Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

gravatar

Kutukan Tecumseh



 
500px-John_F._Kennedy,_White_House_color_photo_portrait


Kutukan yang satu ini tidak melibatkan benda misterius, namun menurutku menarik untuk diceritakan. Kutukan ini berawal ketika William Henry Harrison, presiden AS yang menjabat 1840, masih menjadi gubernur Indiana. Pada 1811, ia terlibat perang dengan suku asli Indian dibawah pimpinan Tecumseh. Konon akibat perselisihan itu, pemimpin suku Indian itu mengutuk Harrison dan semua presiden AS yang menjabat setelahnya akan mati dengan menggenaskan. Uniknya, kutukan ini hanya berlaku 20 tahun sekali dan terjadi ketika presiden2 tersebut masih aktif menjabat.
Kutukan ini dimulai dengan Harrison yang menjabat 1840 yang meninggal karena pneumonia. Presiden2 AS berikutnya yang menjabat dalam kelipatan 20 tahun mengalami nasib lebih tragis. Abraham Lincoln (1860), James A. Garfield (1880), Wlliam McKinley (1900), dan John F. Kennedy (1960) semuanya mati karena ditembak. Presiden lainnya, Warren Harding (1920) meninggal karena diracun (masih spekulasi) dan Franklin D. Roosevelt (1940) meninggal karena pendarahan otak. Terakhir, Ronald Reagan (1980) selamat dari usaha penembakan yang dilakukan kepadanya. Namun kutukan ini sepertinya sudah berakhir, sebab Goerge W. Bush yang menjabat tahun 2000 menikmati dua periode kepemimpinannya dengan adem ayem #even though I think he’s the one who deserve to die most#.



gravatar

8 DONGENG SUPER SADIS

8 DONGENG SUPER SADIS YANG TIDAK ANDA TAHU

 
image

Kemaren aku sempat membuat postingan tentang 10 versi asli dongeng tersadis yang ditulis oleh Grimm Bersaudara, di antaranya ada versi asli Red Riding Hood, Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur dll yang ternyata cukup disturbing. Nah ini ada lagi 8 lagi dongeng kuno dari Eropa yang tak kalah sadis. Mungkin karena kesadisannya, kisah-kisah ini tak pernah sampai ke telinga kita. Semuanya dibumbui dengan mutilasi, kanibalisme, hingga pelecehan seksual. Berikut ini 8 dongeng asing yang supersadis yang kuambil dari website listverse (jangan salahkan aku lho kalau kalian bermimpi buruk sehabis membacanya).

1. Biancabella

image
Ada Cinderella, ada juga Biancabella. Kisah dongeng yang satu ini mungkin versi sadis dari Cinderella sebab juga melibatkan ibu tiri dan dua saudari tirinya yang jahat. Cerita dimulai dari seorang wanita yang tertidur di taman. Seekor ular menyelinap lewat “masuk” ke dalam rahim wanita itu (cuma ada satu jalan menuju rahim ... yap, yang itu). Wanita itu kemudian mengandung dan melahirkan anak perempuan yang diberi nama Biancabella. Saat lahir, terdapat seekor ular yang melingkar di lehernya yang segera melesat pergi sesaat setelah persalinan. Ular itu menampakkan diri pada Biancabella ketika ia sedang berjalan-jalan di taman pada saat berumur 10 tahun. Ular itu bernama Samaritana dan mengaku sebagai saudari kembar Biancabella dan memberinya kecantikan yang luar biasa (ular sakti ceritanya). Seorang raja kemudian tertarik dengan kecantikan Biancabella dan memperistrinya.
Saat diboyong ke istana, ibu tiri sang raja dan kedua putrinya tidak menyukai Biancabella dan menyuruh para bawahannya untuk membawanya ke hutan dan membunuhnya. Namun mereka tak bisa membunuh Biancabella. Sebagai gantinya, mereka memotong kedua tangannya dan mencungkil bola matanya untuk diberikan pada ratu. Di hutan, Biancabella hendak bunuh diri, namun dihentikan oleh ular tadi. Sang ular kemudian mengembalikan kondisi Biancabella seperti semula. Ketika raja mengetahui perbuatan jahat sang ratu dan membakar ibu tiri beserta kedua putrinya hidup-hidup di atas perapian.
2. The Myrtle

image

Kisah diawali dengan seorang wanita yang sangat menginginkan anak, walaupun hanya sebatang tanaman myrtle (sejenis jambu). Keinginannya benar-benar terlaksana dan ia melahirkan sebatang tanaman myrtle yang kemudian dibeli oleh seorang pangeran. Tanaman myrtle ini ternyata ajaib dan mampu berubah menjadi peri yang kemudian bercinta dengan sang pangeran tiap malam. Suatu hari, ketujuh selir sang pangeran mengetahui hal ini dan cemburu. Mereka lalu memutilasi peri itu dan masing-masing dari mereka membawa potongan tubuh dari peri itu. Terkecuali selir termuda yang tak mau ikut campur dengan perbuatan jahat selir lainnya dan hanya membawa sehelai rambut emas milik sang peri.
Seorang pelayan menemukan sisa-sisa tubuh sang peri (gigi, darah, tangan, dan tulang) yang berceceran di tanah dan membersihkannya. Karena kasihan, ia lalu menguburkan di bawah sebatang pohon myrtle. Ajaibnya, peri itu kemudian menumbuhkan kembali bagian-bagian tubuhnya dan hidup kembali. Iapun mengadukan perbuatan para selir jahat kepada sang pangeran. Pangeran lalu mengubur hidup-hidup para selir di dalam selokan, terkecuali selir termuda yang baik hati yang diampuni dan kemudian menikah dengan pelayan yang menyelamatkan sang peri tadi.
3. Doralice
 
  image
Alkisah Pangeran Tebaldo yang jahat ingin memperistri putrinya sendiri, Doralice (incest ceritanya). Namun Doralice menolak. Doralice yang takut diperkosa ayahnya kemudian diselamatkan oleh suster yang merawatnya sejak kecil. Doralice disuruh bersembunyi di dalam sebuah lemari kayu yang dijual ayahnya. Ajaibnya, Doralice selamat walaupun berada di dalam lemari itu selama berbulan-bulan berkat minuman ajaib yang diberikan suster itu. Lemari itu kemudian dibeli seorang raja yang terkejut melihat seorang wanita cantik di dalam lemari yang ia beli. Raja itupun kemudian menikahi Doralice.
Sayangnya, ayah Doralice akhirnya menemukan tempat persembunyian Doralice dan mendatanginya dengan menyamar. Doralice yang tak menyadari penyamaran ayahnya membiarkannya tidur sekamar dengan dua bayi yang baru dilahirkannya. Tebaldo dengan kejam membantai kedua cucunya sendiri dan memfitnah Doralice sebagai pelakunya. Sang raja yang terhasut kemudian menyuruh Doralice dikubur hidup-hidup. Namun sang suster yang mendengar kabar itu berani bersumpah pada sang raja bahwa Doralice bukan pelakunya. Beruntung, Doralice masih bisa diselamatkan. Kejahatan Tebaldo pun akhirnya terkuak. Sebagai balasannya, iapun disiksa dan dimutilasi hidup-hidup serta potongan-potongan tubuhnya diberikan pada anjing. Cerita ini dkumpulkan oleh Giovanni Fransesco Straparola dalam bukunya “The Facetious Nights of Staraparola” yang dimaksudkan menjadi buku cerita 1001 Malam ala Italia.
4. Sun, Moon, and Talia

image
Cerita ini diduga sebagai versi awal Putri Tidur karena kemiripannya. Dikisahkan karena kutukan, sang putri bernama Talia tertidur akibat tertusuk jarum. Seorang raja yang kebetulan lewat kemudian menemukan Putri Talia dan berusaha membangunkannya. Karena tidak berhasil, akhirnya sang raja memutuskan memperkosanya. Dalam keadaan tertidur, Talia mengandung dan melahirkan sepasang anak kembar. Salah satu anaknya yang kelaparan menghisap jari ibunya sehingga jarum yang membuat ibunya tertidur terlepas dan putri Talia pun bangun. Talia kemudian menamai anak kembarnya Sun dan Moon (Matahari dan Bulan).

Suatu hari sang raja datang kembali hendak memperkosa Talia lagi (padahal di sini ceritanya sang raja sudah punya istri), namun ia justru menemukan Talia yang sudah melahirkan kedua anaknya. Iapun memboyong Talia dan dua anaknya ke istana. Hal ini membuat permaisuri sang raja cemburu dan memerintahkan koki untuk membunuh dan memasak kedua anak Talia serta menghidangkannya pada sang raja. Namun sang koki tak tega dan menggantinya dengan daging domba. Merasa sudah membunuh kedua anak Talia, sang ratu kemudian hendak membakar hidup-hidup Talia. Namun sang raja mendengar teriakan Talia dan melemparkan permaisurinya ke dalam api sehingga ialah yang terbakar hidup-hidup. Sang raja, Talia, dan kedua anaknya pun hidup bahagia selamanya.
5. The Old Woman Who Was Skinned Alive

  image
Terjemahannya adalah “Wanita Tua yang Dikuliti Hidup-Hidup”. Alkisah karena fantasinya yang tinggi, seorang raja salah mengira dua orang wanita tua bersaudara yang hidup di balik tembok sebagai dua gadis muda yang cantik. Sang raja kemudian meminta salah satu nenek itu untuk bercinta dengannya. Nenek itu setuju dengan syarat “itu” dilakukan dalam kondisi gelap. Lebih aneh lagi, agar kulitnya kencang, ia kemudian menarik kulitnya ke belakang dengan benang. Namun sang raja mengetahui akal bulus sang nenek (sayangnya setelah mereka selesai ber-“ehem-ehem”) dan melemparnya keluar jendela. Benang yang digunakan untuk menarik kulitnya menyangkut di pohon dan nenek itu tergantung di sana semalaman. Tujuh orang peri melihatnya dan menganggapnya lucu, sehingga mereka kemudian mengubahnya menjadi seorang wanita muda yang cantik. Sang raja yang keesokan harinya melihat seorang gadis cantik tergantung di pohon segera menikahinya.
Saudari si nenek menjadi iri dan meminta rahasia bagaimana ia bisa kembali muda. Sang nenek yang muda kembali tadi hanya mengatakan bahwa ia dikuliti hidup-hidup karena tak mau membagi rahasianya pada saudarinya. Saudarinya benar-benar mempercayainya dan meminta agar dikuliti. Iapun akhirnya mati akibat kehabisan darah, sementara nenek yang satu lagi hidup bahagia selamanya dangan sang raja. Benar-benar dongeng yang aneh.
Baik “Biancabella”, “The Myrtle Tree”, "Sun, Moon, and Talia" dan “Old Woman Who Was Skinned Alive” merupakan dongeng yang dikumpulkan Gaimbattista Basile dalam bukunya “Entertainment for the Young” pada 1634. Dilihat dari judulnya, sepertinya dongeng-dongeng mengerikan ini dimaksudkan untuk dibaca anak-anak.
6. The Robbers Brigdegroom

image
Judul dongeng ini berarti “Mempelai Si Perampok” dan merupakan “Texas Chainsaw Massacre” ala Eropa kuno. Alkisah seorang tukang giling menikahkan anak gadisnya dengan seorang pria yang tampak terpelajar dan terpandang. Suatu hari sang gadis datang ke rumah calon suaminya, namun disana ia bertemu dengan wanita tua (pembantu) yang mengatakan bahwa calon suaminya dan teman-temannya adalah kanibal. Ia kemudian menyembunyikan sang gadis di dalam lemari saat calon suaminya pulang bersama teman-temannya.
Ternyata mereka pulang dalam keadaan mabuk dan membawa serta seorang gadis yang tampak ketakutan dan memohon agar dilepaskan. Namun pria-pria itu justru menelanjangi dan memutilasi gadis itu (disaksikan sang tokoh utama). Mereka kemudian memasak daging gadis malang itu dan memakannya rame-rame. Kebetulan, sepotong jari gadis itu (dimana terdapat sebuah cincin emas melingkar) terjatuh tepat di depan tempat persembunyian sang tokoh utama. Iapun memungutnya dan menyembunyikannya. Setelah para pria kanibal itu tertidur karena mabuk, gadis itu segera kabur dan memberitahukan ayahnya tentang hal mengerikan itu sambil membawa jari itu sebagai bukti. Akhirnya semua pria kanibal itu dihukum gantung. Yang lebih membuat kita shock, cerita ini dikumpulkan oleh Grimm bersaudara dalam buku mereka “Children’s and Household Tales” pada 1812, artinya cerita ini dimaksudkan sebagai dongeng anak-anak.
7. The Elf of The Rose

image
Membaca dongeng sadis ini, kita takkan menyangka bahwa dongeng ini ditulis oleh Hans Christian Andersen yang terkenal dengan dongeng-dongeng anak-anaknya seperti Little Mermaid. Kisah ini bercerita tentang seorang pria yang dibunuh oleh saudaranya sendiri karena cinta segitiga. Lelaki jahat itu rupanya menginginkan gadis yang menjadi kekasih saudara yang ia bunuh itu. Ketika sedang mengubur saudaranya, setangkai daun kering jatuh di atas rambut pemuda itu. Ia tak sadar ada seorang peri yang bersembunyi di daun tersebut dan telah menyaksikan perbuatan jahat lelaki itu. Suatu malam, saat pemuda itu membungkuk ke arah kekasih saudaranya yang sedang tertidur, peri itu turun ke telinga gadis itu dan membisikkan bahwa kekasihnya telah dibunuh. Peri itu juga memberitahu dimana ia dikuburkan.
Sang gadis yang berduka kemudian menggali kuburan kekasihnya dan menemukan kepala kekasihnya yang terpenggal. Ia kemudian menciumnya dan membawanya pulang. Lebih aneh lagi, ia kemudian menyembunyikannya di dalam pot yang dtimbunnya dengan tanah dan menanaminya dengan sebatang tanaman melati di atasnya. Siang dan malam gadis itu terus menangis. Ketika bunga melati itu mekar, gadis itu terus menciuminya dan membuat saudara kekasihnya yang jahat cemburu.
Akhirnya sang gadis meninggal karena kesedihannya yang mendalam. Sebelum meninggal, sang peri membisikkan kata-kata indah untuk menenangkan jiwa gadis itu. Akhirnya gadis itu dan kekasihnya berkumpul kembali di surga. Sementara itu, sang saudara yang jahat membawa pot melati itu ke dalam kamarnya. Saat tertidur, sesosok roh muncul dari dalam bunga yang mekar dan membunuh saudara yang jahat itu.
8. The Juniper Tree

image
Lagi-lagi dongeng ini berasal dari buku “Children’s and Household Tales” karya Grimm Bersaudara, namun tetap saja ceritanya tidak patut untuk didengar anak-anak (kecuali anaknya Sumanto mungkin). Alkisah seorang ibu tiri sangat membenci anak tirinya. Ia berencana membunuh anak tirinya itu agar warisan suaminya jatuh pada anak kandungnya, yaitu seorang anak perempuan bernama Marlene. Ibu tiri itu kemudian menipu anak tirinya dengan menyuruhnya mengambil sebuah apel dari dalam peti. Ketika anak itu menjulurkan kepalanya ke dalam peti, ibu tiri itu kemudian menutupnya dengan keras sehingga kepala anak itu terpenggal.

Untuk menyembunyikan perbuatannya, ibu tiri itu menyatukan kepala anak itu ke badannya dan menyembunyikan lukanya dengan sapu tangan. Ia kemudian menyuruh anak perempuannya, Marlene untuk memanggil saudara tirinya yang sudah mati itu. Ibunya berpesan agar Marlene memukul telinganya apabila ia tak menjawab. Marlene pun memanggilnya dan ketika ia tak menjawab (karena sudah mati), Marlene lalu memukul anak itu hingga kepalanya terjatuh. Marlene histeris karena menyangka ia sudah membunuh saudaranya. Ibunya pun menghibur anak itu dan mengatakan pada anaknya bahwa untuk menyembunyikan perbuatannya, ibunya akan memotong-motong anak itu kecil-kecil dan memasaknya di dalam kompor.
Yang lebih mengerikan lagi, sang ibu tiri menghidangkan daging anak itu pada suaminya yang kemudian memakannya dengan lahap. Tragisnya, sang ayah justru mengatakan bahwa itu adalah makanan terenak yang pernah ia makan. Marlene yang ngeri melihat kejadian itu mengumpulkan sisa-sisa tulang saudaranya dan menguburnya di bawah pohon juniper (sejenis pohon cemara). Dari pohon itu muncul seekor burung yang menyanyi “Ibuku membunuhku, ayahku memakanku.” Pada akhirnya, sang ibu tiri itu mendapat hukuman dan terbunuh oleh burung itu.

gravatar

Si gendeng berkelakar




Si gendeng berkelakar :
"Orang yang kena ilmu pelet sampai gila sukar untuk disembuhkan karena jin penghuni orang tersebut biasanya berilmu tinggi".

"Orang gila secara medis memang tidak dianggap karena gangguan kejiwaan tetapi kalau diamati secara cermat sebenarnya hal itu tidak mutlak karena ada juga orang gila yang disebabkan oleh gangguan jin".

"Dalam pengamatan ilmu ghaib hampir semua orang gila empat saudara ghaibnya, yaitu saudara merah, kuning, putih dan hitam, agak kacau. Ada yang lepas dari badan fisik dan ada yang masih tetap tinggal di dalam tubuh. Empat saudara ghaibnya ini kalau menyatu menjadi badan astral atau sering disebut 'sukma'. Kekacauan pikiran sangat berpengaruh terhadap kesatuan empat saudara ghaib".

"Biasanya kalau salah satu saudara ghaib itu lepas dari tubuh, maka ada kemungkinan akan dimasuki bangsa jin rendah. Bangsa jin rendah banyak yang mencari kesempatan untuk mengganggu manusia. Mereka banyak menghuni pasar karena di pasar banyak dikunjungi manusia. Maka bila ada orang gila yang berkeliaran di pasar sangat susah disembuhkan. Hampir bisa dibilang tidak bisa disembuhkan".

Gendeng terdiam sejenak, lalu meminum kopinya yang tersisa dan berkomentar lagi :
"Orang yang sehat juga bisa menjadi gila bila diserang dengan ilmu ghaib seperti black magic. Orang gila demikian disebut 'gila dibuat orang'. Sudah barang tentu 'dukun' yang membuat dan orang yang menyuruh kelak akan menebus dosa-dosanya. Yang paling sukar disembuhkan adalah orang gila karena keturunan karena susunan urat syaraf dan organ-organ otaknya kemungkinan tidak normal atau pengaruh dari genetikanya. Setiap ada ketidakberesan organ-organ tersebut, maka keempat saudara ghaibnya ikut kacau. Bila sudah begitu, bangsa jin rendah yang ada disekitar orang tersebut akan memasuki tubuhnya dan orang yang bersangkutan disebut 'gila'". sembari tertawa gelak. 


"Orang yang kena ilmu pelet hingga sampai gila juga sukar untuk disembuhkan. Karena jin penghuni orang tersebut biasanya berilmu tinggi. Jadi orang yang akan mengobatinya harus memiliki ilmu diatas ilmunya bangsa jin tersebut. Biasanya orang yang kena pelet yang keluar dari tubuhnya adalah saudara ghaib yang kuning. Untuk mengobati orang gila memang tidak mudah, perlu dicari penyebabnya. Memang sebaiknya bagi penyembuh harus mempunyai dasar ilmu jiwa, agar dalam pemberian terapi pada pasien bisa dilakukan dengan baik".

Wajah si gendeng semakin terlihat serius.
Dilihat kopinya, ternyata sudah habis. lalu diletakkannya kembali gelas diatas meja itu, dan kembali ia bercerita :
"Setelah mengetahui latar belakang penyebab dia gila, gunakan ilmu trawangan untuk melihat berapa saudara ghaib yang keluar dan siapa yang berada ditubuhnya (bangsa jin atau 'roh' manusia). Buanglah dahulu jin atau 'roh' pengganggunya baru kemudian saudara ghaib yang keluar dari tubuh dicari dan dimasukkan kembali ke raga kemudian disatukan dengan yang lain. Ingat keempat saudara ghaibnya harus bisa menyatu. Bila perlu dikunci dengan jurus kuncian". dengan begaya tangannya seolah-olah mengapit.

"Awas jangan mudah tertipu makhluk ghaib. Karena banyak yang terkecoh pada bayangan saudara ghaib yang lepas dari tubuh ternyata hanya bayangan ciptaan jin saja. Untuk itu buka saja dengan jurus bukaan sewaktu melihat sesuatu yang mencurigakan. Bila dibuka dengan jurus bukaan tetap tidak berubah berarti itulah wujud aslinya. Banyak orang yang mengobati orang gila gagal lantaran tertipu dengan bayangan ghaib. Untuk itu harus jeli dan jangan menganggap mudah semua harus diperlakukan dengan hati-hati. Dalam mengobati orang gila jangan sekali-kali dikasar, apalagi disakiti. Sedapat mungkin mengambil simpati dia dengan penuh kesadaran dan kasih sayang".

"Setelah semua saudara ghaib menyatu ditubuh, pakailah ikhtiar lahir yang berupa daun dadap serep tujuh tangkai, ditumbuk sampai halus, masukkan energi tenaga dalam dan doa. Pakailah daun tadi sebagai bobok/pilis, usapkan di ubun-ubun, kedua telapak tangan, kedua telapak kaki dan pusar. Berilah petuah-petuah atau nasehat pada pasien agar tidak perlu berpikir yang bukan-bukan dan tidak perlu takut pada lingkungan. Beri kesibukan yang sehat dan jangan dibiarkan dia melamun".

Setelah lama si gendeng duduk dikursi, ia berdiri dan berjalan melangkah kearah pintu. lalu ia mendekapkan kedua tangannya erat kedalam ketiaknya. dan ia bercerita :

"Di salah satu desa di Magetan. Ada seorang gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA menderita gila. Gadis tadi kena pelet ilmu pengasihan sehingga di sekolahan sering tertawa dan menangis sendiri. Akhirnya dengan gurunya diantarkan pulang. Banyak teman-temannya yang merasa kasihan. Oleh orang tuanya gadis tadi langsung dibawa ke RSJ Surakarta. Hanya satu minggu disana terus dibawa pulang karena tidak ada perubahan. Sesampai di rumah dicarikan dukun tetapi juga tetap tidak ada perubahan. Anak tersebut kerjanya sehari-hari hanya menangis, tertawa atau menimang-nimang suatu benda yang dianggap kekasihnya. Kalau ada seorang pemuda yang mendekat, maka pemuda tersebut langsung dirangkul. Busananya terkadang dibuang semuanya. Rasa malu sudah tidak dimilikinya...."
..........
"kasihan!!". dengan nada yang berat.


"Suatu kebetulan salah satu keluarganya yaitu adiknya gadis yang gila tadi masuk ke Perguruan 'Cakra Buana' Magetan. Mendengar dari penuturan adiknya saya mengajak tiga orang warga Cakra Buana mengunjungi rumah orang sakit ingatan tersebut. Setelah saya analisis ternyata saudara ghaibnya yang lepas dari tubuhnya ada dua yaitu saudara kuning dan putih. Gantinya didalam adalah makhluk jin yang semula pura-pura menjadi saudara ghaib yang keluar. Dari pengalaman saya tidak bisa dikelabuhi. Setelah saya buka dengan tenaga dalam wujud aslinya nampak yaitu jin rendah tetapi cukup sakti. Pantas saja beberapa dukun bisa dikelabuhi. ehm..." sembari tangan kanannya meremas-remas dagu.

"Jin tadi saya suruh keluar dari tubuh gadis tadi tetapi tidak mau, lalu saya hantam dengan tenaga dalam ternyata tidak apa-apa". 
dengan nada bersemangat.
"Saya coba pukul dengan Rajah Kalacakra hanya mengaduh sebentar. Akhirnya terpaksa saya gunakan ilmu gabungan. Ilmu tersebut adalah gabungan Inti Rajah Cakra, Inti Bumi, Inti Matahari, Inti Sinar Pelangi dan Rajah Bulan Bintang. Saya sedot napas dalam-dalam satu kali, syuuuuuppsssss...., lalu berkonsentrasi menyatukan beberapa ilmu tadi, terus menghantam dada jin tadi hingga hancur terbakar."
Gendeng tersenyum bangga.

"Setelah saya bersihkan semua kabut hitam yang berada di tubuh gadis tersebut, saya bersemedi mencari dua saudara ghaib gadis tadi yang keluar. Yang saya cari ternyata berada di rumah dukun ilmu hitam yang melontarkan ilmu pelet atas suruhan seorang pemuda yang pernah dikecewakan gadis tadi".
dengan memperagakannya sigendeng duduk bersila.
 
"Dengan jurus bukaan, saya buka ikatan tali ghaib yang mengikat saudara ghaib gadis tadi . Kemudian saya tarik dan masukkan ke tubuh gadis tadi, saya satukan dengan yang lainnya seperti semula. Akhirnya berangsur-angsur gadis tersebut sehat seperti sediakala.." katanya.

"Akhirnya....ahhggg!!". mengambil napas panjang.
"Saya tinggal dulu, saya mau ke WC". gendeng pergi dengan terburu-buru.



NOTE: You are welcome to share my Story with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

POSITIVE MIND SET




Thomas Alfa Edison gagal--ratusan, bahkan ribuan kali gagal. Tetapi dia bukanlah orang yang mudah menyerah. Tiap kali gagal, dia bangkit dan mencoba lagi.

Ketika sekolah, dia gagal. Terlalu banyak berimajinasi dan duduk di belakang kelas, dia tak menggubris para guru yang mengajar.

Ketika mulai menjadi penemu, dia gagal. Ribuan bahan filamen harus dia coba-- ribuan kegagalan.

Ketika dia ditanya, mengapa begitu keras kepala, jawabannya: "Sukses saya baru datang ketika kegagalan telah habis.

dan uniknya, saat ia berhasil menemukan lampu yg menyala, namanya masuk dalamHEADLINE koran, yg bunyinya :

"Setelah 9.955 kali GAGAL menemukan lampu, akhirnya edison berhasil menemukan lampu yg menyala"

lucu nya, Edison MARAH dengan bunyi Headline tsb, ia mendatangi redaksi Koran tsb dan minta bunyi Headline nya diganti..

Akhirnya, besoknya koran itu mengganti headline nya menjadi :
"Setelah 9.955 kali BERHASIL menemukan lampu yg 'Gagal Menyala' , akhirnya Edison berhasil menemukan lampu yang menyala"



 NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Mengapa saya?




Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penngemarnya menulis surat kepadanya,"Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"

Ashe menjawab,"Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis,

diantaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis,

500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,

50 ribu datang ke arena untuk bertanding,

5000 mencapai turnamen grandslam,

50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,

empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.

Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,

"Mengapa saya?", Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,

"Mengapa saya?"

Ketika menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat - saat ketika kita menerima yang baik...






NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

 

gravatar

Iman







Smitty adalah seorang petani yang keras kepala. Pada suatu ketika, terjadi banjir, lalu dia naik sampai ke atap rumahnnya.
Sebuah sekoci menghampirinya tetapi Smitty berkata, "Terima kasih. Saya percaya kepada Tuhan. Ia akan menyelamatkan saya".
Gelombang banjir makin besar sehingga Smitty harus memanjat sampai ke puncak atap rumahnya agar selamat. Sebuah sekoci lain kembali menghampiri tetapi Smitty tetap berkeras untuk tidak ikut sambil menunggu penyelamatan Tuhan. Kemudian genangan air mulai membasahi kakinya... sebuah helikopter menghampiri untuk menyelamatkannya. Smitty tetap berkeras menunggu datangnya peyelamatan dari Tuhan.
Anda tentu dapat membayangkan apa yang terjadi kemudian... Smitty mati tenggelam...
 

Ketika Smitty berhadapan dengan Tuhan di alam baka, ia mengeluh, "Tuhan, saya percaya penuh kepadaMu... mengapa Engkau tidak menyelamatkanku ?!"
Tuhan menjawab, "Pertolongan apa lagi yang kauharapkan? Aku sudah mengirimkan DUA sekoci dan SATU helikopter".
 



NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Senyum, Harta Termahal




Ia tersenyum pada lelaki tak dikenal yang murung itu.
Senyum itu tampaknya membuat perasaannya lebih baik.
Lelaki itu teringat kebaikan seorang temannya dulu dan menyuratinya untuk berterima kasih.
Temannya sangat senang menerima surat itu sehingga ia meninggalkan tip besar saat makan siang.
Si pelayan, terkejut melihat jumlah tip itu, mempertaruhkan semuanya mengikuti firasatnya.
Besoknya ia mengambil uang yang dimenangkannya, dan memberikan sebagian pada lelaki di jalan.
Lelaki di jalan itu merasa bersyukur; karena sudah dua hari ia tak makan.
Setelah ia selesai makan, ia pulang ke kamarnya yang sempit dan kumuh. (Ia tak tahu pada waktu itu bahwa ia mungkin akan menemui ajal).

Dalam perjalanan ia memungut anak anjing yang kedinginan dan membawanya ke rumah supaya hangat.
Anak anjing itu sangat bersyukur tak lagi di luar didera badai.
Malamnya rumah itu terbakar.
Anak anjing itu menggonggong memberi peringatan.
Ia menggonggong hingga seluruh isi rumah terbangun dan menyelamatkan semua orang dari bahaya.
Salah satu anak yang diselamatkannya tumbuh dewasa menjadi Presiden.
Semua ini karena sebuah senyum yang tak membutuhkan uang satu sen pun.








NOTE: You are welcome to share my words with others – please credit “dithelen” with a link to my website.  Thanks!

gravatar

Langit Makin Mendung

Cerpen: Kipandjikusmin




LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”

“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).

***

Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”

Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.

Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.

“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”

“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.

Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.

Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.

Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”

Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.

Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.

Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”

“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh. Gilakah mereka?”

“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”

“Aneh!”

“Memang aneh.”

“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya padukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu!”

“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.

“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”

Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.

Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:

“Amien, amien, amien.”

Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.

Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

***

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.

Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.

Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.

Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.

“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”

“Tidak, Pak.”

“Jadi tidak berbahaya?”

“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”

“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.

Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.

“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgasananya tersenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”

Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).

Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.

Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.

“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.

Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik.

“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.

“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.

Siapa bilang Bapak dari Blitar

Bapak ini dari Prambanan

Siapa bilang rakyat-

Malaysia yang kelaparan …!

“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.

“Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.

“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.

Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.

Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.

Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

***

Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.

Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.

“Apa benar yang paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dan pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.

Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.

Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.

Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.

Hansip repot-repot …

“Apa yang Paduka renungi.”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.

“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”

“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”

“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”

“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.

“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”

“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”

“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Naikkan tarifmu dua kali

dan mereka akan kelabakan

mogoklah satu bulan

dan mereka akan puyeng

lalu mereka akan berzina

dengan istri saudaranya

“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.

Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.

Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”

“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal Kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang terbang di gelap malam.

“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.

“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”

“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”

“Sebetulnya siapa menurut kamu?”

“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”

“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”

“Dokumen.”

“Dokumen?”

“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”

“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”

“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”

“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.

Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.

“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.

“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.

Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!

“Apa kabar Yang Mulia Togog?”

“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”

“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”

“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.

“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”

“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”

“Jadi kapan selesai?”

“Seminggu lagi, pasti beres.”

“Kenapa begitu lama?”

“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”

“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”

“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.

Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.

“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”

“Siapa mereka?”

“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.

Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.

“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”

***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.

“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.

“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”

“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”

“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”

“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”

“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”

“Apa katanya?”

“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”

“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.

“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”

“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”

“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”

“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”

“Kenapa begitu?”

“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRC lainnya mengancam kita!”

“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.

“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.

Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.

“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”

“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.

“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”

“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”

“Gimana ini, Togog?”

“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.

“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.

“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”

“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”

“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”

“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”

“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.

“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.

“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”

“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”

“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”

PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.

“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”

“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”

“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”

“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”

“Yani ragu-ragu?”

“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”

“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”

“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”

“Bagaimana itu?”

“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”

Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.

Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.

“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”

Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.

Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.

Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.

Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.

“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”

“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”

“Pak Yani, tentu.”

“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”

“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.

“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”

“Dia nggak takut mati?”

“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.

Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.

***

Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.

Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.

Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.

“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”

“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”

Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.

Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.

Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***

(Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 17-41, 2004, MELIBAS: Jakarta).
dapatkan buku lainnya Kipandjikusmin :
"Hujan Mulai Rintik”, “Domba Kain”, atau “Bintang Maut”