlah potret Aidit yang sedang berlatih tinju. Lengkap dengan atributnya.

Sebagai anak, Aidit tahu betul apa artinya menjadi anak sulung. Ayahnya memang bukan orang miskin. Tapi untuk disebut kaya jelas jauh panggang dari api. Itulah pasal yang membikin Aidit kerap memutar otak bagaimana caranya agar bisa membantu keuangan orang tuanya, minimal tidak merepotkan mereka. Pilihannya adalah berjualan, berjualan apa saja. Dari mulai kerupuk hingga buah nanas yang telah dikerat-kerat. Setiap ada pertandingan sepakbola di kampungnya Aidit dipastikan ada dilapangan. Bukan untuk menonton. Tapi untuk berjualan.
Aidit dikenal juga sebagai anak yang pintar. Semua tahu ia adalah kutu buku. 
Jika menemani ayahnya berjaga di tepi hutan, Aidit memilih berdiam di sebuah rumah jaga.
Di sanalah ia bersemayam. Tenggelam dengan bacaan-bacaan kelas berat. Literatur- literatur Marxis seringkali dibacanya di sana.
Asahan, adik Aidit yang terkecil, punya kesaksian ihwal minat belajar abangnya yang luar biasa. Ketika pada 1952 pakansi ke rumahnya di Belitung, Asahan menemukan

Segumpal tumpukan kertas tebal yang diikat. Ikatan karton seberat dua kilogram itu dibukanya. Isinya beragam diploma, macam-macam piagam yang diperoleh Aidit dari kursus-kursus yang ditempuhnya hingga tamat dari berbagai ragam ilmu pengetahuan.
Dalam ingatan Asahan, dalam ikatan kertas itu terdapat piagam kursus bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Ilmu Hitung Dagang, Mengetik Cepat hingga Stenografi.
Di Tanjungpandan Aidit menyelesaikan sekolah di HIS dan Sekolah Dagang Menengah Pertama. Karena di Belitung sama sekali belum ada sekolah lanjutan, Aidit memohon kepada ayahnya untuk diijinkan bersekolah ke Batavia. Permohonan dikabulkan. 

Pada 1936, Aidit berangkat ke Batavia dengan ditemani salah seorang pamannya, A.Rachman.
Di Batavia, Aidit langsung tertarik dengan dunia pergerakan. 1939 Aidit bergabung dengan Gerindo, sebuah organisasai kepemudaan berhaluan kiri pimpinan Amir Syarifuddin. Selama pendudukan Jepang, Aidit terlibat dalam sejumlah aktivitas berbahaya dengan bekerja pada organisasi perlawanan bawah tanah. Pada periode itulah ia berkenalan dengan pemuda-pemuda radikal lainnya macam Chairul Saleh, Wikana, A.M. Hanafi. Markas mereka ada di sebuah gedung yang beralamat di Menteng 31. Dengan segera, tempat itu menjadi salah satu pusat perlawanan para
pemuda radikal yang paling massif di Batavia. Sejumlah kursus-kursus politik diadakan.
Mentornya adalah pentolan-pentolan pergerakan. Dari mulai Soekarno, Hatta hingga Syahrir.
Di awal-awal kemerdekaan, Aidit tertangkap oleh tentara Jepang. Bersama sejumlah tahanan politik lainnya, Aidit dibuang ke pulau Onrust yang merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu. Lewat negosiasi yang alot, Aidit bersama tananan lainnnya akhirnya dibebaskan.
Aidit menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada kongres PKI ke-IV, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI. Dalam  sidang-sidang KNIP, Aidit dipilih sebagai ketua Fraksi Komunis. Menjelang Madiun Affair 1948, Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan Propaganda (Agitprop). 

Di bawah bimbingan Alimin, Aidit bahu membahu bersama Lukman menerbitkan Bintang Mer ah,
berkala terbitan PKI yang punya arti strategis.
Aidit sempat pula singgah beberapa lama di Yogyakarta. Di sana ia bisa leluasa menjumpai kedua orangtuanya yang beberapa tahun sebelumnya memang telah menetap di Yogyakarta. Selama di Yogya, Abdullah, ayah Aidit, terlibat dalam sejumlah front pertempuran dengan tentara pendudukan Belanda. Aidit sendiri sibuk dengan kegiatannya di masrkas kelompok sayap kiri di bilangan Gondolayu, Yogyakarta. 
Disanalah para pemuda radikal memusatkann aktivitasnya.
Salah satu sumber informasi ihwal kegiatan Aidit di Gondolayu bisa dilihat dalam salah satu paragraf dalam memoir penyair Sitor Situmorang berjudul Sitor Situmorang, Seorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba. Di sana, Sitor mengisahkan betapa nama Aidit demikian menonjol dalam kegiatan-kegiatan pemuda radikal di Gondolayu.
Pada waktu terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat persitiwa Madiun Affair 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI 9 terbunuh. Aidit bersama Lukman, Nyoto dan Sudisman berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit melarikan diri ke Vietnam Utara. Kabar yang dihembuskan PKI menyebutkan, Aidit sempat terlibat dalam peperangan gerilya di Vietnam dan membantu perjuangan Ho Chi Minh di sana.

Pada pertengahan 1950 Aidit kembali ke Indonesia. Pada saat itu PKI sedang menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca Madiun Affair. Tak berselang lama ia terpilih menjadi Sekretariat Jenderal CC PKI. Bersama kawan-kawan seangkataannya, Aidit berhasil menyingkirkan generasi tua PKI yang dianggap terlalu lembek, elitis dan pragmatis. Angkatan tua macam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Ketika PKI mengadakan kongresnya pada 1954,
PKI betul-betul jatuh ke tangan kader dari generasi muda. Pada kongres itulah, Aidit terpilih menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKI. Ia terus menduduki jabatan tertinggi partai itu hingga saat kehancuran PKI pada 1965 terjadi. Aidit adalah Sekjen PKI yang termuda. Sekaligus juga yang terakhir.

Pengaruh dan jasa Aidit terpampang selebar-lebarnya. Di tangan Aidit, PKI menjelma menjadi sebuah partai yang disegani. PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Russia dan Cina. Itu artinya, di tangan Aidit, PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis.
Melebihi tokoh-tokoh partai lainnya, Aidit muncul sebagai seseorang yang paling bertanggungjawab dalam mengarahkan penerapan ideologi Marxisme-Leninisme dalam konteks kehidupan di Indonesia. Ia juga bertanggungjawab sepenuhnya atas pelbagai tindakan yang ditempuh PKI dalam rangka mengarahkan partai untuk mengambil cara-cara yang dipandang relevan untuk diambil, tentu saja dengan memerhitungkan ragam rintangan yang melintang.
Ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang tak dimiliki oleh tokoh-tokoh penting lain, misalnya Tan Malaka yang terpaksa harus menghabiskan banyak waktu dalam pelarian di luar negeri atau juga Musso yang lama tinggal di Sovyet. Kenyataan betapa Aidit di masa-masa akhir penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan awal-awal revolusi tetap berada di Indonesia, persisnya di Jawa, membikin ia punya pembacaan dan pengetahuan yang cukup memadai terhadap situasi dan kondisi tanah air. Aidit juga berhasil membangun sebuah jaringan kerja yang solid dan sistematis dengan sejumlah kolega, sesuatu yang tentu saja kurang dimiliki oleh Musso dan Tan Malaka.
Tetapi tak sedikit orang yang menilai Aidit punya sejumlah cacat dalam menakhodai PKI. 

Sebuah kritik bersifat antropologis datang dari Peter Edman, penulis buku Communism A La Aidit: The Indonesian Communist Party Under D.N. Aidit 1950-1965.
Kritik Edman berporos pada kegagalan Aidit untuk memahami kebudayaan Jawa.
Statusnya sebagai orang yang dilahirkan di Sumatera bukan hanya menghalang-halangi Aidit untuk menerima cara-cara Soekarno yang merupakan seorang Jawa, melainkan juga menyebabkan dirinya gagal memahami persoalan-persoalan politik, sosial dan budaya yang dihadapi PKI di tanah Jawa, tempat di mana partai yang dipimpinnya memiliki massa terbesar sekaligus juga tempat di mana gagasan-gagasan dirinya diujicobakan.
Kegagalannya untuk mempraksiskan secara sempurna ide landreform dimulai ketika Aidit gagal memahami kenapa muncul respon yang beragam atas kampanye landreform yang diusungnya. Reaksi berlebihan dan tidak cerdas dari kader-kader PKI terhadap aksi perlawanan orang-orang Jawa (yang dikomandoi oleh para tuan tanah dan para kyai pemilik kpesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur), sebut Peter Edman,…memberikan gambaran betapa atau naifnya para pemimpin partai dalam memeluk keyakinan bahwa kesadaran kelas sudah cukup memadai untuk menyatukan
tanah para petani agar bersama- sama melakukan perlawanan terhadap para tuan.
Aidit juga dituding bertanggungjawab atas terjerumusnya PKI ke dalam avonturisme politik yang berbahaya. Dukungan Aidit terhadap kudeta yang dilakukan Kolonel Untung pada pengujung September 1965 jelas-jelas menjadi blunder  yang membikin PKI mengalami kehancuran untuk selama-lamanya. Padahal jelas, partai belum siap melakukan sebuah pertarungan bersenjata. Lain hal jika, misalnya, ide Angkatan ke-V yang berisi tuntutan agar para buruh-tani dipersenjatai telah terealisir.

Di kalangan internal PKI sendiri ada suara yang menyalahkan Aidit sebagai orang yang lemah
hati . Inti dakwaan ini terletak pada ketidakberanian Aidit untuk menyerukan kepada segenap kader dan simpatisan partai untuk melakukan perlawanan total terhadap siapapun yang hendak menghancurkan partai. Aidit dituding sebagai pemimpin salon. Kenyataan bahwa Aidit adalah seorang kutu buku dan pecinta musik-musik klasik yang lembut dijadikan salah satu dasar  untuk membenarkan dakwaan ini.
Semua kekurangan-kekurangan itulah yang menjadi sebab kenapa Jacques Leclerc pernah menyindir betapa PKI di bawah kepemimpinan Aidit memang berhasil menjadi raksasa lempung !
raksasa, tetapi yang berkaki lempung

(bersambung "Kisah sepotong nama")
sumber : Kitab merah





NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!





gravatar

Wangsa Aidit - Kabar Kematian!




Sobron masih ingat kapan, bagaimana, dari mana dan di mana ia pertama kali mendengar kabar kematian abangnya, D.N. Aidit. Ketika itu Sobron sedang menetap di Peking.
Ia bekerja sebagai tenaga pengajar di IBA, sebuah akademi yang dibiayai Partai Komunis Cina. Sebelum menjadi pengajar, Sobron sempat pula menjadi penerjemah majalah Peking Review yang diterbitkan oleh Penerbitan Pustaka Bahasa Asing Peking.
Selama menjadi tanaga pengajar, Aidit dan sejumlah koleganya diinapkan di Hotel Persahabatan, Friendship Hotel.

Ketika itu warsa 1965 sudah sampai pengujung. Desember 1965. Sobron dan semua ekspatriat asal Indonesia sudah tahu banyak ihwal kondisi yang terjadi di tanah air.
Mereka tahu bagaimana aktivis PKI serta segenap anggota keluarganya dicari-cari,ditangkapi, diasingkan dan sebagian lagi dibunuh. Kabar tak mengenakkan tentang tanah air terus berseliweran makin kencang. Sobron tak bisa membayangkan bagaimana nasib keluarganya di Jakarta. Bagaimana kabar Aidit? Murad? Basri? Apa yang menimpa Tanti dan tiga anak lelaki kecilnya: Iwan, Irfan dan Ilham?

Di salah satu malam di bulan Desember yang mencekik itu, Sobron dan kolega-koleganya keluar dari hotel. Ada pertemuan penting yang harus dihadiri.
Ternyata Sobron dipertemukan dengan delegasi Cina yang baru saja menghadiri sebuah Konferensi Internasional di Havana, Kuba. Ketika delegasi Cina berkesempatan bersua dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro, mereka beroleh kabar tak mengenakkan tentang Indonesia, persisnya kabar tertembak matinya Dipa Nusantara Aidit, pemimpin tertinggi PKI. Castro sendiri yang mengatakannya.
Awalnya Sobron tak percaya. Bagaimana bisa abangnya itu bisa dengan mudahnya mati?Mungkinkah seorang pemimpin partai besar yang dihuni tiga juta anggota setianya bisa dengan mudah tumpas? Bukankah abangnya adalah orang yang sangat lihai bersembunyi? Reputasi Aidit sebagai seorang yang memiliki intuisi kuat sering membawanya berhasil lolos dari lubang jarum yang sempit sekalipun.
Sobron tahu betul bagaimana abangnya itu berhasil keluar dari kejaran musuh ketika peristiwa Madiun Affair 1948 meledak.
Ia juga tak akan melupakan kepandaian abanganya itu dalam hal menyamar atau menyaru.
Dia sendiri pernah menjadi korban dari kelicikan abangnya itu. Ketika itu di Jakarta sedang terjadi razia besar-besaran terhadap aktivis-aktivis PKI yang dilakukan oleh Kabinet Sukiman. Sobron sering menyebutnya sebagai Razia Agustus karena rentetan razia itu memang berlangsung gigih-gigihnya pada bulan Agustus 1951.
Di suatu malam ketika Sobron sedang berjalan di sekitar Pasar Matraman, ia melihat sesosok tubuh yang lamat-lamat ia kenal. Lelaki itu tampak tua. Berkacamata.
Rambutnya putih penuh dengan uban. Berkopiah. Jalannya agak terbungkuk dan terpincang-pincang. Lelaki tua itu berjalan dengan menggunakan tongkat.
Dicobanya memanggil ingatan. Tapi gagal. Sobron tetap lupa di mana dan kapan pernah betemu.

Sobron nekat mendekati lelaki tua itu. Begitu jarak makin rapat, lelaki tua itu malah memercepat jalannya. Makin Sobron mengejar, makin cepat lelaki tua itu menghindar.
Ketika akhirnya lelaki tua itu berhasil didekati oleh Sobron, dia malah berbisik pelan. Sana, mengapa kau mengikutiku. Sana jauh, nanti ketemu!
hardik lelaki tua itu dengan setengah berbisik sambil tak lupa mengernyitkan kening dan memelototkan matanya. Tahulah Sobron kalau lelaki tua itu adalah abangnya sendiri, D.N. Aidit, yang sedang menyaru.
Sejak itulah Sobron sadar kalau situasi memang sedang gawat. Beberapa kali, lewat kode ketukan pintu yang khas, abangnya itu datang ke kamarnya.
Di malam-malam seperti itulah kedekatan Sobron dengan Aidit terjalin baik. Mereka sering bercerita. Saling memberi kabar. Di malam-malam seperti itu Aidit seringkali menitipkan pesan
agar Sobron berhati-hati. Aidit biasanya langsung terlelap.
Waktu istirahat betul-betul ia maksimalkan untuk mengumpulkan tenaga demi kerja-kerjanya esok
hari. Seringkali Sobron terbangun di pagi hari dan abangnya itu sudah lennyap tak berbekas.
Hampir benar-benar tanpa bekas. Abanganya itu tahu betul menjaga rahasia. Sekalipun ia tak pernah meninggalkan sesuatu yang bisa mem buktikan kalau dirinya pernah dan sering mampir ke kamar Sobron. Itulah sebabnya penggeledehan yang dilakukan tentara di kamarnya tak membuahkan hasil. Tak ada sedikit pun jejak yang terendus.
Nihil.



Wajar jika Sobron meragukan informasi tentang kematian Aidit. Tetapi akhirnya Sobron pun menerima kebar kematian abangnya itu dengan ikhlas. Entah bagaimana caranya, Sobron mendadak yakin dan percaya kalau abang sulungnya itu memang telah tumpas kelor.
Sobron tak mampu menjelaskannya secara logis. Ia percaya kalau abangnya itu telah menemui ajal karena sesuatu yang irrasional: intuisi.
Perasaan saya, kedekatan saya selama ini dengan Bang Amat, lirih Sobron,…mengatakan,
merasakan, ada feeling kejiwaan, memang Bang Amat sudah meninggal.
Hal lain yang menambah keyakinan Sobron adalah sejumlah media internasional memang telah melansir berita kematian Aidit di sebuah daerah di Jawa Tengah. Salah

Satu media yang memberitakan itu adalah Asahi Shimbun, media dengan reputasi baik
dari Jepang. Belum lagi kenyataan di mana Mao Tse-Tung telah mengucapkan langsung pernyataan
belasungkawa atas kematian Aidit. Dalam perhitungan Sobron, Mao tak mungkin mengeluarkan pernyataan bohong yang bisa melemahkan semangat perjuangan kaum komunis sedunia.
Sebagai pelengkap pernyataan belasungkawanya, Ketua Mao bahkan menuliskan
sajak yang dimuat di sebuah majalah di Peking. Inilah sajaknya:

Belasungkawa Untuk Aidit
(Dalam Irama Pu Suan Zi).
Di jendela diringin berdiri reranting jarang
beraneka bunga di depan semarak riang
apa hendak dikata kegembiraan tiada bertahan lama
di musim semi malah jatuh berguguran
Kesedihan tiada bandingan
mengapa gerangan diri mencari kerisauan
Bunga telah berguguran, di musim semi nanti
pasti mekar kembali.
simpan harum-wanginya hingga di tahun mendatang.

Ketika Sobron telah dengan lapang dada menerima kematian Aidit, anehnya, sebagian besar ekspatriat asal Indonesia yang tinggal di Beijing justru sangat susah diyakinkan.
Mereka yakin D.N. Aidit masih hidup. Salah seorang yang paling sukar menerima kabar kematian itu adalah Wati, istri Sobron sendiri. Sobron bahkan sempat sedikit bersitegang leher dengan istrinya itu. Wati memarahi Sobron karena penerimaan Sobron akan kabar kematian Aidit justru akan melemahkan semangat rekan-rekannya.

Yang lebih gila, ketika Sobron pulang kampung ke Belitung untuk yang  keduakalinya
pada November 2004 dan berkumpul dengan keluarga besarnya, sebagian besar
keluarga besar Aidit, terutama para perempuan, masih yakin kalau Aidit masih hidup hingga sekarang. Mereka percaya Aidit hidup dengan cara bersembunyi entah di mana.
Ada yang menyebut di Malaysia. Sebagian lagi meyakini di Filipina.

(bersambung "Raksasa berkaki lempung")
Sumber :Kitab merah





NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!






gravatar

Wangsa Aidit - Mengintai Anak dari Jauh..



Dr. Sutanti, dokter spesialis akupunktur pertama yang dimiliki Indonesia, mematung di
balik jendela sebuah rumah. Matanya nanar memandangi pekarangan tak seberapa
luas yang ada di seberang jalanan yang sepi. Hari itu tak banyak yang berlalu-lalang.
Syukurlah,  batin Tanti,  ini memudahkanku memandang lekat anak-anakku.
.......
Tanti sudah demikian lama tak bersua dengan tiga anak lelakinya. Ia juga sudah lama sekali tak pernah pulang ke rumahnya. Dari tempat- tempat persembunyian yang berpindah-pindah, ia mendengar sehembusan kabar tak menyenangkan: rumahnya di Jalan Pegangsaan (Cikini) sudah digerebek tentara. Isi rumah dikeluarkan.
Sebagian disita. Sebagiannya lagi dimusnahkan.

Nestapa memang sedang mengakrabi Tanti. Sejak 5 Oktober 1965, ia putus kontak dengan semua keluarga terdekatnya. Suami tercinta, Dipa Nusantara Aidit, entah bagaimana kabarnya. Dari sejumlah informasi yang ia dapat di pengujung November 1965, sang suami telah dieksekusi di daerah Jawa Tengah. Mungkin di Boyolali atau Solo. Ada juga yang bilang di Tegal. Entahlah.
Tak begitu jelas kapan Aidit menikahi Sutanti. Tapi, berdasar informasi yang didapat dari tulisan Kohar Ibrahim, seorang eksil yang menetap di Brusell, Belgia, yang berjudul Aidit Pelita Nusantara? Sebuah Catatan dari Brusell yang dimuat di harian Batam Pos, Riau, diketahui bahwa keduanya menikah pada 1947. Leclerc menyebut perjumpaan perdana keduanya itu berlangsung ketika Aidit sedang memberikan ceramah tentang Marxisme. Ketika itu Aidit memang sedang menunaikan tugasnya sebagai anggota CC PKI yang membawahi bidang Agitprop.

Sutanti adalah anak dari pasangan aktivis pergerakan yang cukup radikal. Ayahnya bernama Mudigdio, seorang ningrat keturunan bangsawan Tuban. Mudigdio adalah seorang pembangkang keluarga. Ia memberontak sikap kolot-konservatif keluarganya dan terutama sikap keluarga besarnya yang sangat pro-Belanda. Setelah menyelesaikan HBS-nya, Mudigdio segera bekerja sebagai pegawai negeri di Kantor Pajak. Ketika bertugas di Medan, ia bertemu dengan Siti Aminah yang di kemudian hari menjadi istrinya. Ketika bertugas di Semarang pada 1927, Mudigdio msauk ke dalam PNI dan kemudian bergabung ke Partindo. Akibat aktivisme politik yang ditekuninya, ia
dipecat sebagai pegawai negeri sebagaimana dialami isemua pegawai pemerintahan Hindia-Belanda yang terlibat dalam aktivitas pergerakan nasional.

Menjelang penyerbuan Jepang, ia menjadi guru MULO Muhammadiyah di Yogyakarta.
Ketika ia kembali ke Semarang, Mudigdio bekerja untuk PUTERA, dan selanjutnya bekerja di Jawa Hokokai. Sesudah proklamasi, dia masuk dinas kepolisian yang baru.
Pada 1948, Mudigdio menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin yang lantas tergabung ke dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang terlibat dalam peristiwa Madiun Affair. Mudigdio tetap berpihak ke kubu Amir. Atas inisiatif sendiri, Mudigdio bahkan berusaha mendirikan Korps Polisi Merah di ddaaerah Pati. Pada 21 November 1948, dia dan pembantu-pembantunya ditangkap dan ditembak mati.
Siti Aminah, janda Mudigdio, ketika itu menjadi anggota KNIP mewakili Partai Sosialis.
Kematian suaminya justru membikin gairahnya untuk berpolitik makin menjompak-jompak.
Ia berkonsentrasi di bidang pergerakan perempuan, sehingga ia terpilih menjadi wakil ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sambil tetap menjadi anggota parlemen sampai kemudian ditahan dan diberhentikan sesuai pageblug 1965.

Tanti jelas akrab dengan aktivitas politik. Pernikahannya dengan Aidit kian meneguhkan darah aktivis yang ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia tahu benar resiko menjadi aktivis politik sekaligus menjadi istri pemimpin tertinggi PKI,. Partai komunis terbesar ketiga didunia.
Tapi peristiwa September 1965 betul-betul tak ia duga akan terjadi dengan begitu cepatnya.
Dalam nyaris satu tarikan nafas saja, Tanti harus berpisah dengan orang-orang yang dicintanya. Ia juga terpaksa berpisah dengan tiga anak lelakinya. Menjelang pelariannya, Tanti dan suaminya masih sempat mengirim Iwan, Ilham dan Irfan ke Bandung. Kabar terakhir, tiga anak lelakinya itu dipelihara oleh Moeliono, salah seorang kerabat jauh Tanti yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Kabar itu sedikit melegakan Tanti.
Tapi kesedihan tentu saja tak berkurang. Luar biasa sedihnya Tanti membayangkan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil itu harus m enanggung bala akibat pertarungan politik yang melibatkan ayahnya. Apalagi Ilham dan Irfan. Keduanya lahir di sebuah negeri yang jauh, Rusia, tepatnya di Moskow, pada 18 Mei 1959. Enam bulan kemudian barulah si kembar Ilham-Irfan merasakan teriknya matahar i Indonesia. Jadi, ketika pecah pageblug 1965, si kembar itu baru berusia enam tahun. Masih sangat kecil untuk mengerti pergulatan politik. Mereka tidak tahu apa-apa.

Di puncak rasa kangen yang tak mungkin lagi dibendungnya, Tanti berhasil mengontak keluarga Moeliono, karabat yang selama ini memelihara tiga anak lelakinya. Dia sampaikan betapa kangen dan berharap sangat bisa bersua dengan anak-anaknya.
Tanti tentu saja sedang tak berniat pergi ke Bandung, dan menyambangi kediaman keluarga Moeliono untuk dapat memeluk tiga anak lelakinya. Itu rencana bunuh diri namanya. Itu sama saja menyerahkan diri untuk ditangkap dan dieksekusi tentara. Tanti sepenuhnya insyaf akan situasi. Dan Tanti memang tak pernah bermimpi bisa memeluk tiga anaknya.
Sekadarmemandang lekat-lekat anak-anak dari kejauhan pun rasanya sudah nikmat,pikir Tanti.

Maka disusunlah rencana. Moeliono akan membawa tiga anak lelaki Tanti ke suatu tempat.
Di sekitar situ, Tanti sudah menunggu dalam jarak yang cukup jauh yang masih memungkinkannya menatap lekat sepuasnya anak-anaknya tanpa harus diketahui orang lain, bahkan juga oleh tiga anak lelakinya itu.
Tanti masih duduk mematung. Matanya memandang pekarangan tak seberapa luas yang dijanjikan menjadi tempat bermain tiga anaknya hari itu. Waktu serasa tak berhenti. Menit seperti enggan beranjak. Tanti masih menanti.
Dan ketiga anak kecil yang dirindukannya itu pun akhirnya datang. Mata Tanti nyalang memandang ke depan. Air mata akhirnya tumpah.
Detik itu juga Tanti mendadak ingat dua anak perempuannya yang sedang belajar di
Moskow. Ibaruri dan Ilya. Apa kabar mereka?
Rasa kangen lagi-lagi membuncah. Air mata lagi-lagi tumpah.

(Bersambung "kabar kematian")
Sumber : Kitab Merah




NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!




gravatar

WANGSA AIDIT - Tertangkap






Kampung Sambeng dikepung dari delapan penjuru mata angin. 
ABRI dan pasukan-pasukan eks Tentara Pelajar dikerahkan. 
Tampuk komando operasi dipegang langsung Kolonel Jazir Hadibroto. 
Mereka yakin, buronan yang mereka cari-cari bersembunyi dikampung itu.
Sejak sore tadi Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubum en, Solo, diguyur deras hujan. 

Ketika malam datang, Sambeng tak cuma terasa dingin dan temaram melainkan
juga mencekam. Lewat sebuah operasi yang cepat, semua lelaki Kampung Sambeng
diperintahkan keluar dari rumahnya masing-masing. Semua dikumpulkan di lapangan.
Malam itu, Kampung Sambeng steril dari lelaki. Satu per satu mereka diperiksa.
Hasilnya nihil: buronan kelas wahid yang dicari tak ditemukan!

Akhirnya pencarian difokuskan di sebuah rumah di Gang Sidareja. Rumah itu berukuran
kecil. Rumahnya memang sangat pas dijadikan tempat sembunyi. 
Letaknya di ujung gang. Persisnya ada di tepi sebuah sungai dekat sebuah kuburan. Jika buronan yang dicari berhasil selamat hingga ke sungai, alamat ia akan lolos. 
Bentang alam yang gelap serta penuh dengan alang-alang memudahkan siapa pun bakal lolos dari
pengintaian dan kejaran. Itulah sebabnya rumah itu dikepung rapat-rapat. 
Saking rapatnya, hampir dipastikan mustahil keluar dari rumah incaran tanpa diketahui.
Rumah itu milik seorang perempuan tua bernama Mbok Harjo. 
Selain Mbok Harjo, tinggal pula sepasang suami istri yang sengaja mengontrak. Si suami bernama Kasim. Tak jelas benar sepasang suami istri ini berasal dari mana dan dalam keperluan apa mengontrak rumah kecil di pjokkan gang yang terpencil itu.

Penggeledahan pun dilakukan. Rumah itu diperiksa dengan detail sedetail-detailnya.
Tak ada sedepa pun yang terlewat. Semua ruangan, kolong tempat tidur, lemari pakaian, hingga lemari makan dibongkar. Tapi buronan tak juga ditemukan.
Mustahil! Tentara yakin betul tak mungkin buronan tak ditemukan sebab pengintaian terhadap rumah Mbok Harjo sudah dilakukan cukup lama. Sejumlah intel ditempatkan di Gang Sidaredja. Ada yang menyamar sebagai penjual es putar. Ada yang menyaru sebagai tukang gorengan. Hasilnya: buronan dipastikan ada di rumah Mbok Harjo.
Informasi yang diberikan Brigif 4 yang melakukan pengintaian diyakini tak mungkin meleset. Kecurigaan makin membesar ketika dalam penggeledahan itu ditemukan tiga benda mencurigakan: tas ransel, kacamata, dan radio.
Akhirnya pencarian dimulai kembali. Langkah pertama adalah menginterogasi habis-habisan Pak Kasim yang telah berkumpul bersama semua lelaki Kampung Sambeng.
Lewat mulut Pak Kasim itulah diketahui ada sebuah kamar rahasia di rumah Mbok Hardjo. 
Kamar itu tak mungkin terdeteksi oleh siapa pun yang memasuki salah satu dari dua kamar utama sebab kamar rahasia terletak di antara dua kamar utama. Pintu masuknya pun bukan di salah satu kamar utama itu melainkan melalui ruang makan.
Persisnya dari sebuah lemari makan. Tetapi hanya dengan membuka pintu lemari makan pintu masuk kamar rahasia itu tetap tak akan kelihatan. Pintu masuk baru terlihat jika lemari makan itu digeser.

Berdasar informasi itulah penggeledehan dilakukan kembali. Ternyata betul: di balik lemari makan ada pintu rahasia yang menghubungkan ruang makan dengan sebuah kamar persegi panjang yang ukup sempit namun masih mencukupi untuk sekadar duduk dan merebahkan badan.
Setelah didobrak dari luar dan kamar itu terbuka, seorang lelaki berusia 40-an dengan paras lusuh dan pucat kedapatan sedang duduk meringkuk memeluk lutut. 
Percarianpun berakhir.
Di malam 21 November 1965, Kolonel Jazir Hadibroto lega bukan kepalang. 
Malam itu akan menjadi pengepungan terakhir. Tunai sudah ia punya tugas. Segera ia kirim kawat
kepada atasannya. Isinya:
Dipa Nusantara Aidit tertangkap…..

(bersambung "Mengintai anak dari jauh")
Sumber : kitab merah



NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

CETUSAN KALBU MENGUNGKAP FAKTA



INILAH jeritan hati seorang Narapidana politik Muslim, korban kezaliman rezim Soeharto,
semasa Beny Moerdani  menjadi Pangab dan Try Sutrisno  sebagai Kasad. Ditulis pada 1986 di
L.P. Permisan Nusakambangan, setelah Sang Napol divonis 13 tahun penjara karena dituduh
bercita-cita mendirikan Negara Islam, dan mempublikasikan pikiran-pikiran “subversi” tersebut
melalui Tabloid Ar-Risalah yang dipimpinnya.


Pernahkan anda rasakan
bagaimana tersenyum di tengah derita?
Kusaksikan sendiri siksa di atas siksa
ditimpakan atas diri mujahid-mujahid muda, pembela risalah-Nya
Ketika kayu pemukul dan pentungan besi
Dihamtamkan pada tubuh-tubuh lunglai
Ketika kuku jemari dicabuti, kumis dan jenggot dibakar
dan tubuh dililit kawat bermuatan listrik
lalu kata-kata kotor menghina, terlontar dari mulut beracun para durjana
Sembari menyemburkan pertanyaan-pertanyaan menjebak,
di sekitar dakwah dan ide mendirikan negara Islam
Guna harapkan sepotong kata sesal dari lisan tak berdaya
Hanya takbir dan do’a pengawal tubuh berselimut luka
Seulas senyum pun tersungging
mengiringi kemenangan iman menghadapi siksa
Fakta dan pengalaman di balik penjara,
menjadi bukti kebenaran berita al-Qur’an
“Bila mereka dapat menangkapmu


Mereka akan menyakitimu dengan tangannya
Dan mencacimu dengan mulutnya”
Tapi manusiawikah menyerang ketakberdayaan dengan
keganasan binatang?
September 1984: Peristiwa Tanjung Periok terjadi
Manusia ditembak bagai binatang buruan
Awal 1989: Tragedi Lampung Berdarah
Laki-laki dibunuh dituduh pembangkang
Bayi, anak-anak dan ibu mereka jadi sasaran kemarahan
Dipanggang hidup-hidup, di dalam rumah yang sengaja dibakar
Limapuluh orang ibu-ibu, 80 orang anak-anak pria dan wanita
Akhirnya jadi korban pembantaian yang biadab
Menyusul pembunuhan muslim Aceh 1990
Jasad manusia bergelimpangan di jalanan
Di negeri ini malapetaka laksana gelombang
datang susul menyusul menimpa ummat Islam
Rezim orde Baru berdiri di atas tengkorak generasi muslim
kaki tangan mereka berlumur darah orang tak berdosa
Membunuh mereka demo stabilitas Nasional?
Ataukah tumbal bagi langgengnya kekuasaan?
Di tengah situasi dimana kezaliman diperagakan jumawa
Adakah mata titikkan airnya tangisi ummat ini
Masih adakah telinga dengarkan ratap mereka
Agaknya peduli pun orang khawatir
Menjadi syetan bisu pilihan yang aman
Tapi para durjana punya jawabnya  yang bikin luka hati kian menganga
“Peristiwa itu ibarat virus kecil
Yang berusaha guncangkan tubuh yang sesat
Tak usah dipermasalahkan lagi, mereka yang mati hanya kecil saja
Ummat Islam berjuta-juta jumlahnya, harus dapat membedakan
Mana ajaran yang benar dan mana ajaran berkedok agama”
Bagai dajjal si buta sebelah, menghasut ummat tanpa rasa salah
Manakala para durjana perlihatkan jati dirinya
Lewat keganasan dan logika tentara
Iman dan akal fikiran faham soalnya
Tetapi jika mereka yang mengaku beriman dan tokoh agama
Ikut melecehkan perjuangan mujahid dakwah
Dan menganggap enteng pengorbanan mereka,
lalu melontarkan kutukan keji, menjadi agen kezaliman lewat fatwa
“Pemerintah telah bertindak benar, membasmi pengacau negara “
Kemudian menjadi alasan bertindak bagi Fir’aun
Duhai, dimanakah persaudaraan iman dan harga diri mukmin
Bukankah, berjuang menegakkan syari’at Allah
Kewajiban ummat Islam seluruhnya
Bukankah tumpahkan darah tanpa haq adalah dosa?
Menyetujui kejahatan demikian, apakah juga bukan dosa?
OHO...agaknya syetan telah belokkan hati nan jernih
Ketahuilah, Fir’aun terkenal lantaran zalim
Bal’am dilaknat sebab khianat pada agama
Lalu dengan apakah Anda dikenal dan diperkenalkan?
Terhadap petakan dan rintihan yang diderita saudara seagama
Anda malah mengelak tanggung jawab
Padahal hancurnya nasib ummat adalah taruhannya
Na’udzubillahi min dzalik




NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

LADY GODIVA



Lady Godiva (bahasa Inggris Kuno: Godgifu; ± 997 – 1067) 

art :Jules Joseph Lefebvre (1836–1911)

Ialah seorang bangsawati Anglo-Sakson. Terdapat legenda yang mengatakan bahwa ia berkuda sambil telanjang bulat melalui jalanan di Coventry, Inggris. Ia melakukan hal demikian agar suaminya Leofric dari Mercia menurunkan pajak terhadap kawulanya. 
Nama "Peeping Tom" untuk seorang pengintip ditambahkan kemudian. Dalam versi itu, seorang lelaki bernama Tom mencuri pandang saat ia berkuda lalu langsung buta dan mati.

Legenda Lady Godiva itu sebenarnya versi belakangan dr figur dewi cinta Anglo Saxon.
Purwarupa sempurna Lady Godiva.

Lady Godiva adalah legenda tua rakyat Inggris, yang menceritakan Dewi dan rajanya yang Suci, Tuan Horned. Mitos ini telah ditetapkan sebagai sebuah upacara prosesi, di Coventry, sejak zaman setidaknya Saxon.

art : Edmund Blair Leighton (1853–1922)

Pengantar :
Dewi Goda, Cuda, atau Cofa, adalah bentuk di mana dewi agama lama disembah di tengah Britania di zaman Saxon.
Sebuah acara Godiva, diadakan setiap tahun di Coventry pada malam Mei, Menceritakan kisah Agama lama seorang dewi dan Rajanya, prosesnya, masih diadakan setiap tahunnya, awal bagian dari festifal pemujaan wanita kesuburan.

Doreen Valiente (sihir untuk besok) menjelaskan Lady Godiva sebagai "Dewi telanjang dalam iman agama lama sebagai pendeta wanita"

Versi Legenda Kristen:
legenda di banyak orang yang kenal sekarang ini adalah mitos dari versi kristen. Earl Coventry dikatakan telah menempatkan beban pajak pada warga kota. Dia setuju untuk meringankan beban pajak, dengan syarat bahwa istrinya, Lady Godiva, akan naik telanjang melalui Coventry. 




Ini adalah patung penunggang kuda perunggu oleh Sir William Dick, yang memperingati Lady Godiva, diluncurkan di Broadgate, di pusat Coventry, pada tahun 1949.




Perempuan ini adalah patung godiva di perkantoran di Ruang coventry(pic 3)


19th-century equestrian statue of the legendary ride, by John ThomasMaidstone Museum, Kent.

Lady Godiva statue by Sir William Reid Dick unveiled at midday on 22 October 1949 in Broadgate,



Lukisan abad ke-19 ini oleh John Collier, galeri seni di Conventry sipil.



Foto dari abad ke-20 prosesi Godiva:
gambar gambar prosesi para wanita godiva ada sejak abad ke 18 sampai seterusnya .
ini adalah foto tua dalam prosesi di tahun 1911 


di gambar tertulis kata-kata kuno druids.



Nona Lady Godiva, tahun 1936
Perjalanan tahunan ditindas oleh Puritan. Setelah jatuhnya Puritan Persemakmuran pada 1678, Godiva muncul lagi, telanjang seperti sebelumnya . dia tetap telanjang sampai 1826, ketika gelombang baru puritanisme mendiktekan bahwa dia harus berpakaian 




Foto di bawah ini menunjukkan prosesi lady Godiva zaman modern baru-baru ini . Dinding-dinding batu di sebelah kiri foto dua adalah reruntuhan Katedral Coventry tua




Prosesi melewati pusat kota modern



MAUREEN O'HARA in Godiva Lady






NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!



gravatar

1 Oktober Hari kesaktian Soeharto


Di balik PEMBUNUHAN 3 JUTA ORANG DAN KUP TERHADAP PRESIDEN SUKARNO.



Opening:
Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, 47 tahun yang lalu Gerakan 30 September melancarkan aksinya terhadap "Dewan Jenderal". Aksi yang semula direncanakan tanggal 30 September oleh penanggungjawabnya diubah menjadi 1 Oktober 1965. Sesudah peristiwa tersebut setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati oleh penguasa orde baru-Suharto keberhasilan menggunakan G30S sebagai alasan untuk menindas dan menghancurkan, membunuh 3 juta orang PKI, progresif dan rakyat biasa, menggulingkan Presiden Sukarno, merebut kekuasaannya dan menawannya hingga meninggal.


Peristiwa besar ini mempunyai pengaruh yang besar dan dalam, bukan hanya pada waktu itu tetapi juga sampai sekarang, bukan hanya secara nasional tetapi juga internasional. Ia mengubah jalan, arah revolusi, sejarah Indonesia, dari arah mencapai Indonesia merdeka yang demokratis menjadi Indonesia yang militeris fasistis. Namun sampai hari ini di Indonesia masih belum jelas benar apakah peristiwa itu sebenarnya, siapakah aktor yang berdiri dibelakangnya dan apakah peranan Jenderal Suharto.

Dalam menelaah peristiwa besar ini tidak dapat melepaskan dari situasi politik secara Internasional yaitu 'Perang Dingin' waktu itu, situasi politik regional dan dalam negeri Indonesia, pertentangan antara partai politik, golongan, kelas-kelas, perseorangan dengan kepentingan, karakter, ambisi, posisinya masing-masing yang berbeda dan bertentangan satu sama lainnya yang mempunyai pengaruh sangat dalam terhadap terjadinya peristiwa G30S.

Banyak orang, dari berbagai kelompok kepentingan memainkan peranan berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Salah satu peranan besar yang mempunyai pengaruh menentukan bangsa ini ialah peran Jenderal Suharto.

Peran apakan yang dimainkan oleh Jenderal Suharto, terutama pada malam menjelang 1 Oktober 1965 tersebut, maka marilah kita simak kembali pembelaan kolonel Latief didepan Mahkamah Militer Tinggi II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978.





Suharto Diminta Sebagai Saksi a de charge
Seperti diketahui, sesudah hampir 13 tahun kolonel Latief ditahan (ia mulai ditahan 11 Oktober 1965) maka dihadapkanlah dia ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978.

Dalam jawaban kolonel Latief terhadap tanggapan Oditur militer tinggi pada eksepsi tertuduh & pembela tanggal 6 Mei 1978, antara lain dikemukakan bahwa Jenderal Suharto terlibat didalamnya dan dua persoalan pokok:
a. Jenderal Suharto terlibat langsung dalam G.30-S (tahu lebih dulu persoalan G.30-S).
b. Jenderal Suharto kemudiannya memimpin langsung penggulingan Presiden Sukarno dan pemerintahannya, tanpa saya ikut didalamnya.

Mengenai keterlibatan langsung Jenderal Suharto dalam G.30-S, seperti dikemukakan Kolonel Latief diatas menjadi lebih jelas dengan membaca surat kolonel Latief tertanggal 9 Mei 1978 yang ditujukan kepada Ketua Mahmilti II Jawa Bagian Barat mengenai permohonan tambahan saksi. Saksi yang dimaksudnya saksi a de charge.

Sebagai alasan dari pengajuan tambahan saksi-saksi tsb, kolonel Latief antara lain mengatakan: 

"...demi terciptanya hukum yang adil dan tidak memihak, sesuai dengan UU No 14 thn 1970 pasal 5, dengan ini saya mengajukan saksi-saksi tambahan untuk diajukan di depan sidang ini:
1. Bapak Jenderal Suharto
2. Ibu Tien Suharto
3. Bapak RM Suharyono, ayah Ibu Tien Suharto
4. Ibu RM Suharyono
5. Ibu kolonel Suyoto
6. Ibu Dul, tamu Ibu Tien Suharto
7. Bapak Dul, tamu Ibu Tien Suharto
8. Ny Suharti, istri saya pada waktu itu
9. Subagiyo anak buah Bapak Jenderal Suharto asal Yogyakarta yang melaporkan adanya Dewan Jenderal dan Gerakan tanggal 1 Oktober 1965
10.Tuan Brackman yang mewancarai Bapak Jenderal Suharto
11.Wartawan Der Spiegel Jerman Barat yang pernah mewancarai Bapak Jenderal Suharto.

Tentang tahunya Jenderal Suharto lebih dulu persoalan G.30-S, dapat diketahui dari "Laporan tentang Dewan Jenderal pada Jenderal Suharto", yang disampaikan kolonel Latief, diantaranya sbb:
Disini perlu saya ungkapkan dimuka sidang Mahmilti ini agar persoalannya lebih jelas.

"Dua hari sebelum peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, saya beserta keluarga mendatangi ke rumah keluarga Bapak Jenderal Suharto di rumah jl.H.Agusalim, yang waktu itu beliau masih menjabat sebagai Panglima Kostrad, disamping acara keluarga, saya juga bermaksud: "menanyakan dengan adanya info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau". Oleh beliau sendiri justru memberitahukan kepada saya, bahwa sehari sebelum saya datang ke rumah beliau, ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta, bernama Soebagiyo, memberitahukan tentang adanya info Dewan Jenderal AD yang akan mengadakan coup d'etat terhadap kekuasaan Pemerintahan Presiden Sukarno. Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan. Oleh karena itu tempat/ruangan tsb banyak sekali tamu, maka pembicaraan dialihkan dalam soal-soal lain, antara lain soal rumah."

"Saya datang ke rumah Bapak jenderal Suharto bersama istri saya dan tamu istri saya berasal dari Solo, Ibu kolonel Suyoto dan dalam perjamuan di ruangan beliau ada terdapat Ibu Tien Suharto, orang tua suami istri Ibu Tien, tamu Ibu Tien Suharto berasal dari Solo bersama Bapak Dul dan Ibu Dul, juga termasuk putera bungsu laki-laki Bapak Jenderal Suharto, yang kemudian harinya ketimpa sup panas."

Jenderal Suharto Berdalih
Selain daripada itu, sesuai laporan seorang penulis bernama Brackman, menulis tentang wawancara dengan Jenderal Suharto, sesudah peristiwa 1 Oktober 1965, kira-kira pada tahun 1968. Diterangkan bahwa dua hari sebelum 1 Oktober 1965, demikian kata Jenderal Suharto: anak laki-laki kami yang berusia 3 tahun mendapat kecelakaan di rumah, ia ketumpahan sup panas dan cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Banyak kawan-kawan yang datang menjenguk anak saya dimalam tanggal 30 September 1965. Saya juga berada disitu. Lucunya kalau ingat kembali. Saya ingat kolonel Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. Saya terharu atas keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang penting dalam kup yang kemudian terjadi. Kini menjadi jelas bagi saya bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukanlah untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan keadaan anak saya. Saya diam di rumah sakit sampai menjelang tengah malam dan kemudian pulang ke rumah.

Adalagi sebuah wawancara dari surat kabar Der Spiegel Jerman Barat pada bulan Juni 1970 yang menanyakan bagaimana Suharto tidak termasuk dalam daftar Jenderal-Jenderal yang harus dibunuh, Suharto menjawab: "Kira-kira jam 11 malam itu, kolonel Latief dari komplotan Pucht datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tapi nampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekawatirannya melakukan di tempat umum".

Dari dua versi keterangan tsb diatas yang saling bertentangan satu sama lain, yaitu yang satu hanya "mencek" dan yang satu "untuk membunuh", saya kira Hakim Ketua sudah bisa menilai dari dua keterangan tsb dan akan timbul pertanyaan tentunya: mengapa Latief datang pada saat yang sepenting itu? Mungkinkah Latief akan membunuh Jendral Suharto pada malam itu?

"Mungkinkah saya akan berbuat jahat kepada orang yang saya hormati, saya kenal semenjak dahulu yang pernah menjadi komandan saya? Logisnya, seandainya benar saya berniat membunuh Bapak Jenderal Suharto, pasti perbuatan saya itu adalah merupakan suatu blunder yang akan menggagalkan gerakan tanggal 1 Oktober 1965 itu."

"Dari dua versi keterangan tersebut menunjukkan bahwa Bapak Jenderal Suharto berdalih untuk menghindari tanggungjawabnya dan kebingungan. Yang sebenarnya bahwa saya pada malam itu datang disamping memang menengok putranya yang sedang terkena musibah, sekaligus untuk "saya melaporkan akan adanya gerakan pada besok pagi harinya untuk menggagalkan rencana coup d'etat dari Dewan Jenderal, dimana beliau sudah tahu sebelumnya".

"Memang saya berpendapat, bahwa satu-satunya adalah beliaulah yang saya anggap loyal terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan saya kenal semenjak kecil dari Yogyakarta siapa sebenarnya Bapak Jenderal Suharto ini. Saya datang atas persetujuan Brigjen Supardjo sendiri bersama Letkol Untung. Dengan tujuan sewaktu-waktu akan meminta bantuan beliau. Saya mempercayai kepemimpinan beliau. Seandainya berhasil menggagalkan usaha coup d'etat Dewan Jendral beliaulah sebagai tampuk pimpinan, sebagai pembantu setia Presiden Sukarno itu... Beliau yang kami harapkan akan menjadi pembantu setia Presiden/Mandataris MPR/Panglima tertinggi Bung Karno, menjadi berubah memusuhinya."

Permintaan saksi tambahan (a de charge) dari Kolonel Latief ini ditolak Ketua Mahmilti dengan alasan "tidak relevan". Sedang menurut Kolonel Latief saksi a de charge yang diajukannya adalah penting dan sangat relevan dalam perkara yang dituduhkan padanya, karena saksi Jenderal Purn Suharto harus turut bertanggungjawab dalam perkara ini.

Dalih Jenderal Suharto yang bohong itu, yang kepada Brackman menyatakan kedatangan Latief 30 September malam hanya "untuk mengecek", kepada Der Spiegel "untuk membunuh", menjadi lebih lengkap dengan cerita dalam otobiografinya, dimana dikatakan ia bukan bertemu dengan Latief di RSPAD, melainkan hanya melihat dari ruangan dimana anaknya dirawat, dimana ia berjaga bersama Ibu Tien, dan Latief jalan dikoridor melalui kamar itu.

"Peran" Jenderal Suharto Dalam Operasi G.30-S.
Menjadi tanda-tanya: mengapa setelah Kolonel Latief memberi laporan bahwa besok paginya 1 Oktober 1965 akan dilancarkan operasi guna menggagalkan rencana coup d'etat Dewan Jenderal, Jenderal Suharto tidak mencegah, tidak melaporkan kepada atasannya, baik kepada A Yani, Nasution maupun kepada Presiden Sukarno?

Operasi G.30-S dini hari 1 Oktober 1965 tidak akan terjadi, sekiranya Jenderal Suharto mencegahnya atau melarangnya, misalnya dengan segera menangkap Kolonel Latief dan komplotannya! Juga operasi itu tidak akan terjadi sekiranya Jenderal Suharto melaporkan kepada Jenderal A Yani, atau kepada Nasution bahkan kepada Presiden Sukarno! Dengan demikian tidak akan terbunuh 6 Jenderal itu. Peranan Jenderal Suharto sangat menentukan dalam hal berlangsung atau tidak berlangsungnya operasi G.30-S di pagi 1 Oktober 1965 itu.

Satu-satunya kemungkinan Jenderal Suharto berkepentingan terbunuhnya Jenderal Yani. Dengan terbunuhnya Jenderal Yani terbuka peluang bagi dirinya untuk menjadi orang pertama dalam AD. Karena ada semacam konsensus dikalangan AD bahwa bila A Yani berhalangan, otomatis Panglima Kostrad penggantinya. Panglima Kostrad ketika itu ialah dirinya Jenderal Suharto.

Memang pada waktu itu di AD terdapat 3 golongan perwira tinggi, yaitu golongan yang berorientasi kiri, tengah dan kanan. Yani cs adalah perwira tinggi anti kiri tetapi setia pada Presiden Sukarno dan pernah memimpin penumpasan terhadap PRRI/Permesta-Pemberontak militer yang didukung AS/CIA.

Karena peran Jenderal Yani menumpas PRRI/Permesta inilah maka AS/CIA tidak senang dengan kelompok Yani cs, dan berkepentingan mengenyahkan. Jenderal Suharto termasuk kelompok kanan yang anti kiri maupun secara terselubung anti Sukarno dan karena itu berkepentingan sesuai ambisi terselubungnya menggulingkan Presiden Sukarno.


Sepak terjang Soeharto
Peluang Gerakan 30/S itu benar-benar digunakan secara maksimal oleh Jenderal Suharto. Setelah besok paginya ia mendengar Jenderal A Yani terbunuh, ia segera mengangkat dirinya menjadi pimpinan AD tanpa sepengetahuan Presiden/Pangti ABRI Sukarno. Padahal pengangkatan seseorang menjadi Kepala Staf adalah hak prerogatif Presiden /Pangti ABRI. Karena jabatan itu adalah jabatan politik.

Setelah ia mengangkat dirinya sebagai pemimpin AD, maka tindakan selanjutnya yang ia lakukan ialah mencegah Jenderal Pranoto Reksosamudro memenuhi panggilan Presiden/Pangti ABRI untuk datang ke Halim, guna menerima jabatan sebagai caretaker atau pengganti sementara almarhum A Yani. Terus disusul dengan langkah memberi petunjuk kepada Presiden Sukarno melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar setiap perintah yang akan dikeluarkan harus disalurkan melalui dirinya. Juga supaya Presiden Sukarno segera meninggalkan Halim sebelum tengah malam 1 Oktober 1965, karena Halim akan diserbu pasukan Kostrad dan RPKAD (Lihat buku "G.30-S Pemberontakan PKI", hal: 146).

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejak 1 Oktober 1965 kekuasaan secara de facto berada di tangan Jenderal Suharto. Yang tinggal pada Presiden Sukarno hanya kekuasaan de jure belaka.


Soebandrio Melibatkan Aidit (PKI)


 
Untuk menutupi dalang yang sesungguhnya dari G.30-S ialah Jenderal Suharto sendiri, maka Jenderal Suharto memfitnah PKI sebagai dalang G.30-S. Hal itu dimungkinkan karena sejak awal Soebandrio (orangnya Syahrir-PSI) berusaha melibatkan pimpinan PKI, Aidit, untuk dapat dihancurkan. Hal ini dapat diketahui dari pemeriksaan atas diri Presiden Sukarno, baik yang dilakukan Mayjen (purn) Sunarso selaku ketua Teperpu, maupun yang dilakukan Achmad Durmawel sebagai Oditur militer yang menjadi penuntut dalam pengadilan Soebandrio, seperti yang diberitakan Forum Keadilan No 14 thn ke-III, 27 Desember 1994.

Menurut Forum Keadilan Mayjen (purn) Sunarso pada tgl 9 Sept 1966 mengajukan pertanyaan secara tertulis kepada Presiden Sukarno dan jawaban baru diberikan Presiden Sukarno tanggal 16 Agust 1966. Diantara yang ditanyakan: Apakah benar Bapak memanggil kembali Aidit dari Moskow, untuk mengumpulkan bahan penyusunan teks pidato 17 Agust 1965?

Menjawab pertanyaan tersebut Presiden Sukarno mengatakan: "Saya telah memanggil Nyoto, Menteri Negara diperbantukan pada Presidium Kabinet Dwikora untuk turut menyumbang pendapatnya dalam peyusunan pidato saya tanggal 17 Agust 1965". Menurut kebiasaan saya, dalam penyusunan pidato itu saya minta sumbangan dari belbagai pihak, antara lain agama, nasionalis dan komunis.

Berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan Mayjen (purn) Sunarso, maka pemeriksaan yang dilakukan Durmawel, sebagai Oditur militer yang menjadi penuntut dalam pengadilan Soebandrio, tergolong pro justicia. Durmawel menyerahkan pertanyaan tertulis melalui Sekretaris Presiden. Sebelum mengajukan pertanyaan itu, Durmawel menanyakan lebih dulu kepada Presiden Sukarno untuk diperiksa. Saya katakan (kata Durmawel) keterangan ini akan saya gunakan sebagai kesaksian dalam perkara Soebandrio.

Kesaksian Presiden Sukarno itu kemudian dibacakan dalam sidang Soebandrio. Menurut Durmawel pembacaan itu sama nilainya dengan kehadiran Bung Karno di pengadilan.

Inti dari kasaksian Bung Karno yang dikejar Durmawel adalah soal siapa yang memanggil DN Aidit pulang dari Moskow. Karena menurut analisanya, kepulangan Aidit di tengah isu sakitnya Bung Karno adalah dalam rangka mempersiapkan G.30-S. Artinya siapa yang berinisiatif memanggil Aidit, itulah yang tahu tentang rencana G.30-S. Ternyata Bung Karno tidak memanggil Aidit. Kesaksian itu bagi Durmawel adalah kartu truf yang melicinkan jalan bagi vonis seumur hidup untuk Soebandrio.

Keterangan Durmawel berarti bahwa Soebandriolah yang tahu tentang rencana G.30-S dan berusaha melibatkan Aidit sebagai pimpinan PKI dalam peristiwa yang akan terjadi. Ya, Soebandrio sebelum itu juga telah mensuplai PKI dengan dokumen palsu Gilchrist supaya PKI kebakaran jenggot dan mendahului langkah Dewan Jenderal yang hendak melakukan kup (Lihat Dr Sulastomo dan Eckky Sahrudin dalam majalah Sinar 17 Juni 1995, hal 11).

Bahwa Aidit dilibatkan Soebandrio dalam peristiwa G.30-S, adalah sejalan dengan pedapat Anthoni Dake (Tempo 6 Oktober 1990) bahwa peristiwa G.30-S itu dilatar belakangi oleh sikap Bung Karno yang sangat tak sabar melihat oposisi beberapa perwira tinggi AD terhadap program revolusinya. Ia kemudian memerintahkan Letkol Untung untuk membereskan mereka. Aidit yang mengetahui rencana itu setelah ia kembali dari RRC 7 Agustus 1965. Inilah yang membuat PKI terlibat dan karena tak ada pilihan lain mengingat PKI sangat tergantung kepada Presiden Sukarno.

Sejalan dengan usaha Soebandrio melibatkan Aidit, agar PKI dapat dihancurkan, maka Kamaruzzaman (alias Syam) bekas kader Wijono dan Johan Sjahruzah (yang kemudian menjadi tokoh PSI) di zaman Jepang, yang telah berhasil memasuki Biro Chusus PKI di bawah pimpinan Aidit mengusulkan supaya Untung, bekas anak buah Suharto di Jawa Tengah, yang menjadi Ketua Dewan Revolusi. Kamaruzzaman tetap dengan usulnya itu meskipun Kolonel Latief mengusulkan supaya yang menjadi Ketua itu seorang Jenderal.

Kamaruzzaman mudah mendekati Aidit, karena di tahun 1950, tatkala Aidit dan Lukman hendak muncul kepermukaan di Jakarta setelah peristiwa Madiun, Kamaruzzaman membantu kemunculannya di Tanjung Priok, sebagai penumpang gelap pada kapal yang baru datang dari Vietnam. Hal itu dimungkinkan karena Kamaruzzaman ketika itu adalah pimpinan Sarekat Buruh Perkapalan dan Pelayaran di Tanjung Priok.

Kamaruzzaman ini diawal revolusi pernah menjadi anak buah Suharto dalam kelompok Pathok Yogya sewaktu melakukan penyerbuan ke sebuah tangsi tentara Jepang di Kota Baru. Pada tahun 1951 dia salah seorang dari 9 kader pilihan PSI yang mendapat pendidikan/latihan khusus dan kemudian pada tahun 1954 menjadi informan Kodam V Jaya.

Dengan dijadikannya Untung sebagai Ketua Dewan Revolusi memudahkan bagi Jenderal Suharto menuduh PKI yang mendalangi G.30-S, karena Untung dikenalnya sebagai perwira yang berhaluan kiri. Itu juga dinyatakan Yoga Sugama dalam bukunya "Memori Jenderal Yoga" (hal: 49), bahwa ia mengetahui Untung perwira yang berhaluan kiri.

Kamaruzzaman yang dipercayai Aidit inilah yang mempecundangi Aidit dalam gerakan. Menurut Manai Sophiaan dalam bukunya "Kehormatan bagi yang berhak" Syam membuat ketentuan bahwa persoalan yang akan disampaikan kepada Aidit tidak boleh disampaikan langsung, melainkan harus lewat dirinya. Syamlah yang akan menyampaikan kepada Aidit.

Ternyata berbagai pertimbangan militer yang harus disampaikan kepada Aidit, tidak disampaikan oleh Syam, sehingga banyak hal yang tidak bisa dikoordinasikan dengan baik. Semua pertimbangan, hanya Syam sendiri yang menampung dengan akibatnya, setelah gerakan dimulai terjadi kesimpang siuran (hal:82). Semua itu dilakukan Syam untuk bosnya yang lain, Suharto dan PSI.

Peranan Nasution Mengantarkan Suharto ke Kekuasaan De Jure.


 
Seperti diketahui sejak 1 Oktober 1965 kekuasaan de facto sudah berada di tangan Jenderal Suharto. Langkah berikut yang diayunkan Suharto setapak demi setapak ialah merebut kekuasaan de jure. Untuk tujuan itulah maka tanggal 11 Maret 1966 pasukan Kostrad dan RPKAD (tanpa memakai identitas) mengepung Istana Merdeka, dimana sedang berlangsung Sidang Kabinet Dwikora dibawah pimpinan Presiden Sukarno.

Menurut Frans Seda pengepungan Istana Merdeka itu adalah berdasarkan strategi Suharto untuk membikin panik sidang Kabinet dan kemudian menangkap Soebandrio (Lihat pengakuan Frans Seda, Kemal Idris, Sarwo Edhi dalam Tempo 15 Maret 1986).

Sesuai dengan strategi Suharto, setelah Presiden Sukarno menerima laporan adanya pasukan liar di sekitar Istana, maka untuk keamanannya, Presiden Sukarno diterbangkan ke Bogor. 3 orang Jenderal suruhan Suharto mengikuti Presiden Sukarno ke Bogor dengan membawa pesan agar Jenderal Suharto diberi kekuasaan lebih besar. Hasilnya lahir Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Jadi, Supersemar adalah buah pengepungan Istana oleh pasukan liar.

Supersemar itu mereka anggap sebagai "Pelimpahan kekuasaan", padahal hanya pelimpahan "tugas pengamanan" (Lihat pidato kenegaraan Presiden Sukarno 17 Agustus 1966). Dengan meyalah tafsirkan Supersemar, mereka bubarkan PKI, mereka tangkap sejumlah Menteri, mereka tangkap dan ganti DPRGR/MPRS dari PKI, PNI, Partindo dan pendukung Presiden Sukarno lainnya dan digantinya dengan kelompok pendukung Suharto. DPRGR yang "tidak konstitusional" itulah yang menuduh Presiden Sukarno melanggar GBHN, karena tidak membubarkan PKI dan menuntut MPRS supaya melangsungkan sidang Istimewa guna menyingkirkan Bung Karno dari kedudukannya sebagai Presiden.

Sesungguhnya yang melanggar GBHN adalah DPRGR sendiri, karena GBHN yang berlaku ketika itu ialah GBHN-Manipol, GBHN yang memegang prinsip persatuan berdasarkan Nasakom. Membubarkan PKI sama artinya dengan menentang GBHN-Manipol, apalagi tidak ada bukti bahwa PKI yang mendalangi G.30-S seperti yang dikemukakan Dewi Sukarno dalam tabloit Detik No 030 th 1993.

Begitu pula MPRS yang lahir dari Dekrit Presiden Sukarno kembali ke UUD 1945 tanggal 5 Juli 1959 tidaklah sama fungsinya dengan dengan MPR, seperti dikatakan Presiden Sukarno dalam amanat negaranya tanggal 10 November 1960. Presiden Sukarno mengatakan bahwa fungsi MPRS itu sama dengan lembaga-lembaga negara yang lain, yaitu sebagai alat revolusi dan tidak berwenang merubah UUD 1945 serta memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Menurut JK Tumakaka bahwa MPRS tsb adalah semacam Komite Nasional. Ini sesuai dengan pasal IV aturan peralihan UUD 1945, artinya berkedudukan sebagai pembantu Presiden. Karena itu pulalah Ketua dan Wakil-wakil ketuanya berkedudukan sebagai Menteri ex-officio (masyarakat Pancasila, secercah pengalaman bersama Bung Karno", hal: 191-194).

Namun demikian Jendral Nasution sebagai ketua MPRS (yang sudah diordebarukan) menerima usul DPRGR (yang pernah direvisi berdasarkan penyalah-tafsirkan Supersemar) untuk mengadakan Sidang Istimewa MPRS.

Melalui pidato pembukaan Sidang Istimewa MPRS tertanggal 7 Maret 1967, Jenderal Nasution secara berselubung "mendekritkan" perubahan kedudukan MPRS dari sebagai pembantu Presiden menjadi sepenuhnya seperti MPR. Padahal belum ada pemilihan umum untuk memilih MPR seperti yang ditetapkan UUD 1945. Nampaknya Jenderal Nasution tidak mau kalah hebat dari Presiden Sukarno yang mendekritkan kembali ke UUD 1945, maka ia mendekritkan kembali ke MPR, padahal MPRnya belum pernah ada.

"Pendekrittan" Jenderal Nasution itu tercermin dengan pidatonya, yang antara lain mengatakan: "Sidang Umum I, II dan III berbeda dengan Sidang Umum IV (Sidang Istimewa ini-pen). Tiga Sidang Umum tadi berdasarkan Penpres dan wewenangnya pada azasnya masih dibatasi kepada penentuan GBHN...dengan Sidang Umum IV telah kembali ke MPRS, maupun Presiden, DPR kekuasaan kehakiman dan kekuasaan pemerintahan pada posisi dan wewenang menurut UUD 1945 dan bukan lagi menjadi pembantu Presiden/PBR sebagaimana hakikat sebelum itu" (Memenuhi Panggilan Tugas, jilid 7, hal: 163-164).

"Dekrit" Nasution, yang ketua MPRS (bukan Presiden) itu sangat bertentangan dengan pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi: "Sebelum MPR, DPR, DPA dibentuk menurut UUD ini, segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional". MPR seperti yang dimaksud pasal IV itu belum terbentuk, belum ada pemilihan. Yang ada hanya MPRS, hasil Dekrit 5 Juli 1959 dari Presiden Sukarno.

Dengan "Dekrit" Nasution yang merubah kedudukan MPRS menjadi MPR, yang bertentangan dengan pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945, MPRS menarik mandat dari Presiden Sukarno serta segala kekuasaan pemerintahan yang diatur dalam UUD 1945 dan mengangkat Jenderal Suharto sebagai pejabat Presiden.

"Dekrit" Nasution itulah yang telah melapangkan jalan bagi keberhasilan kudeta merayap dari Jenderal Suharto dari kekuasaan secara de facto yang dimulai 1 Oktober 1965 menjadi kekuasaan secara de jure tanggal 12 Maret 1967.

Sebenarnya usaha untuk meminggirkan Presiden Sukarno dan menaikkan Jenderal Suharto telah diusulkan oleh Nasution kepada Suharto 12 Maret 1966, melalui usulnya supaya Suharto membentuk Kabinet Darurat berdasarkan wewenang yang diberikan Supersemar. Jenderal Suharto tak berani melaksanakan usul Nasution itu, karena Suharto menganggap "Itu wewenang Bung Karno, bukan wewenang saya" (Lihat keterangan Nasution dalam Tempo 15 Maret 1986, hal: 19).


Dendamnya Nasution
Adanya kerjasama Nasution Suharto ini mudah dimengerti, karena Nasution sangat berdendam kepada Presiden Sukarno, karena "kudetanya" 17 Oktober 1952, yang telah menghadapkan moncong meriem ke Istana Merdeka, dipatahkan Presiden Sukarno. Sesungguhnya dengan "kudetanya" yang gagal itu Nasution dapat diajukan ke pengadilan, namun Presiden Sukarno tidak menempuh jalan itu. Ide persatuannya terlalu kuat, tidak menghendaki perpecahan. Ironisnya Presiden Sukarnolah yang kemudian "diadili" dan "dijatuhkan" oleh Jenderal Nasution, setelah ia berkedudukan sebagai ketua MPRS.

Menurut Manai Sophiaan sepuluh tahun lamanya Amerika mengupayakan penggulingan Sukarno.

Kerja keras Amerika ini akhirnya menjadi sempurna setelah ketua MPRS Jenderal`AH Nasution menanda-tangani Ketetapan MPRS No XXXIII/MPRS/1967, yang mencabut semua kekuasaan pemerintahan negara dari tangan Presiden Sukarno, bahkan melarangnya melakukan kegiatan politik untuk akhirnya dijebloskan ke dalam tahanan. Bung Karno dituduh terlibat G.30-S PKI (Kehormatan bagi yang berhak, hal: 215).


Sungguhpun begitu gamblangnya isi pembelaan Kolonel Latief di depan Mahmilti II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978 bahwa Jenderal Suharto terlibat langsung dalam G.30-S dan kemudian menggulingkan Presiden Sukarno, namun penguasa orde baru terus-menerus mempropagandakan bahwa yang menjadi dalang G.30-S adalah PKI.

Dalam hal melakukan propaganda yang demikian, Jenderal Suharto dengan orde barunya berpegangan kepada ajaran Goebbles, yaitu: "Ulangi" (NASRUN).


From:
"KdP Net"
kdpnet@usa.net
Tue, 23 Sep 1997





NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!